Mengatasi Mimisan “Epistaksis” pada anak

| Luvi Zhea

Mimisan pada anakEpistaksis adalah pendarahan dari hidung yang seringkali kita kenal dengan istilah Mimisan. Mimisan dapat terjadi pada siapa saja, baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa (ibu hamil) bahkan pada usia lanjut. Namun, Mimisan lebih sering terjadi pada usia anak-anak.

Hal inilah yang terkadang membuat kita sebagai orangtua khawatir, karena tanpa sebab yang jelas anak-anak seringkali mengalami Mimisan secara tiba-tiba. Apalagi ini pertama kali Mimisan terjadi pada anak ibu, pasti yang ada kita sebagai orangtua langsung panik seketika.

Ibu tidak perlu khawatir, Mimisan pada anak-anak tergolong tidak berbahaya apabila dialami saat anak dalam kondisi sehat dan aktif, tidak saat anak sedang mengalami demam atau sakit.

Apa saja jenis dan penyebab Mimisan pada anak?

Apabila dilihat dari lokasi pendarahan yang terjadi, Mimisan terbagi dalam dua jenis, yaitu Anterior Dan Posterior. Mimisan jenis Asterior adalah pendarahan yang terjadi pada bagian depan hidung. 90% Mimisan yang terjadi pada anak-anak merupakan jenis Anterior, yang cenderung mudah untuk diatasi.

Sedangkan pada mimisan jenis Posterior, pendarahan berasal dari pembuluh darah yang terletak di bagian belakang hidung (di antara langit-langit mulut dan rongga hidung). Mimisan jenis ini jarang terjadi dan kondisinya cenderung lebih serius dengan volume pendarahan yang lebih banyak. Kelompok orang yang sering mengalaminya adalah orang-orang dewasa dan lansia.

Penyebab paling umum anak-anak sering mengalami Mimisan secara tiba-tiba adalah karena kondisi pembuluh darah kapiler yang banyak terdapat pada Mukosa hidung masih sangat rapuh, terutama pada usia anak.

Kondisi rapuhnya pembuluh darah ini tidak hanya dikarenakan faktor usia saja seperti halnya pada anak-anak, melainkan bisa disebabkan oleh faktor genetik. Sehingga apabila pembuluh darah yang rapuh disebabkan oleh faktor usia, Mimisan pada anak-anak biasanya akan berkurang hingga berhenti sama sekali seiring bertambahnya usia anak. Sedangkan apabila pembuluh darah yang rapuh disebabkan oleh faktor genetik, maka Mimisan bisa saja terjadi hingga anak dewasa, walaupun tanpa diser tai oleh penyakit tertentu.

Berikut beberapa penyebab yang biasa menyebabkan Mimisan pada anak:

  • Kelelahan.
  • Trauma atau cedera pada bagian hidung akibat memasukan jari kehidung (ngupil) hingga terkena benturan.
  • Iritasi pada selaput lendir hidung yang disebabkan oleh polusi, perubahan suhu udara (udara kering atau dingin), pilek (karena harus seringkali buang ingus atau bersin).
  • Infeksi pada saluran pernafasan seperti Vestibulitas ( peradangan pada selubung akar bulu hidung), Sinusitis (peradangan yang terjadi di daerah sinus pada rongga daerah kanan dan kiri di atas hidung), hingga pada infeksi sistemik yang dikarenakan anak mengalami masalah kesehatan salah satu diantaranya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).
  • Memiliki alergi seperti Renitis.
  • Efek mengkonsumsi obat-obatan seperti Aspirin, Steroid dan obat Antikoagulan.
  • Penyakit dan kelainan darah seperti Leukemia, Hemolia, ITP, Trombositopenia dan lain sebagainya.

Baca juga: Mengatasi Flu, Pilek & Batuk pada Bayi.

Bagaimana cara membedakan mana gejala Mimisan yang termasuk kategori wajar atau perlu diwaspadai?

Mimisan bisa dianggap wajar dan tidak berbahaya apabila Mimisan tersebut hanya berlangsung kurang dari tiga menit, dan kondisi anak saat itu bisa dibilang sehat. Biasanya dengan pertolongan pertama yang dilakukan, pendarahan yang terjadi akan segera berhenti.

Apabila Mimisan tersebut diakibatkan oleh suatu penyakit, biasanya anak akan mengalami Mimisan disertai demam atau gejala lain sesuai jenis penyakitnya. Misalnya ada kelainan pada Trombosit atau adanya pembekuan darah (Hemofilia). Maka biasanya Mimisan jenis ini akan disertai dengan pendarahan di tempat lain seperti di gusi dan bisa juga terdapat bintik-bintik merah pada pipi.

