Cara mencegah dan menghilangkan Keloid akibat Caesar

| Luvi Zhea

KeloidPasca melahirkan dengan Operasi Caesar (Sesar), setelah jahitan mulai mengering dan masa-masa rawan infeksi telah terlewati, bukan berarti tidak akan timbul masalah baru lagi. Memang tinggal menjalani proses penyembuhan, namun masih ada salah satu risiko pada bekas sayatan Operasi Caesar yang sering dialami, yaitu munculnya luka parut pada bekas operasi yang lumayan besar dan panjang yang disebut dengan Hypertrophic Scar. Dan pada beberapa kasus bekas luka dan jahitan Caesar tersebut bisa juga berkembang menjadi Keloid.

Hypertrophic Scar dan Keloid, kedua hal tersebut sama-sama merusak estetika (keindahan) perut ibu pasca melahirkan dengan Operasi Caesar, tentunya selain masalah Stretch Mark pasca kehamilan yang juga sering muncul dan membuat kepercayaan diri ibu berkurang dan membuat ibu merasa risih.

Apa bedanya Hypertrophic Scar dengan Keloid?

Secara normal, ketika kulit terluka, maka akan terjadi proses penyembuhan dari tubuh secara alami, dimana jaringan fibrosa atau yang sering disebut dengan jaringan ikat terbentuk diatas luka guna memperbaiki dan melindungi luka. Dan pada akhirnya ketika luka menyatu dan mengering biasanya akan terbentuk jaringan parut pada luka tersebut.

Hypertrophic Scar adalah jaringan parut yang menebal tetapi tidak melebar melebihi luka aslinya (menonjol keatas), dan pada umumnya luka parut ini juga akan menghilang dengan seiring waktu.

Sedangkan keloid adalah jaringan parut yang menebal, menonjol dan melebar melebihi batas luka itu sendiri akibat terjadi peradangan. Dan biasanya bersifat permanen dengan permukaan yang kenyal (keras) dan licin (mengkilap) dengan warna merah jambu, merah daging atau coklat gelap.

Jadi, bila jaringan parut bekas luka melebar kemana-mana tanpa dapat dikontrol, itu yang disebut dengan Keloid.

Apakah Keloid berbahaya?

Jaringan parut bekas luka (Scar) memang akan dialami oleh semua ibu yang menjalani proses persalinan Caesar, namun sebaiknya jangan dianggap remeh, karena bila tidak diberikan penanganan yang tepat, Scar bisa berkembang menjadi Keloid.

Keloid sebenarnya tidak ganas, tidak berbahaya serta tidak menular, hanya saja terkadang terdapat gejala gatal, nyeri serta mengalami perubahan bentuk (misalnya akan semakin menebal bila terjadi gesekan pada area tersebut). Pada kasus yang lebih parah, dapat mengganggu (menghambat) pergerakan dari kulit yang mengalami Keloid.

Umumnya, ibu yang tidak memiliki bakat keloid maka tidak perlu khawatir dengan bekas luka pasca Operasi Caesar ini, karena luka akan hilang dan hanya meninggalkan bekas berupa warna yang berbeda pada bekas jahitan luka tersebut, bisa hanya berupa garis-garis kehitaman atau berupa Scar putih.

Namun bila ibu memiliki bakat keloid, maka timbulnya keloid ini akan tetap terjadi tanpa dapat dicegah. Bahkan Keloid ini tidak hanya muncul akibat bekas operasi saja, melainkan dapat muncul dimana saja pada bagian tubuh asal ada luka yang mendahuluinya, seperti: luka tindikan, luka gores, luka bakar, bekas jerawat hingga pada luka bekas cacar.

Penyebab Keloid pasca Operasi Caesar

Seperti yang telah Luvizhea.com jelaskan diatas, umumnya masalah Keloid ini timbul bila ibu memiliki Bakat Keloid sebelumnya. Bila sudah begitu, munculnya Keloid pada bekas luka operasi akan sulit di cegah.

Bakat Keloid tersebut muncul biasanya karena faktor genetik (keturunan), dan sering ditemukan pada orang yang memiliki gen HLA-B14, HLA-B21, HLA-BW16, HLA-BW35, HLA-DR5, HLA-DQW3, dan golongan darah A. Selain itu, Keloid ini lebih banyak ditemukan pada orang dengan ras keuturunan genetik kulit berwarna gelap dibandingkan dengan orang dengan ras genetik kulit berwarna cerah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penemuan kasus mengenai keloid yang terjadi pada orang-orang Afrika, dibandingkan dengan orang-orang kulit putih dari Eropa.

