ARTIKEL

Penyebab dan cara mengatasi “anak nakal”

| Luvi Zhea

Kenakalan anak usia 3-6 tahunAnak nakal indentik dengan anak yang aktif, tidak bisa diam dan sulit diatur (Bandel). Akan tetapi jangan salah, anak tidak bisa diam bisa jadi itu pertanda bahwa anak mempunyai kecerdasan kinestetik yang tinggi. Penelitian University of Eastern Filandia menemukan anak yang aktif secara kinestetik memiliki kemampuan membaca dan matematika yang lebih baik. Dan anak dengan kecerdasan kinestetik tinggi itu umumnya senang berlari dan tidak bisa tinggal diam.

Jadi jangan buru buru marah ketika mempunyai anak yang tidak bisa diam, kita sebagai orangtua hanya perlu mengarahkan ke hal yang positif dan memberikan stimulasi yang tepat. Karena banyak manfaat yang diperoleh bila anak kita aktif bergerak. Berikut 3 alasan mengapa Anda perlu bersyukur mempunyai anak yang tidak bisa diam:

  1. Anak lebih cerdas. Seperti yang sudah kita jelaskan sebelumnya, anak yang tidak bisa diam menjadi pertanda dia memiliki kecerdasan kinestetik. Karena gerakan yang dilakukan anak, secara tidak langsung berdampak pada perkembangan otak. Untuk itu bila kita ingin memiliki anak yang cerdas, kita perlu mendorong anak untuk bergerak lebih banyak, bahkan sejak usia dini.
  2. Lebih mengenal banyak hal. Anak yang aktif ternyata jauh memiliki pengalaman yang berharga. Anak yang mengenal dunia luar akan lebih mudah menyelesaikan tugas yang lebih sulit dan membantu pertumbuhan kognitif serta bahasanya.
  3. Lebih sehat dan memiliki pertumbuhan normal. Anak yang aktif bergerak cenderung lebih sehat dan tidak mudah terserang penyakit, karena dengan aktif bergerak akan meningkatkan kinerja organ, melancarkan sistem peredaran darah dan metabolisme tubuh.

Bicara tentang “anak nakal” memang tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Apalagi perilaku setiap anak memang unik, berbeda dan berubah-ubah. Belum lagi pola asuh kita sebagai orangtua juga berperan penting dalam membentuk karakter anak.

Maka dari itu ada hal yang harus dimengerti oleh orangtua dalam mendidik anak, yaitu saat anak melakukan kesalahan, janganlah dimarahi habis-habisan atau pun mencapnya sebagai “anak nakal”. Karena secara tidak langsung Anda telah mendoakan anak Anda menjadi nakal.

Mereka hanya melakukan apa yang menyenangkan bagi dirinya, mereka sedang mencoba mempelajari sesuatu terlepas dari benar atau salah, dan mereka sering tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan atas perasaan yang mereka miliki. Akhirnya mereka pun lebih mudah merasa marah dan menjadi agresif. Bahkan, anak-anak pun dapat bersikap berlebihan ketika merasa senang, tertekan, ataupun bosan. Anak-anak harus diberitahu tentang cara yang sehat ketika mengontrol emosinya.

Maka dari itu kita sebagai orangtua harusnya mampu menjaga dengan baik, mengarahkan serta menasihati dengan baik, bukan malah menghakiminya. Justru anak yang sering dimarahi orangtuanya akan semakin penasaran dengan apa yang dia lakukan. Sehingga, anak akan terus-menerus melakukan kesalahan (kebodohan) yang sama.

Untuk itu, sebelum masuk ke pembahasan lebih lanjut, berikut Luvizhea.com berikan beberapa catatan yang bisa menjadi bahan renungkan kita sebagai orangtua, apakah kita sudah benar dalam mendidik anak kita?

