BERANDA » KECANTIKAN » Perubahan tubuh wanita setelah melahirkan

Perubahan tubuh wanita setelah melahirkan

| LuviZhea Chandra

Pasca melahirkanTubuh wanita memang diciptakan sangat luar biasa. Selama proses kehamilan, rahim ibu dapat mengembang sampai 500 kali lipat dari ukuran normal untuk menampung kandungannya, dan perut juga akan ikut membesar menyesuaikan pertumbuhan dan perkembangan janin yang ibu kandung.

Ketika melahirkan, vagina (jalan lahir) juga dapat “menyesuaikan” agar janin dapat dikeluarkan dari dalam rahim. Dan saat proses melahirkan ini, tubuh ibu juga dapat menahan rasa sakit hingga 57 Del atau sama dengan rasa sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan.

Selama kurang lebih 9 bulan masa kehamilan tersebut, ibu juga mengalami beberapa keluhan saat hamil yang tentunya membuat rasa tidak nyaman. Belum lagi 3 bulan pasca melahirkan tersebut biasanya ibu juga masih harus menahan rasa sakit atau rasa tidak nyaman akibat masa nifas dan bekas Episiotomi ataupun bekas Caesar ketika melahirkan.

Bahkan selama kehamilan dan pasca melahirkan (masa menyusui), payudara juga akan semakin berisi (kencang) dan dapat memproduksi ASI untuk memenuhi kebutuhan bayi yang ibu lahirkan.

Dari semua proses tersebut (selama proses kehamilan, persalinan, dan menyusui) yang telah dilalui, tubuh ibu memang dapat kembali lagi seperti sediakala. Hanya saja itu membutuhkan proses (waktu) dan tidak dapat kembali lagi 100 persen seperti semula. Maka dari itu sebagian besar wanita yang melahirkan untuk pertama kali harus merelakan beberapa perubahan pada bagian tubuh mereka, tidak seperti dahulu lagi seperti sebelum mempunyai anak.

Lalu, apa saja perubahan yang sering dialami oleh ibu pasca kehamilan? dan bagaimana cara mengembalikan ke kondisi (bentuk) seperti semula? Berikut Luvizhea.com akan membahasnya untuk Anda.

Perubahan vagina pasca melahirkan

Ketika seorang wanita hamil dan melahirkan, secara tidak langsung dapat mempengaruhi kondisi dan perubahan bentuk Miss V (vagina). Perubahan bentuk dan kondisi itu bisa terjadi karena persalinan normal maupun karena pengaruh perubahan hormon dalam tubuh selama proses kehamilan maupun pasca melahirkan.

Berikut beberapa perubahan pada vagina yang sering dikeluhkan oleh para ibu pasca melahirkan:

Vagina terasa longgar

Pasca melahirkan normal, ibu mungkin merasakan perubahan pada vagina seperti terasa lebih lebar dan lebih sensitif. Hal ini sebenarnya sesuatu yang normal, bahkan kondisi memar atau bengkak mungkin juga akan mengikuti perubahan tersebut sesaat setelah melahirkan. Berbeda saat ibu melahirkan secara Caesar, bentuk vagina memang akan tetap sama, namun terkadang terasa lebih lembab akibat perubahan hormon.

Vagina memang diciptakan bersifat elastis dan dapat meregang karena selain untuk mengakomodasi penis pada saat melakukan hubungan intim, juga untuk mengakomodasi keluarnya bayi pada saat persalinan. Maka dari itu, rata-rata vagina saat proses persalinan berlangsung dapat meregang sampai 10 cm (pembukaan10), agar bayi bisa melewatinya. Hal ini merupakan proses alami pengaruh dari relaksasi otot-otot dasar panggul yang membuat otot-otot ini kehilangan kekuatannya karena hormon Relaksin yang meningkat menjelang masa persalinan.

Setelah melahirkan normal, elastisitas vagina memang berkurang. Namun beberapa hari kemudian, vagina akan mengalami pemulihan. Ukuran vagina akan kembali “mengecil” serta otot disekitar vagina dan panggul juga akan mengencang kembali, meski tidak akan sepenuhnya kembali ke bentuk semula seperti pada saat ibu masih perawan.