Bagi ibu yang tidak memiliki bakat Keloid akibat faktor genetik (keturunan), Keloid pada bekas luka juga bisa terjadi yang biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

  • Kedalaman luka, ukuran luka serta lokasi luka.
  • Proses penyembuhan luka yang kurang baik akibat terjadinya infeksi.
  • Teknik operasi dan penjahitan yang kasar dan kurang rapi, misalnya terlalu berlebihan ketika menarik benang sehingga terjadi kerutan.
  • Jenis benang yang dipakai tidak cocok, sehingga menimbulkan iritasi dan peradangan.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu yang dipakai.
  • Gesekan pada jaringan parut luka diperut akibat operasi yang ditimbulkan oleh penggunaan pakaian seperti celana atau korset. Bekas luka operasi yang tergesek celana atau korset akan merangsang jaringan baru pada bekas luka mengalami peradangan.
  • Menggaruk bekas luka yang terasa gatal, resiko scar (luka parut) semakin menebal dan melebar kemana-mana.

Mencegah Keloid pasca Operasi Caesar

Tidak banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terbentuknya bekas luka yang tidak diinginkan, seperti Hypertrophic Scar dan Keloid, apalagi bagi ibu yang memiliki bakat Keloid. Jadi, bila ada bakatnya ya kemungkinan besar tetap akan timbul. Namun bagi ibu yang merasa tidak memiliki Bakat Keloid, Keloid ini tetap bisa muncul, bila faktor penyebab yang telah Luvizhea.com sebutkan diatas, tidak diperhatikan dengan baik.

Maka dari itu untuk memperkecil risiko Keloid, sebaiknya ibu informasikan ke Dokter Kandungan saat merencanakan persalinan Caesar. Bila ibu memiliki bakat Scar atau Keloid, Dokter bisa mempertimbangkan teknik penjahitan serta memperhatikan penggunaan material benang yang bersifat absorbable, mudah diserap, dan tidak menimbulkan reaksi berlebihan pada jaringan kulit.

Selain itu, lakukan perwatan luka pasca Caesar dengan benar. Resiko Keloid lebih besar bila luka tidak dijaga dengan baik, misalnya terinfeksi, kotor atau tidak steril. Rawat luka sesuai anjuran Dokter dan habiskan antibiotik yang diberikan.

Biasanya ibu pasca melahirkan suka memakai korset yang bertujuan untuk mengecilkan dan mengencangkan perut pasca melahirkan. Sebaiknya hindari penggunaan korset yang ketat ataupun penggunaan celana yang pinggangnya berada pada garis luka setelah persalinan dengan Operasi Caesar, karena gesekan yang terjadi bisa menimbulkan rasa gatal serta meningkatkan resiko Scar semakin menebal dan melebar kemana-mana sehingga menyebabkan Keloid.

Selain itu juga, perhatikan kelembaban kulit dengan mengkonsumsi air putih lebih banyak. Sebab, kulit yang terjaga kelembabannya akan lebih optimal dalam proses penyembuhannya. Tentunya juga harus di dukung dengan asupan nutrisi yang cukup untuk mempercepat penyembuhan luka melahirkan dan pemulihan tubuh pasca melahirkan.

Baca juga: Pantangan dan makanan yang disarankan pasca melahirkan.

Cara menghilangkan Keloid bekas Operasi Caesar

Memang diawal setelah Operasi Caesar, Jaringan parut pada luka (Scar) akan terlihat besar, namun lambat laun akan mengecil dan tipis atau menghilang dengan sendirinya. Tetapi bila dibiarkan begitu saja saja tanpa tindakan pencegahan seperti yang telah Luvizhea.com sebutkan diatas, risiko menjadi Keloid juga berpeluang besar.

Apakah Keloid dapat dihilangkan dengan menggunakan krim penghilang bekas luka

Penggunaan krim atau salep pada bekas Operasi Caesar harus melihat faktor sebelumnya, yaitu penyebab mengapa sampai bisa timbul Keloid pada tubuh ibu, apakah karena faktor bakat keturunan atau karena penyebab lain? Selain itu, penggunaan krim penghilang bekas luka untuk menghilangkan Keloid tidak akan berpengaruh bila diberikan jauh setelah operasi berakhir. Krim penghilang bekas luka memang memberi efek dapat menghilangkan keloid, namun harus dilakukan sesegera mungkin. Minimal satu minggu pasca operasi. Karena setelah luka kering sekitar 2 minggu tersebut, Keloid biasanya sudah bisa dideteksi. Tandanya: daerah pinggir kulit bekas luka akan berwarna kemerahan dan menonjol di sepanjang luka bekas jahitan.

Berikut beberapa cara efektif untuk menangani masalah Keloid terutama pada bekas luka Operasi, yaitu:

Suntikan Cortisone

Cortisone adalah hormon Kortikosteroid (Glucocorticoid atau Triamsinolon Asetonide) yang berfungsi untuk menekan reaksi peradangan yang timbul pada daerah pinggir luka sehingga mengurangi gejala seperti pembengkakan dan reaksi alergi, serta memperkecil risiko timbulnya Keloid.

Metode suntik Cortisone ini bisa dilakukan di permukaan Keloid (Supralesi) bukan di dalam (Intralesi) dan tergolong pada tindakan yang aman dan tidak menyakitkan, karena dosis yang digunakan sangat sedikit dan terbukti ampuh membantu mengobati Keloid.

Hanya saja, suntikan Kortikosteroid kedalam tubuh biasanya menimbulkan ruam merah, hal ini terjadi sebagai akibat dari rangsangan terbentuknya pembuluh darah yang lebih sedikit. Keloid ini akan terlihat lebih kecil setelah dilakukan penyuntikan secara rutin (setiap satu bulan sekali), namun hasil terbaik sekalipun akan tetap meninggalkan bekas berupa kulit yang terlihat agak kasar bila dibandingkan dengan kulit normal lainnya.

Selain suntikan Kortikosteroid, menghilangkan Kelaoid juga bisa dengan memberikan suntikan Fluorouracil (Kemoterapi).

Penggunaan Laser

Terapi keloid dengan menggunakan laser merupakan salah satu terapi yang paling efektif untuk meratakan Keloid dan mengurangi ruam kemerahan yang ditimbulkan saat menjalani suntik Cortisone dalam menghilangkan Keloid. Terapi ini aman dan tidak akan terlalu menyakitkan, hanya saja dibutuhkan beberapa kali terapi untuk mndapatkan hasil yang maksimal, hal ini juga yang menjadi faktor biaya terapi laser relatif lebih mahal.

Bedah Operasi

Selain laser, tindakan pembedahan untuk memotong keloid bisa menjadi alternatif untuk menghilangkan Keloid. Namun tindakan ini tergolong tindakan yang berisiko, karena memotong Keloid akan dapat memicu timbulnya Keloid baru sebagai akibat dari luka sayatan ketika memotong Keloid tersebut.

Namun, beberapa Ahli Bedah mencapai keberhasilan dengan mengkombinasikan operasi dengan tindakan lain untuk meminimalisasi risiko tersebut, misalnya dengan metode radiasi atau menyuntikan Kortikosteroid atau menerapkan Pressure Dressing pada bagian luka setelah memotong keloid. Dan tindakan ini sebaiknya menunggu luka sembuh secara alami.

Penggunaan Silikon

Penggunaan plaster berisi Gel Silikon juga bisa menjadi salah satu cara ampuh dalam menghilangkan Keloid walaupun hasil setiap orang bervariasi. Caranya juga sangat mudah, yaitu tinggal menempelkan plaster pada Keloid selama beberapa jam dalam sehari selama beberapa minggu atau beberapa bulan.

Interferon

Interferon sebenarnya merupakan protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk membantu melawan virus, bakteri dan ancaman lainnya.

Metode yang biasa dilakukan adalah dengan memberikan Imiquimod Topikal (Aldara berupa krim atau salep), guna merangsang produksi Interferon pada tubuh secara alami.

Dalam studi baru, tindakan ini dapat memberikan hasil yang cukup menjanjikan karena dapat mengurangi ukuran besar dari Keloid, namun demikian hal ini belum dapat dipastikan apakah efek akan permanen atau hanya sementara.

Cryo therapy

Cryotherapy (terapi dingin) adalah pemanfaatan dingin yang biasanya digunakan untuk mengobati nyeri atau gangguan kesehatan lainnya. Terapi dingin dapat dipakai dengan beberapa cara, seperti menggunakan es atau nitrogen (berupa kabut atau cairan) dalam Cold Baths atau Cryosauna.

Jangan khawatir, Nitrogen bukanlah bahan berbahaya karena tidak beracun, dan 78.17% dari atmosfer bumi kita adalah gas Nitrogen.

Terapi ini bisa dilakukan setiap 20-30 hari sekali, dengan tingkat keberhasilan rata-rata berkisar antara 51%-74%.

Baca juga: Cara alami menghilangkan bekas luka gores, luka borok dan luka bakar.

Share:
Loading...