  • Apabila anak Anda sengaja mengganggu terus menerus, itu karena Anda jarang mengajaknya bermain. Dia sedang butuh perhatian.
  • Apabila anak Anda sering berbohong, itu karena Anda sering memarahinya waktu melakukan kesalahan. Dia terpaksa bohong agar tidak terkena marah.
  • Apabila anak Anda cengeng dan penakut, itu karena Anda terlalu banyak menasehatinya, tanpa memberikan dorongan dan semangat. Bedakan Antara kata “kamu jangan takut” dengan “ayo kamu pasti bisa”.
  • Apabila anak Anda tidak membela diri, itu karena sejak dini Anda terlalu mengaturnya di depan umum. Kita sebagai orangtua sebaiknya tidak melakukannya, bahkan didepan saudara kandung, sepepu, ataupun temannya.
  • Apabila Anda sudah membelikan banyak mainan untuk anak Anda, akan tetapi dia masih mengambil barang-barang yang bukan miliknya, itu karena Anda tidak membiarkan mereka memilih barang atau mainan yang mereka inginkan.
  • Apabila anak Anda terlalu penakut, itu karena Anda terlalu sering membantu mereka. Jangan terlalu sering membantu menyingkirkan setiap rintangan yang mereka hadapi. Latih mereka untuk menghadapi rintangan yang ada.
  • Apabila anak Anda sering dengki dan pendemdam, bisa jadi itu karena Anda sering membandingknnya dengan dengan orang lain.
  • Apabila anak Anda mudah marah, bisa jadi itu karena Anda jarang memuji mereka. Mereka hanya mendapat hardikkan saat nakal, akan tetapi tidak di puji saat melakukan kebaikan.
  • Apabila anak Anda tidak menghormati perasaan orang lain, bisa jadi karena Anda selalu memerintahkan kepadanya tanpa memberi alasan “kenapa” nya.
  • Apabila anak Anda kurang terbuka, bisa jadi itu karena Anda terlalu membesar-besarkan hal yang kecil (sepele).
  • Apabila anak Anda berprilaku kasar, hal itu dipelajari dari orangtua atau orang lain disekitar mereka. Atau bisa jadi karena Anda sering membentak dan memberi hukuman fisik saat mereka melakukan kesalahan.

Baca juga: Kenakalan anak yang harus dimaklumi orangtua

Yang perlu diperhatikan dalam menghadapi anak nakal

Sebenarnya anak menjadi nakal bukanlah pilihan mereka sendiri, tetapi disebabkan oleh faktor keadaan lingkungan sekitar yang memaksa mereka untuk berbuat seperti itu. Hal ini bisa kita lihat dari keadaan keluarga yang memiliki anak nakal, kebanyakan dari keluarga yang tidak harmonis dan kurang memerhatikan anaknya. Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mengatasi kenakalan anak:

Berikan perhatian dan waktu yang lebih untuk anak

Kurangnya perhatian kita akibat kesibukan dalam bekerja, tidak jarang menjadi penyebab anak menjadi nakal atau sulit diatur. Mereka melakukan hal-hal yang terkadang membuat kita merasa kesal (jengkel) semata-mata untuk mencari perhatian kita ketika dirumah. Tetapi terkadang penanggapan kita saja yang berlebihan dengan memarahi mereka atas apa yang telah mereka perbuat. Walaupun pada dasarnya kita marah bukan semata-mata karena ulah mereka melainkan karena faktor kelelahan saat kita bekerja (stres / kurang istirahat). Dan ini justru akan membuat anak semakin “memberontak”.

Untuk itu, sebagai orangtua mari kita instropeksi diri kita, apakah cara kita mendidik anak sudah benar? apakah kita sudah banyak meluangkan waktu untuk anak kita? Jangan sampai kita menyesal, karena kita telah melewati masa-masa indah dalam merawat dan membesarkan anak-anak kita. Karena masa kecil (masa pertumbuhan) anak kita tidak akan terulang kembali. Setelah dewasa mereka sudah memiliki kehidupannya masing-masing.

Dan bagi kita para istri, sebaiknya manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menjadi seorang ibu yang baik. Karena tugas utama kita sebagai seorang istri adalah menjadi ibu dan pengatur rumah tangga. Apabila tugas dan fungsi utama ini terabaikan dengan kesibukan kita yang ikut bekerja (mengejar karir), maka kehancuran generasi sudah menjadi suatu kepastian, karena ibu adalah “Madrasatul Ula” (pendidikan pertama dan utama) bagi anak-anaknya.

Untuk itu sebaiknya bagi para ibu, lebih disarankan untuk mengutamakan keluarga dibanding karir. Memang tidak ada larangan wanita untuk bekerja, namun tetap dengan memperhatikan syarat-syarat, tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang ibu.

Jangan membentak ataupun memberikan hukuman fisik saat anak melakukan kesalahan

Mendidik anak yang dikatakan nakal atau bandel menjadi anak yang penurut tidaklah mudah. Kebanyakan orangtua menghadapi anak yang nakal cenderung menggunakan kekerasan sebagai solusi untuk mengendalikan anak yang nakal. Baik itu dengan bentakan ataupun dengan menghukum secara fisik (mencubit, menjewer ataupun memukul). Namun ini bukanlah sebuah solusi dalam mengatasi anak yang nakal.

Sebab berdasarkan hasil penelitian, marah dan suara bentakan terhadap anak justru akan mempengaruhi psikologis dan perkembangan otak anak, karena bentakan akan merusak Sinaps yang menghubungkan jutaan sel di otak yang imbasnya akan membuat anak menjadi kurang cerdas terutama dalam hal intelejensi. Selain itu, sering membentak anak juga akan menimbulkan efek yang tidak baik pada perkembangan sikapnya. Dia bisa meniru sikap tersebut dan akan berteriak sesuka hati baik kepada Anda maupun orang-orang di sekitarnya. Anak juga akan semakin bandel dan sulit diatur.

Sedangkan hukuman secara fisik akan membuat anak berperilaku kasar, baik itu kepada adik maupun teman sebayanya. Hal itu karena anak cenderung mencontoh apa yang dia lihat dan rasakan. Maka dari itu pastikan kita sebagai orangtua tidak memberikan hukuman secara fisik, karena anak akan dapat mencontoh dan melakukannya di kemudian hari. Parahnya lagi, hal tersebut bisa menjadikan anak lebih kebal dan tidak takut kepada siapa pun. Jadi, bila anak menjadi tidak takut pada kemarahan Anda, itu merupakan indikasi bahwa anak sudah terlalu sering melihatnya dan sudah membangun usaha pertahanan diri untuk melawannya.

Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk mendisiplinkan anak yang nakal?

Saat anak melakukan kesalahan, cara sikap orangtua dalam memberi nasehat dan pengertian kepada anak adalah hal yang terpenting. Untuk itu tunjukanlah sikap yang lembut di depan anak dan coba untuk memaafkan kesalahannya. Mulailah tanya dengan nada yang lembut apa yang membuat anak melakukan hal seperti itu?. Dekati dengan rasa kasih sayang, elus kepala atau pundaknya. Berilah pengertian yang mendalam bahwa yang dia lakukan adalah salah. Berikan juga tatapan mata yang kuat saat memberi nasihat. Dengan begitu akan timbul rasa segan dan hormat anak kepada orangtuanya.

Saat anak sudah mengerti tentang apa yang dia lakukan (saat usia 3 tahun keatas), Anda dapat memberi aturan yang jelas dan konsekuensi atas apa yang dilanggar. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan sanksi disiplin untuk anak ini adalah berikan sanksi yang berhubungan dengan kesalahan yang dilakukannya. Namun, bila anak mentaati aturan yang dibuat orangtua, jangan lupa berikan pujian padanya.

Dan yang terpenting disini adalah kita juga harus konsisten dalam membuat sebuah peraturan. Anak akan merasa segan dan tidak berani melanggar apabila peraturan yang dibuat itu tegas dan konsisten. Usahakan peraturan terus berjalan setiap waktu. Karena tidak jarang anak-anak sengaja bersikap nakal untuk mengetahui apakah hukumannya bila mereka tidak mengikuti aturan. Artinya, penting bagi orangtua untuk membuat batasan yang jelas dan menyampaikan konsekuensi hukuman yang akan mereka berikan bila si anak melanggar aturan. Apabila anak-anak merasa orangtua mereka tidak serius dengan aturan tersebut, besar kemungkinan anak akan sengaja melanggarnya.

Memang memberi toleransi kepada anak adalah hal yang wajar, namun bila terlalu sering justru akan membuat anak merasa bebas dalam melanggar aturan. Toleransi yang berlebihan akan membuat anak lebih sulit diatur dan menjadi pembangkang.

Beri teladan yang baik dan hindari pengaruh buruk dari lingkungan sekitar

Seperti yang telah Luvizhea.com sebutkan sebelumnya, orangtua adalah “Madrasatul Ula” (pendidikan pertama dan utama) bagi anak-anaknya. Jadi saat kita menginginkan anak yang memiliki kepribadian baik, maka kita juga harus memiliki sikap yang baik. Orangtua harus menjadi sumber contoh dan sumber ilmu bagi anak-anaknya.

Pelajaran yang bisa mereka tangkap dengan cepat adalah bukan teori atau nasihat saja, akan tetapi sikap dan praktek pada kehidupan sehari-hari itulah yang akan mereka tiru. Pada dasarnya, anak akan melakukan atau menirukan apa yang orangtuanya lakukan.

Dengan prilaku bersahaja dan menjadi teladan yang baik, maka anak bisa meniru kita. Mereka akan mulai tahu mana saja hal yang benar dan yang salah.

Dan jangan lupa, ciptakan keluarga yang harmonis, karena kebanyakan anak bersikap nakal, bandel, dan susah diatur disebabkan oleh kondisi lingkungan keluarga yang tidak harmonis, keluarga yang sering bertengkar, bercerai, hingga sampai adanya kekerasan dalam rumah tangga.

Selain itu, Anak-anak belajar bersikap dengan cara melihat orang lain disekitar lingkungannya. Baik itu dengan cara menyaksikan aksi-aksi nakal teman sebayanya atau dari tontonan di televisi. Karena itu sangat penting bagi orangtua untuk membatasi apa yang mereka lihat. Pantau apa yang anak-anak tonton di televisi, video game yang dimainkan, atau bahkan yang mereka saksikan lewat internet (youtube).

Baca juga: Anak belajar menyalahkan orang lain dari kita

Jangan memanjakan anak berlebihan dengan menuruti semua keinginannya

Tanpa kita sadari, anak nakal terbentuk dari kebiasaan kita sebagai orangtua yang memiliki kebiasaan memanjakan anak. Anak yang terbiasa dimanja akan merasa bahwa semua keinginannya itu mutlak dan harus dipenuhi. Hal tersebut akan mengajarkan mereka bertindak seenak dirinya dengan kenakalan dan kebandelan tersebut, karena merasa bahwa dirinya itu selalu benar dan dituruti oleh orang lain.

Sebagai contoh: Meminta anak agar tidak menangis atau merengek ketika berbelanja di super market dengan membelikan mainan yang mereka minta, adalah sikap yang dapat membuat anak percaya diri bahwa cara tersebut akan membuat orangtua menuruti keinginannya. Sehingga menangis akan menjadi senjata mereka dalam meminta sesuatu agar dituruti dikemudian hari.

Maka dari itu, menyampaikan penjelasan (pengertian) kepada anak tentang perbandingan penting atau tidaknya membeli suatu barang, dapat menjadi cara yang efektif untuk menangani hal tersebut.

Jadi, saat anak mendadak marah,merengek, dan bersikap diluar kebiasaan, memang kita harus mengerti dan mencari tahu apa kebutuhan anak yang belum terpenuhi sehingga mereka bersikap seperti itu, agar kita bisa mencukupinya. Namun bukan berarti kita harus menuruti semua keinginan mereka.

Share:
Loading...