Namun selain dari itu, seberapa lebar vagina pasca melahirkan juga bisa tergantung pada beberapa faktor, termasuk gen bawaan, ukuran janin, berapa lama ibu mengejan, berapa kali ibu telah melahirkan, dan apakah peregangan saat persalinan dibantu dengan forcep (alat untuk membantu mengeluarkan bayi) atau tidak.

Lalu bagaimana agar vagina yang terasa longgar pasca melahirkan bisa kembali seperti semula?

Hal yang paling mudah yang bisa ibu lakukan kapan saja dan dimana saja adalah senam kegel. Teknik senam Kegel adalah mengkontraksikan otot seperti menahan kencing selama 5 detik, kemudian kendurkan. Terus ulangi latihan tersebut setidaknya lima kali berturut-turut dengan meningkatkan lama waktu menahan kencing 15-20 detik. Lakukan secara bertahap, bila merasa otot-ototnya sudah lebih kuat, maka secara bertahap dapat meningkatkan jumlah Kegel yang dilakukan setiap hari.

Bila dilakukan secara teratur, maka bisa membantu pengencangan terhadap perineum serta membantu mengembalikan kekuatan otot-otot yang mengelilingi pembukaan vagina, uretra dan anus. Selain meningkatkan kekuatan otot dan mengecangkan dinding vagina, latihan Kegel juga bisa membantu mencegah inkontinensia di kemudian hari. Dan ingat, hindari gerakan olahraga yang berlebihan dan terutama mengangkat beban berat.

Selain senam Kegel, tindakan alternatif yang bisa ibu lakukan untuk mengembalikan kondisi vagina kembali seperti semula bisa dilakukan dengan prosedur Fisioterapi dengan Vaginal Cone, Stimulasi listrik (NMES / Neuromuscular Electrical Stimulation), dan tindakan operatif seperti Vaginoplasty (perbaikan otot, hampir seperti bedah kosmetik).

Bila diperlukan, ibu juga dapat mendiskusikan masalah ini dengan seorang seksolog, mengingat seks bukan hanya masalah anatomi tubuh, tetapi lebih ke masalah emosional.

Muncul keluhan pada bekas Episiotomi

Saat ibu melahirkan normal dan mendapat tindakan Episiotomi, maka keluhan yang sering muncul adalah timbulnya pebengkakan atau benjolan warna merah, muncul Scar (jaringan parut bekas luka) atau bahkan muncul Keloid yang bersifat menetap disekitar bekas jahitan Episiotomi tersebut.

Untuk benjolan atau pembengkakan yang terjadi merupakan reaksi perlawanan tubuh terhadap kuman. Sehingga dalam proses penyembuhan luka, terkadang memang terjadi sedikit pembengkakan dan kemerahan. Asalkan jahitan luka tetap bersih, ibu juga tidak perlu cemas, karena bengkak dan merah ini juga bersifat sementara, dan akan mengempes dengan sendirinya.

Sedangkan Hypertrophic scar dan Keloid akan lebih sulit dihilangkan. Terutama bagi ibu yang memiliki bakat Keloid. Untuk menghilangkan Keloid bisa menggunakan suntikan Kortikosteroid, Interferon, Terapi laser dan tindakan bedah kombinasi Pressure Dressing dan tindakan lainnya sesuai kondisi yang ada.

Bukan hanya itu saja, tindakan Episiotomi ini biasanya akan menimbulkan rasa nyeri yang berkepanjangan pada bekas jahitan vagina. Memang jahitan akan mengering dalam waktu 1-2 minggu dan akan sembuh total 3-6 bulan, namun pemulihan saraf yang terputus saat dilakukan “pengguntingan episiotomi” bisa membutuhkan waktu lebih lama. Cara mengatasi nyeri tersebut, ibu bisa berendam air hangat atau mengkonsumsi obat pereda rasa nyeri. Dan cepat atau lambat rasa nyeri tersebut akan hilang dengan sendirinya. Hanya saja proses penyembuhan tiap wanita berbeda-beda.