Berikut beberapa gejala lain yang sebaiknya diwaspadai saat Mimisan berlangsung, diantaranya:

  • Mimisan yang berlangsung lebih dari 15 menit.
  • Mimisan dengan pendarahan yang banyak.
  • Kulit mulai berubah pucat.
  • Kesulitan bernapas.
  • Detak jantung yang tidak beraturan.
  • Mual dan Muntah karena darah yang tertelan.
  • Sering mimisan, misalnya lebih dari sekali dalam seminggu.

Apabila anak ibu mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya ibu segera menghubungi Dokter untuk mengetahui secara pasti penyebab Mimisan tersebut dan juga untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Bagaimana cara mengatasi Mimisan pada anak dirumah?

Dalam mengatasi Mimisan yang sedang terjadi pada anak ibu, sebaiknya hal pertama yang ibu lakukan adalah jangan panik dan tetap bersikap tenang. Dengan begitu ibu juga bisa membuat anak menjadi lebih tenang untuk di obati.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah jangan membaringkan anak dengan posisi terlentang, bersandar apalagi Kepala menengadah ke atas. Hal ini sangat berisiko terjadinya aliran darah masuk ke tenggorokan dan kerongkongan sehingga dapat menyebabkan sesak nafas, mual hingga muntah. Selain itu jangan menundukan kepala anak karena akan membuat pendarahan semakin parah.

Posisikan anak duduk tegak di kursi atau di pangkuan, dengan kepala sedikit maju ke depan. Kemudian pencet lembut hidung anak menggunakan jempol dan jari telunjuk selama 5-10 menit. Dan instruksikan pada anak agar bernafas melalui mulut selama hidungnya di pencet.

Ibu dapat menggunakan es batu yang dibungkus dengan lap atau kain bersih yang kemudian tempelkan diantara kening dan hidung anak. Hal ini bermanfaat dalam membantu mengecilkan pembuluh darah yang pecah sehingga darah akan berhenti mengalir.

Selain itu, Ibu juga dapat mengambil daun sirih yang telah dicuci bersih kemudian gulungkan seukuran lubang hidung anak. Lalu kemudian disumpalkan pada lubang hidung anak yang mengalami Mimisan selama 15-20 menit. Hal ini juga bermanfaat untuk menghentikan pendarahan sekaligus sebagai antiseptik alami untuk mencegah iritasi. Tapi ingat memasukannya harus hati-hati, jangan sampai menimbulkan luka baru pada pembuluh darah sehingga Mimisan bisa menjadi semakin parah.

Bagaimana cara mencegah agar Mimisan pada anak tidak terjadi kembali?

Setelah mengetahui penyebab dan cara mengatasi mimisan pada anak yang telah Luvizhea.com jelaskan diatas, maka langkah selanjutnya yang tidak kalah penting yaitu bagaimana tindakan pencegahan agar mimisan tidak terjadi kembali.

Tindak pencegahan yang pertama setelah terjadinya Mimisan adalah dengan tidak menggosok atau membersihkan bekas darah di hidung setelah mimisan berhenti. Karena hal ini akan membuat mimisan dapat terjadi kembali.

Selain itu usahakan agar anak tidak membuang ingus, membungkuk, atau melakukan aktivitas berat setidaknya selama 12 jam. Langkah ini juga untuk mencegah terjadinya iritasi pada hidung pasca terjadinya Mimisan.

Adapun hal lainnya yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • Jaga kuku anak agar selalu pendek untuk mencegah cedera pada hidung.
  • Jaga bagian dalam hidung selalu lembab dengan “Saline Nasal Spray”.
  • Melembabkan ruangan atau kamar tidur dengan Vaporizer (atau Humidifier) apabila udara di rumah kering.
  • Pastikan anak-anak memakai alat pelindung hidung ketika mengikuti olahraga yang berpotensi menyebabkan cedera hidung.
  • Sebaiknya hindari bermain di luar pada saat udara kering dan panas.
  • Apabila Mimisan disebabkan oleh penggunaan obat tertentu, maka jenis serta dosis obat tersebut perlu ditinjau ulang, untuk mencegah terjadinya Mimisan kembali.

Kapan anak harus dibawa ke Dokter saat sedang mengalami Mimisan?

Setelah tindakan pertolongan pertama diatas tidak berhasil menghentikan pendarahan setelah diulang hingga dua kali percobaan, dan apalagi anak mengalami beberapa gejala yang harus diwaspadai seperti yang telah Luvizhea.com sebutkan diatas. Maka segera bawah anak ke Dokter.

Dengan dibawah ke Dokter, bagi anak yang mengalami Mimisan karena penyakit tertentu, misalnya: diduga mengalami Hemofilia atau DBD, maka akan segera dilakukan tes darah guna memastikan diagnosis dan langkah pengobatan yang sesuai. Sedangkan apabila Mimisan terjadi disebabkan oleh Sinusitis, maka Dokter akan memberikan antibiotik untuk mengatasinya.

Baca juga: Mengatasi Radang Amandel “Tonsillitis” pada anak.

Share:
Loading...