BERANDA » PARENTING » Mengatasi anak sering muntah ketika minum obat

Mengatasi anak sering muntah ketika minum obat

| LuviZhea Chandra

solusi muntah saat minum obatSebelum ini Luvizhea.com telah membahas cara mengatasi anak yang susah minum obat saat sakit. Bukan hanya susah dalam membujuk anak untuk minum obat saja, namun anak muntah saat minum obat juga menjadi masalah tersendiri yang harus diatasi oleh para orangtua.

Rata-rata anak kecil memang tidak suka obat. Kita saja yang sudah dewasa juga tidak suka obat, karena itu anak balita memang sulit untuk minum obat walaupun obat tersebut telah tersedia dalam berbagai macam rasa dan bentuk yang menarik untuk anak-anak. Untuk itu diperlukan tips dan trik untuk membujuk anak minum obat saat ia sedang sakit, dan mencari cara agar anak tidak memuntahkan obat yang telah diminumnya.

Mengapa anak ketika minum obat sering muntah?

Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan anak muntah saat minum obat, akan tetapi beberapa alasan berikut ini mungkin yang paling sering dialami para orangtua sebagai penyebab anak muntah saat diberi obat:

Muntah karena reaksi penolakan tubuh anak terhadap obat

Anak muntah saat minum obat merupakan reaksi normal karena refleks dari si anak untuk menolak obat tersebut. Apa pun yang masuk atau dimasukkan ke dalam mulut anak tanpa dikehendaki oleh si anak, tentu dapat membuat anak menjadi tersedak dan muncul refleks mual muntah (gerakan balik dari lambung ke arah atas) sehingga apa yang ada di lambung akan di keluarkan semua.

Muntah karena anak kesulitan dalam menelan obat

Alasan lainnya kenapa anak selalu muntah saat minum obat adalah karena rasa obat yang terlalu pahit atau obat tersebut (dalam bentuk sirup) masih terlalu kental sehingga membuat anak kesulitan untuk menelannya.

Walaupun berbentuk cair, pemeberian obat deman seperti Acetaminopen biasanya juga akan membuat bayi terlalu sakit untuk menelannya sehingga dapat memuntahkan semuanya.

Muntah karena efek samping dari obat

Masalah lainnya bisa dikarenakan efek samping dari obat tersebut, tetapi ini jarang terjadi apabila pemberian obat sudah sesuai dengan dosisnya.

Baca juga: Mengatasi bayi yang sering muntah “gumoh”.

Yang perlu diperhatikan orangtua saat anak muntah ketika minum obat

saat anak muntah ketika minum obat, sebaiknya ibu perhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  • Posisikan anak pada posisi telungkup atau miring (miring ke kiri atau ke kanan) untuk menghindari isi muntahan masuk ke saluran napas.
  • Berikan minum untuk mencegah anak dehidrasi. Apabila anak menolak, tetap bujuk anak untuk minum. Untuk bayi yang masih menyusui, berikan ASI. Dan apabila bayi ibu mendapatkan susu formula, Dokter mungkin akan menggantikan sementara susu formula dengan oralit selama 12-24 jam pertama, atau menganjurkan untuk memberikan susu formula yang 2 kali lebih encer dibandingkan susu formula yang biasa diberikan, agar tidak menyebabkan iritasi pada lambung yang kosong setelah muntah.
  • Hubungi Dokter anak Anda, apabila anak bolak-balik muntah.

Setelah muntah, kapan waktunya anak harus minum obat kembali?

Tiap obat memiliki aturan pemberian yang berbeda-beda. Pemberian obat sangat tergantung dari jenis obat dan daya serap obat tersebut. Ada obat yang penyerapannya akan lebih baik apabila dikonsumsi dalam kondisi perut kosong. Sementara itu ada juga obat yang tidak pengaruh dengan ada tidaknya makanan dalam perut. Tetapi, beberapa obat seperti obat demam dan Antibiotik sebaiknya dikonsumsi setelah makan karena bisa menyebabkan sakit lambung.