Baca juga: Menyembuhkan bekas jahitan saat melahirkan normal.

Tidak bisa menahan Buang Air Kecil (inkontinensia)

Lebih dari 40 persen wanita akan mengalami inkontinensia post-partum (tidak mampu menahan Buang Air Kecil setelah melahirkan). Hal itu terjadi lantaran saraf pada vagina mengalami mati rasa. Tidak hanya melahirkan normal, wanita yang melahirkan melalui operasi Caesar juga bisa mengalami hal ini.

Gejala yang mungkin timbul adalah seringkali ada sedikit urin yang keluar, terutama ketika ibu tertawa, batuk, atau bersin. Namun jangan khawatir, masalah ini bisa menghilang dalam beberapa minggu setelah melahirkan.

Untuk mencegah dan mengatasi inkontinensia, ibu disarankan untuk melatih otot dasar panggul secara rutin tiap hari yaitu dengan senam Kegel yang telah Luvizhea.com sebutkan pada poin diatas.

Peranakan turun “Prolapsus Uteri”

Kadang-kadang tekanan saat mengejan dalam proses persalinan normal bisa menyebabkan peranakan turun. Artinya, satu atau lebih dari organ-organ panggul (seperti rahim, kantung kemih, atau dubur) turun ke arah vagina. Hal ini sebenarnya jarang terjadi, hanya pada sekitar 10 persen wanita.

Resiko ini akan semakin meningkat pada ibu yang melahirkan normal hingga berkali-kali, melahirkan bayi dengan janin besar sekitar 4 kg atau lebih, riwayat persalinan dengan bantuan alat seperti forcep atau vakum sehingga menimbulkan robekan pada jalan lahir, atau bisa juga karena jahitan Episiotomi yang terbuka dan tidak dijahit kembali.

Untuk mengatasi masalah ini ibu bisa mengunjungi Dokter untuk dirujuk pada ahli Fisioterapi panggul, dan melakukan senam Kegel untuk memperkuat otot panggul agar Uteri dan organ panggul lainnya tetap pada posisinya. Selengkapnya silahkan baca pada: Mengatasi Peranakan Turun “Prolapsus Uteri”

Vagina kering dan libido rendah

Setelah bayi lahir, waktu ibu akan terfokus untuk merawat bayi siang dan malam, hingga waktu istirahat (tidur) untuk ibu sendiri terabaikan. Selain itu pada masa menyusui ini kadar hormon Estrogen menurun dan hormon prolaktin meningkat sehingga tubuh mulai memproduksi ASI.

Namun tahukah ibu bahwa beberapa hal tersebut justru merupakan alasan mengapa kondisi vagina setelah melahirkan menjadi kering dan libido menjadi rendah. Semakin lama ibu menyusui, semakin rendah kadar Estrogen maupun Libido, sehingga ibu tidak tertarik melakukan hubungan seks pasca melahirkan.

Dalam kondisi seperti ini, ibu tetap perlu memerhatikan kebutuhan biologis suami yang telah sekian lama “puasa” selama masa nifas berlangsung. Gunakan cairan lubrikasi (pelicin) bila vagina yang kering menyebabkan hubungan seks terasa nyeri. Berikan pengertian pada pasangan untuk tidak terburu-buru, lakukan “pemanasan” terlebih dahulu untuk merangsang keluarnya lubrikasi lebih banyak.

Perubahan perut pasca melahirkan

Perut buncitSeperti yang kita ketahui, tubuh seorang wanita akan mengalami perubahan secara drastis ketika wanita tersebut sedang hamil. Hal ini tentu wajar mengingat janin yang dikandung oleh seorang wanita dari hari ke hari semakin berkembang, sehingga membuat perut ibu tampak semakin membesar yang diikuti dengan meningkatnya berat badan ibu selama masa kehamilan tersebut.

Tetapi yang menjadi masalahnya adalah sulitnya mengembalikan bentuk tubuh kembali seperti semula pasca melahirkan, terutama pada bagian perut, karena bagian perut tersebut mengalami perubahan paling besar. Sehingga banyak yang mengambil jalan pintas untuk melalukan Sedot lemak dan tummy tuck pasca melahirkan untuk mendapatkan perut ideal pasca melahirkan secara cepat.

Berikut beberapa perubahan pada perut yang sering dikeluhkan oleh para ibu pasca melahirkan:

Perut tetap besar dan terlihat kendur

Mungkin ibu akan berharap perut akan segera kembali ke ukuran normal setelah melahirkan. Tapi itu membutuhkan waktu sekitar 1,5-2 bulan sebelum rahim kembali ke ukuran sebelum hamil.

Walaupun perut wanita bersifat elastis, dengan kata lain perut itu seperti balon bisa membesar dan bisa mengecil kembali. Tetapi apabila ditiup terus, walaupun mengempes balon tersebut akan mengendur dan tidak bisa kencang kembali seperti ketika masih baru. Jadi begitu halnya dengan perut ibu pasca kehamilan, walaupun perut bisa mengecil kembali namun biasanya tetap sedikit “menggelambir” atau kendur.

Bila ibu ingin mengembalikannya sama seperti semula, maka dibutuhkan usaha agar perut kembali ideal (rata dan kencang). Berikut beberapa cara mengecilkan dan mengencangkan otot perut pasca melahirkan, diantaranya adalah dengan: Menyusui bayi, mengatur pola makan dan banyak minum air putih, serta lakukan olahraga yang berfokus pada otot perut, seperti sit up atau gerakan yoga yang dapat membantu mengembalikan kondisi perut kembali seperti semula. Ibu bisa meng konsultasikan dengan Dokter Anda untuk mencari tahu pola makan dan gerakan olahraga yang disarankan terutama bila ibu melahirkan secara Caesar.

Penjelasan selengkapnya silahkan baca pada artikel: Mengecilkan dan mengencangkan otot perut pasca melahirkan.

Muncul Stretch Mark pada perut

Ibu hamil sangat rentan terkena Stretch Mark karena kulit mengalami peregangan selama masa kehamilan. Biasanya Stretch Mark akan mulai timbul saat ibu mengandung di usia 4-5 bulan, dan timbulnya Stretch Mark ini disertai oleh rasa gatal ketika hamil. Stretch Mark normalnya akan hilang sendiri, awalnya Stretch Mark saat hamil berwarna kemerahan yang memanjang dengan pola yang tidak beraturan. Stretch mark terjadi karena peregangan kulit, sedangkan jaringan elastis pada bawah kulit robek akibat peregangan tersebut, makanya muncul guratan yang tidak beraturan.

Setelah melahirkan guratan Strertch Mark tersebut biasanya akan berubah, berwarna seperti perak, selanjutnya makin samar dan menyatu dengan warna kulit Anda, meski tidak benar-benar hilang. Bila guratan tersebut lebih dalam, maka Stretch Mark tersebut dapat bersifat permanen sehingga lebih sulit dihilangkan dan tampak lebih jelas sehingga mengganggu estetika (keindahan) perut ibu.

Maka dari itu tindakan pencegahan saat hamil penting untuk dilakukan dengan cara menjaga kelembaban dan keelastisitasan kulit perut, salah satunya dengan minyak zaitun atau banyak minum air putih. Dan jangan menggaruk-garuk perut ibu ketika terasa gatal akibat peregangan kulit, karena hal tersebut dapat memperburuk kondisi Stretch Mark yang muncul.

Setelah melahirkan ibu dapat memudarkan guratan Strecth Mark ini dengan cara alami seperti: Menggunakan lemon, wortel atau lidah buaya atau melakukan metode yang lebih cepat dan efektif dalam menghilangkan Stretch Mark seperti metode laser, mikrodemabrasi dan operasi plastik. Selengkapnya silahkan baca pada artikel: Mencegah dan mengatasi Stretch Mark saat hamil dan pasca melahirkan.

Muncul bekas Keloid pada bekas operasi Caesar

Selain guratan Stretch Mark yang timbul akibat peregangan perut, pada persalinan dengan metode Caesar juga akan meninggalkan bekas sayatan dan luka parut yang lumayan besar dan panjang yang disebut dengan Hypertrophic Scar, dan pada beberapa kasus bisa juga berkembang menjadi Keloid.

Hypertrophic Scar dan Keloid, kedua hal tersebut sama-sama merusak estetika (keindahan) perut ibu pasca melahirkan dengan Operasi Caesar. Ini yang membuat kepercayaan diri ibu berkurang dan membuat ibu merasa risih akan perubahan tubuh yang dialami ibu pasca melahirkan.

Keloid ini sebenarnya tidak ganas, tidak berbahaya serta tidak menular, hanya saja terkadang terdapat gejala gatal, nyeri serta mengalami perubahan bentuk (misalnya akan semakin menebal bila terjadi gesekan pada area tersebut). Pada kasus yang lebih parah, dapat mengganggu (menghambat) pergerakan dari kulit yang mengalami Keloid.

Umumnya, ibu yang tidak memiliki bakat Keloid tidak perlu khawatir dengan bekas luka pasca Operasi Caesar ini, karena luka akan hilang dan hanya meninggalkan bekas berupa warna yang berbeda pada bekas jahitan luka tersebut, bisa hanya berupa garis-garis kehitaman atau berupa Scar putih. Namun bila ibu memiliki bakat Keloid, maka timbulnya Keloid ini akan tetap terjadi tanpa dapat dicegah.

Bagaimana bila Keloid ini muncul, apa yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan Keloid di perut pasca operasi Caesar? Yang bisa dilakukan dalam menghilangkan Keloid pada bekas jahitan Caesar adalah dengan memberikan Suntikan Cortisone (Kortikosteroid), Penggunaan metode Laser, Bedah Operasi kombinasi, Penggunaan plester yang berisi gel Silikon, Interferon, dan Cryo therapy. Keterangan lebih lanjut silahkan baca pada: Cara mencegah dan menghilangkan Keloid akibat Caesar.

Perubahan payudara pasca melahirkan

Payudara kendur di usia mudaPasca ibu melahirkan dan mempunyai anak, bagian tubuh lainnya yang mengalami perubahan sifnifikan adalah payudara.

Banyak yang mengharapkan dapat memiliki bentuk payudara yang besar setelah melahirkan dan menyusui. Namun pada kenyataannya, tidak jarang yang mengalami bentuk payudara yang kendur dan juga lebih kecil setelah melahirkan dan menyusui.

Berikut beberapa perubahan pada payudara yang sering dikeluhkan oleh para ibu pasca melahirkan:

Payudara terasa kencang setelah melahirkan

1-2 hari pasca melahirkan ada kemungkinan payudara ibu akan tampak memerah, bengkak, terasa sakit (nyeri) dan penuh. Pada hari ke 3-4, setelah bengkak berkurang, payudara akan tampak mengendur. Payudara Anda juga akan memproduksi banyak ASI (Air Susu Ibu) selama beberapa minggu ke depan, sehingga sebagian besar ibu akan mengalami kebocoran pada pakaian yang dikenakan.

Cara sederhana mengatasinya adalah dengan menyusui. Bila ibu tidak menyusui maka perah ASI, namun jangan sampai kosong. Hal ini dikarenakan secara alami saat payudara kosong, tubuh akan memproduksi kembali. Selain itu, ibu dapat melakukan kompres dingin untuk meredakan rasa nyeri. Bila nyeri berlanjut selama beberapa hari, sebaiknya konsultasikan konsultasikan kepada Dokter, bisa jadi hal itu merupakan gejala penyakit lain, misalnya infeksi atau radang payudara. Selengkapnya silahkan baca pada: Mengatasi Radang Payudara saat masa menyusui.

Payudara menjadi kendur setelah masa menyusui

Perubahan bentuk payudara saat masa menyusui yang semakin berisi mungkin tidak akan menajadi masalah buat ibu, karena ibu akan tampak lebih seksi. Namun perubahan pasca ibu menyusui yang terkandang membuat ibu menjadi kurang percayadiri, karena payudara menjadi kendur dan turun.

Bagaimana mengencangkan payudara yang kendur akibat menyusui?

Banyak cara yang bisa ibu lakukan untuk memperbesar dan mengencangkan payudara yang kendur akibat menyusui, baik secara medis (instan) maupun non medis (alami).

Metode instan dalam mengencangkan dan membesarkan payudara yang kendur adalah dengan metode operasi plastik (Mastopexy), implant, Lypo-Filling atau cara medis lainnya yang direkomendasikan. Tentu saja cara ini selain mahal, juga bukannya tanpa resiko.

Perawatan payudara secara alami dapat menjadi pilihan yang menarik dan aman untuk dilakukan. Asalkan dilakukan secara rutin tentu saja hasilnya akan semakin maksimal. Berepa cara yang bisa ibu lakukan adalah dengan melakukan pemijatan, menggunakan masker khusus, mengatur pola makan seperti mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung Vitamin A, C dan E karena vitamin tersebut bermanfaat dalam memelihara kulit dan meningkatkan produksi kolagen sehingga dapat mengencangkan kulit yang kendur.

Mengencangkan payudara kendur ini bisa juga dilakukan dengan latihan (olahraga) yang fokus pada jaringan payudara dan otot di sekitar dada seperti Push Up, berenang, dan Chest Press and Pulls. Selengkapnya silahkan baca pada: Mengencangkan payudara kendur pasca menyusui.

Kaki bengkak pasca melahirkan

Edema PostpartumPembengkakan kaki yang disebut edema ini tergolong normal dan umumnya akan mereda dengan sendirinya, dalam waktu kurang lebih 10 hari sejak masa persalinan. Pembengkakan tersebut bisa saja merupakan lanjutan dari kondisi yang sudah ada sebelumnya (terutama ketika hamil tua), atau bisa jadi ibu baru mengalaminya selepas masa persalinan.

Namun demikian bagian tubuh yang mengalami pembengkakan ini bukan hanya terjadi pada daerah kaki saja, melainkan bisa seluruh tubuh (terutama pada bagian wajah serta tangan), atau orang jawa menyebutnya dengan istilah “Sembab”.

Penyebabnya bisa karena produksi cairan yang berlebih dan faktor hormonal selama masa kehamilan, bisa karena tekanan akibat pembesaran rahim saat trimester akhir kehamilan, bisa karena akibat dari proses persalinan yang dilakukan (misalnya harus mengejan saat melahirkan normal dan karena suplai cairan dari Infus selama proses persalinan berlangsung), atau bisa karena Komplikasi penyakit saat masa kehamilan dan persalinan seperti Pre-Eklampsia, dan lain sebagainya.

Untuk mengatasi Edema (Kaki bengkak) setelah melahirkan ini bisa dilakukan dengan cara:

  • Mengatur pola makan pasca melahirkan, terutama menghindari makanan asin atau makanan yang mengandung Natrium Klorida (NaCl) dan Sodium karbonat, termasuk penyedap masakan yang sering ibu gunakan seperti MSG (Monosodium Glutamat).
  • Minum air putih minimal 8 gelas sehari, untuk memperlancar proses metabolisme dalam tubuh.
  • Mengatur posisi kaki yang benar, jangan menyilang dan jangan menggantung karena dapat menghambat sirkulasi darah dan memperparah kondisi pembengkakan.
  • Merendam kaki dengan air hanyat yang dicampur garam.
  • Jangan menahan hasrat ingin Buang Air Kecil (BAK).
  • Melakukan olahraga ringan untuk meningkatkan sirkulasi darah seperti yoga dan berjalan-jalan santai di sekitar rumah.

Selengkapnya silahkan baca pada: Mengatasi kaki bengkak setelah melahirkan (Edema Postpartum).

Rambut rontok pasca melahirkan

Rambut rontokHormon estrogen memperpanjang fase pertumbuhan rambut, sehingga rambut terasa lebih tebal ketika hamil. Setelah persalinan, hormon kembali normal dan fase pertumbuhan rambut akan kembali lagi, ditandai dengan terjadinya kerontokan.

Sebagian besar wanita hamil akan merasakan rambut yang lebih tebal dan bercahaya akibat meningkatnya hormon estrogen selama masa kehamilan. Dan hormon estrogen memperpanjang fase pertumbuhan rambut. Sayangnya setelah melahirkan, fase pertumbuhan rambut akan kembali. Tubuh secara alami akan melepaskan kelebihan helai rambut yang diperoleh selama kehamilan, inilah yang membuat seolah ibu mengalami kerontokan rambut parah. Mengapa bisa demikian? Karena setelah melahirkan terjadi penurunan hormon (Estrogen) yang drastis.

Karena penyebab kerontokan rambut pasca melahirkan adalah terjadinya perubahan hormon, maka hal ini tidak mungkin dihindari dan dihentikan. Namun jangan khawatir, masalah rambut rontok pasca persalinan dan menyusui tidak akan membuat kebotakan pada rambut. Biasanya ini terjadi hanya sekitar 3-4 bulan setelah melahirkan, dan rambut akan kembali normal dalam jangka waktu 6-12 bulan.

Yang bisa ibu lakukan untuk meminimalisir dampak kerontokan pasca melahirkan adalah dengan:

  • Menjaga kebersihan rambut dengan rutin keramas.
  • Melakukan pemijatan kulit kepala setiap pagi selama 1-2 menit sebelum keramas, dan juga menerapkan Stimulant Scalp Mask, untuk mendorong pertumbuhan rambut kembali lebih cepat.
  • Memotong rambut, karena rambut panjang cenderung mudah rontok dan dan sulit ditata.
  • Mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, asam lemak esensial, vitamin B12 dan zat besi seperti kacang-kacangan, alpukat, bayam, daging merah, ikan, keju telur dan lainnya. Karena makanan tersebut dapat membantu untuk mengatasi masalah rambut rontok pada ibu menyusui. Baca juga: Pantangan dan makanan yang disarankan pasca melahirkan.
  • Hindari stres saat merawat bayi dan menyusui, karena stres ternyata dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan rambut menjadi rapuh dan mudah rontok. Cobalah untuk rileks dan menikmati setiap perubahan yang terjadi pada diri ibu pasca melahirkan agar proses menyusui lancar dan rambut tidak rontok.

Baca juga: Cara ampuh mengatasi rambut rontok pada wanita.

Perubahan kulit pasca melahirkan

Masalah kulit pasca melahirkan, tidak terbatas hanya pada melarnya beberapa bagian pada tubuh ibu yang dapat menyebabkan Stretch Mark, atau masalah lain seperti Scar dan Keloid. Ada masalah kulit lain yang berkaitan dengan perubahan hormon pasca melahirkan.

Berikut beberapa perubahan pada kulit yang sering dikeluhkan oleh para ibu pasca melahirkan:

Melasma

Melasma juga dikenal sebagai “topeng kehamilan” merupakan suatu kondisi dimana kulit di area wajah seperti dahi, pipi dan sekitar mulut berwarna lebih gelap dari bagian lain. Penyebabnya bisa karena meningkatnya hormon esterogen dan progesteron selama masa kehamilan, akibat faktor genetik, dan akibat paparan sinar UV (Ultraviolet) yang membuat kulit ibu menjadi lebih gelap.

Pada beberapa kasus, hiperpigmentasi seperti ini bisa memudar dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, namun tidak akan hilang sepenuhnya. Sebagai tindakan pencegahan ibu dapat menggunakan tabir surya yang mengandung SPF 30 dan hindari terkena sinar matahari secara langsung ketika berpergian.

Untuk meringankan penggelapan kulit yang disebabkan oleh kondisi Melasma, ibu dapat menggunakan produk kosmetik yang mengandung Kojic Acid (Asam Kojic) dan Asam Glikolat, ditambahkan dengan Hydroquinone. Namun ibu harus mendiskusikan terlebih dulu dengan Dokter Anda bila ibu saat ini sedang dalam masa menyusui.

Atau gunakan krim wajah yang kaya akan vitamin C, E dan A serta rajin melakukan Chemical Peeling untuk membantu proses pengelupasan kulit dan mengangkat sel kulit mati. Untuk ibu menyusui, hal ini aman dilakukan sehingga ibu tidak perlu khawatir. Namun bila ingin mengatasinya penggelapan secara alami, ibu dapat membaca artikel berikut: Cara memutihkan kulit secara alami.

Muncul jerawat

Penyebab jerawat pasca melahirkan biasanya dipengaruhi karena perubahan hormon. ketidakseimbangan kadar hormon di dalam tubuh inilah biasanya dapat menyebabkan sekresi yang berlebih pada kelenjar minyak pada kulit wajah, sehingga terjadi penyumbatan pori-pori wajah yang berakhir dengan tumbuhnya jerawat di wajah. Namun, rata-rata jerawat yang timbul pasca melahirkan menyerang area bawah wajah dan leher.

Jerawat tersebut akan menghilang dengan cepat, namun pada beberapa orang, bisa bertahan cukup lama dan menyakitkan. Untuk mengatasi masalah jerawat ini ibu dapat memakai produk yang mengandung Benzoyl Peroksida yang mampu menembus pori-pori yang tersumbat dan membersihkan kotoran-kotoran di dalamnya. Zat ini aman untuk ibu menyusui. Namun bagi ibu dengan tingkat jerawat cukup parah, sebaiknya konsultasikan dengan Dokter kulit dan jangan lupa katakan pada dokter tersebut bahwa Anda sedang menyusui. Namun bila ingin mengatasinya jerawat hormon secara alami, ibu dapat membaca artikel berikut: Cara mengatasi masalah jerawat akibat hormon.

Munculnya pembuluh vena

Peningkatan sirkulasi darah dan hormon dapat membuat pembuluh vena terlihat di permukaan kulit yang berbentuk seperti sarang laba-laba. Biasanya pembuluh vena ini muncul di area cupang hidung, pipi, leher dan tubuh bagian atas lainnya. Perlu waktu 4-6 bulan setelah melahirkan untuk menghilangkan masalah ini, namun pada beberapa orang, ada yang membutuhkan waktu lebih lama.

Gunakan ekstrak Raspberry merah atau produk yang mengandung Bioflavinoid untuk memperkuat pembuluh vena Anda. Produk ini aman untuk ibu menyusui. Ibu juga bisa menggunakan minyak zaitun maupun emolien seperti shea butter (lemak alami yag diekstrak dari pohon Shea) agar kulit tetap halus.

Baca juga: Cara mencegah dan mengatasi varises pada wanita.

Kulit kering dan mengelupas

Perubahan hormon seringkali membuat kulit kehilangan kelembaban sehingga membuat kulit kering dan mengelupas. Masalah ini biasanya terjadi di sekitar wajah.

Untuk melembabkan kulit tubuh dari luar, ibu bisa mengoleskan lotion yang mengandung Shea Butter atau Jojoba Oil. Sedangkan untuk melembabkan kulit dari dalam, ibu bisa mengkonsumsi banyak cairan (air putih) minimal 8 gelas sehari.

Baca juga: Cara mengatasi penuaan dini secara alami.

Jadi kesimpulannya, proses melahirkan memang akan mengubah tubuh seorang wanita. Apapun kondisi ibu setelah melahirkan, ibu diberi kemampuan untuk memulihkan diri. Mudah-mudahan ibu bisa menerima kondisi ini sebagai bagian dari kehadiran seorang bayi. Dan bila ibu merasa ada hal yang mengganggu, konsultasikan kepada Dokter secepatnya untuk mendapatkan saran terbaik.

Bagikan ini ke:
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh LuviZhea.