Apabila anak langsung muntah setelah diberi obat, maka obat bisa diberikan kembali setelah 15 menit. Sementara dosis obat yang diberikan harus sama dengan dosis obat sebelumnya.

Tetapi, apabila anak muntah dalam jangka waktu 30 menit setelah obat diberikan, maka pemberian obat tidak perlu diulangi.

Bagaimana cara mengatasi agar anak tidak muntah saat diberi obat?

Setelah anak muntah saat minum obat, sebaiknya bujuk kembali anak untuk kembali minum obat beberapa saat kemudian. Kalau tidak, muntah bisa dijadikan senjata bagi anak tiap kali ia harus minum obat. Berikut Luvizhea.com berikan beberapa tips dan trik agar anak tidak muntah saat diberi obat:

  • Saat memberikan obat perhatikan posisi tubuh anak . Berikan obat saat anak dalam posisi duduk atau kepala lebih tinggi dari badannya. Apabila masih bayi, aturlah posisi bayi ibu dengan aman. Pangkulah bayi dan posisikan dengan setengah duduk.
  • Walaupun anak susah minum obat, jangan sampai Anda memaksa memasukan obat ke dalam mulut terlebih dengan menutup hidungnya. Hal ini malah akan membuat anak tersedak saat obat masuk ke dalam mulutnya.
  • Coba masukan obat kedalam mulut tepat di samping atau dibawah lidah agar tidak memancing reaksi muntah.
  • Agar anak tidak memuntahkan obat yang sudah diberikan sebaiknya berikan obat sedikit demi sedikit, hindari pemberian obat secara sekaligus. Tambahkan air putih pada obat dalam bentuk puyer atau sirup yang kental agar obat lebih encer dan mudah ditelan oleh anak.
  • Beritahu Dokter bahwa anak ibu selalu muntah saat diberi obat, agar mendapat obat yang tepat dan tidak memberi efek muntah. Hal ini berdasarkan pengalaman saat anak saya sakit, dimana setiap kali minum obat selalu saja muntah, akan tetapi ketika saya memberitahukan Dokter atas masalah ini, Dokter meresepkan sebuah obat (walaupun lebih mahal). Dan benar ketika obat tersebut diminum, anak saya tidak lagi muntah saat minum obat.
  • Apabila masih muntah saat minum obat (terutama obat deman), biasanya Dokter akan memberikan obat penurun demam yang dimasukkan melalui dubur. Atau bisa juga Dokter meresepkan obat antimuntah (yang dimasukan juga melalui dubur) sekitar 20-30 menit sebelum pemberian obat.

Baca juga: Mengobati bayi yang sedang sakit flu batuk pilek tanpa obat.

Apa saja yang perlu diperhatikan saat memberikan obat pada anak?

Setiap orangtua harus benar-benar paham mengenai obat yang akan di berikan kepada anaknya. Hal ini untuh mencegah hal-hal yang tidak di inginkan.

Tanyakan secara teliti tentang obat yang diresepkan oleh Dokter

Tanyakan secara teliti kepada Dokter atau petugas Apoteker tentang resep obat yang akan di berikan, misalnya:

  1. Obat ini berguna untuk apa?
  2. Apa efek samping dari obat ini?
  3. Berapa cepat obat ini akan berpengaruh?
  4. Apakah obat ini tersendiri atau harus dicampur?
  5. Apakah obat ini boleh disimpan di lemari es atau harus di simpan pada suhu normal?
  6. Apakah cara pemberiannya boleh di campur dengan makanan bayi?
  7. Apakah pemberian obat ini sebelum atau sesudah bayi makan?
  8. Apakah ada pantangan bagi bayi setelah meminum obat ini?
  9. Berapa dosisnya setiap kali obat ini akan diberikan?
  10. Berapa kali obat ini harus diberikan, apakah 3x sehari, 2x sehari, tiap 3 jam, tiap 6 jam atau bagaimana?
  11. Kapan masa kadaluwarsa obat?, dan pertanyaan lainnya yang ibu butuhkan agar tidak salah dalam memberikan obat tersebut.

Jangan takut dibilang cerewet, kesehatan dan keselamatan anak ibu lebih penting dari segalanya. Jangan sampai ada kejadian ibu salah memberikan obat atau salah dosis atau hal lainnya yang justru membahayakan anak ibu. Apabila seorang Dokter malas menjawab atau terlalu sibuk, sebaiknya jangan gunakan Dokter itu., Dokter harus bisa juga menjadi seorang konsultan yang baik bagi pasien, tidak hanya cukup periksa dan memberikan resep saja.

Jadi, ibu boleh pulang dari klinik atau apotek ketika ibu benar-benar paham mengenai berbagai hal tentang obat yang akan di berikan ke anak. Apabila seteleh di berikan obat ada efek yang tidak sesuai dengan keterangan Dokter, segera hubungi Dokter Anda, dan jangan berasumsi sendiri.

Hindari pemberian obat yang mengandung Aspirin pada balita

Mengatasi anak susah minum obatJangan sekali-kali memberikan obat pada bayi yang di dalamnya terkandung Aspirin terutama dengan inveksi virus. Meskipun Aspirin cukup baik dalam meredakan demam, namun efek yang diberikan bisa berakibat serius. Bayi bisa mengalami “Sindrom Reye”, yaitu sindroma yang berkaitan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mengatasi zat kimia tertentu. Gejalanya adalah muntah yang tidak terkendali, demam, mengigau, dan tidak sadar (lalu koma). Sindroma ini memang jarang terjadi, akan tetapi sebaiknya orangtua menghindari memberi bayi obat apapun yang mengandung Aspirin.

Sekedar informasi, obat yang mengandung Aspirin biasanya diberi nama lain, yaitu salicylate atau acetylslicylate. Karena itu cermatlah membaca label pada kemasan obat anak.

Perhatikan pemberian obat Antibiotik pada anak

Satu hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua dalam memberikan pengobatan antibiotik pada anak adalah memastikan bahwa anak meminumnya dalam kondisi lambung anak sudah terisi makanan. Hal ini untuk mencegah naiknya kadar asam lambung sebagai efek samping dari antibiotik yang diberikan. Naiknya kadar asam lambung akan membuat anak merasa mual dan muntah.

Apabila anak muntah saat meminum obat Antibiotik ini, pemberian obat dengan dosis penuh setelah anak memuntahkan antibiotik yang diminumnya pada dosis pertama masih diperbolehkan. Namun apabila pada pemberian Antibiotik dosis kedua si anak memuntahkannya kembali, maka hentikan pemberian obat dan segera konsultasikan dengan Dokter yang menanganinya.

Pemberian dosis obat antibiotik secara berulang dalam jangka waktu yang relatif pendek dapat memunculkan efek samping negatif seperti diare pada anak. Dokter yang menangani kasus penyakit anak tersebut akan dapat menganalisa apakah obat Antibiotik yang diresepkan tersebut dimuntahkan oleh anak sebagai reaksi normal, ataukah ada hal-hal lain sebagai penyebabnya, seperti kemungkinan adanya alergi pada obat Antibiotik yang diberikan

Dan perlu di ingat pemberian obat Antibiotik sebaiknya jangan dikurangi dosisnya, karena akan membuat bakteri yang ada menjadi resisten. Sehingga ketika si anak terkena penyakit yang sama harus menggunakan obat yang lebih tinggi.

Pada beberapa kondisi tertentu misalnya karena sering muntah saat minum obat Antibiotik, Dokter akan memberikan obat Antibiotik dalam bentuk yang langsung dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan. Tentunya dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan dan keluhan anak.

Baca juga: Penanganan step “kejang demam” pada anak.

Loading...
Berbagi informasi di: