Penyebab Spotting “keluar flek” diluar siklus Menstruasi

| Luvi Zhea

Flek darahKeluarnya bercak darah atau flek diluar siklus menstruasi disebut dengan Spotting. Hampir setiap wanita pernah mengalami masalah ini dalam hidupnya. Dan itu, bukan berarti sesuatu yang buruk (membahayakan) sedang terjadi, namun demikian tetap saja kondisi tersebut bisa dikatakan sesuatu yang tidak normal. Karena seperti yang kita ketahui bersama, perdarahan vagina yang normal terjadi pada wanita adalah saat periode Menstruasi (Haid) atau setelah melahirkan (Masa Nifas).

Namun, bila keluarnya bercak darah (flek) pada saat yang tidak sesuai, seperti: sebelum usia 9 tahun, selama masa kehamilan, atau setelah menopause, maka ini perlu diwaspadai. Apalagi perdarahan terjadi dalam jumlah banyak dan berlangsung lama (berulang), disertai gejala nyeri pada perut bagian bawah.

Apa saja faktor yang dapat menyebabkan wanita mengalami Spotting atau keluarnya bercak darah (flek kecoklatan) diluar siklus Menstruasi?

Keluarnya bercak darah atau flek kecoklatan diluar siklus Menstruasi bisa terjadi secara tiba-tiba di waktu-waktu tertentu. Namun lebih sering ditemukan setelah berhubungan intim dengan pasangan.

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan kondisi tersebut bisa terjadi pada seorang wanita. Untuk itu Luvizhea.com kali ini akan membahas beberapa faktor penyebab mengapa seorang wanita bisa mengalami spotting atau pendarahan diluar siklus menstruasi. Dengan begitu, kita dapat menentukan apakah pendarahan yang terjadi itu tergolong normal atau abnormal.

Berikut beberapa faktor yang dapat menyebabkan seorang wanita mengalami Spotting atau keluarnya bercak darah diluar siklus Menstruasi:

Spotting yang masih berkaitan dengan siklus Menstruasi

Sering kita mendapati beberapa hari (tepatnya 1-2 hari) sebelum atau setelah menstruasi, kita mengalami spotting, yaitu keluarnya bercak darah dalam jumlah sedikit diluar siklus menstruasi tersebut. Bila jaraknya masih terlalu dekat seperti itu, kemungkinan besar hal tersebut masih berkaitan dengan siklus Menstruasi yang terjadi.

Flek yang keluar sebelum Menstruasi umumnya disebabkan oleh fluktuasi hormonal dan sebagai tanda dimulainya peluruhan sel dinding rahim. Sedangkan flek coklat yang keluar setelah masa Menstruasi selesai , bisa jadi itu merupakan sisa darah Menstruasi yang terlambat keluar akibat adanya faktor Koagulan atau pembekuan darah yang bertambah akibat perubahan hormon saat Menstruasi. Jadi hal ini masih tergolong normal atau wajar terjadi.

Dikatakan tidak normal bila Spotting atau perdarahan terjadi dalam jumlah banyak dan disertai dengan periode Menstruasi yang tidak teratur (jarak menstruasi lebih dari 2 bulan, atau tidak Menstruasi selama lebih dari 3 bulan, atau Menstruasi terjadi dua kali dalam 1 bulan, atau Menstruasi terjadi berkepanjangan atau selama lebih dari 10 hari). Apalagi disertai dengan gejala pusing, kulit pucat, nyeri perut berlebih, ataupun nyeri saat berhubungan seksual.

Spotting yang menandakan sedang terjadi pembuahan (tanda awal kehamilan)

Spotting atau flek yang terjadi diantara siklus Menstruasi, bisa jadi merupakan tanda awal kehamilan. Hal ini yang sering disalah artikan sebagai awal siklus Menstruasi atau pendarahan abnormal diluar siklus Menstruasi. Padahal pendarahan tersebut terjadi akibat rusaknya pembuluh darah pada lapisan dinding rahim akibat terjadinya proses implantasi atau menempelnya Embrio pada dinding rahim tersebut.

Pendarahan implantasi ini biasanya terjadi antara 6 hingga 12 hari setelah Masa Ovulasi atau pembuahan terjadi, dengan jumlah darah yang sedikit atau hanya berupa flek. Umumnya terjadi 1 hingga 2 hari saja dan kemudian berhenti.

Berbeda dengan pendarahan Menstruasi yang biasanya berlanjut beberapa hari dan dilanjutkan dengan pendarahan yang lebih banyak.

Selain itu, keluarnya bercak darah biasanya di ikuti oleh rasa kram di perut. Kram perut pada kondisi terjadinya kehamilan akan terjadi secara teratur. Dan kondisi kram perut ini, akan terus berlanjut sampai kehamilan masuk trimester kedua, sampai letak uterus posisinya berada ditengah dan disangga oleh panggul.

Untuk memastikan telah terjadi proses pembuahan, tentu saja kita harus melakukan tes kehamilan, yaitu:

  • Tes kehamilan dengan tes darah (yang dilakukan oleh tenaga medis / Dokter), tes ini bisa mendeteksi kehamilan setelah 3-4 hari setelah terjadinya implantasi.
  • Tes kehamilan dengan tes urine (menggunakan Testpack), tes ini bisa mendeteksi kehamilan setelah 6-12 hari setelah terjadi proses implantasi.

Bila setelah dilakukan tes kehamilan, Anda dinyatakan positif hamil, namun pendarahan tetap terjadi, bahkan dalam jumlah yang semakin meningkat dan disertai dengan rasa nyeri pada bagian perut, bisa jadi Anda mengalami Kehamilan Ektopik, Blighted Ovum, atau bisa jadi Anda mengalami Plasenta Previa.

Namun bila setelah dilakukan tes kehamilan Anda dinyatakan negatif atau tidak hamil, dan pendarahan tetap terjadi, maka konsultasikan lebih lanjut dengan Dokter untuk mengetahui penyebab pasti pendarahan tersebut terjadi. Bercak darah yang tidak berkaitan dengan Siklus Ovulasi biasanya berupa darah murni berwarna merah muda atau bisa juga berwarna kecoklatan (darah tua) dan meninggalkan noda. Bercak (flek) darah ini memperingatkan kita bahwa sedang terjadi “sesuatu” dalam tubuh kita.

Spotting akibat adanya masalah hormonal

Perubahan (fluktuasi) kadar hormonal umumnya dapat menyebabkan Spotting. Hal ini masih bisa dikatakan wajar, karena perubahan hormon yang sering di temukan pada wanita lebih sering di dipengaruhi oleh faktor stres, banyak pikiran, terlalu cemas (khawatir) atau akibat faktor kecapean setelah melakukan aktivitas fisik yang berat.

Anda tidak perlu khawatir, karena perdarahan Spotting yang terjadi akibat faktor ini biasanya akan berhenti dengan sendirinya tanpa bantuan medis.

Selain itu, ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan Spotting akibat ketidakseimbangan hormanal pada seorang wanita, yaitu antara lain:

Efek samping dari metode kontrasepsi yang digunakan

Salah satu efek samping menggunakan kontrasepsi hormonal adalah adanya bercak darah diluar Siklus Menstruasi, khususnya pada bulan pertama penggunaan kontrasepsi, terutama dalam penggunaan pil KB.

Bahkan menurut American Family Physicia, wanita akan mengalami bercak ringan selama 3-4 bulan pertama setelah ia mulai mengkonsumsi pil kontrasepsi. Kelupaan meminum pil kontrasepsi, juga akan meningkatkan kemungkinan terjadinya Spotting.

Bila bercak ini terjadi selama tiga siklus berturut-turut setelah menggunakan kontrasepsi oral ini, sebaiknya konsultasikan dengan Dokter agar bisa memberikan jenis kontrasepsi lainnya, atau mengatur kembali dosisnya. Walaupun kontrasepsi lainnya seperti KB suntik, KB implan ataupun IUD yang juga memiliki efek samping yang hampir sama, yaitu dapat menyebabkan Spotting diluar siklus Menstruasi.

Sindrom Ovarium Polikistik

Bercak kecokelatan di tengah siklus menstruasi mungkin menandakan Anda memiliki Defisiensi Progesterone atau Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS).

Sindrom Ovarium Polikistik merupakan suatu kondisi yang menyebabkan kelebihan produksi hormon Androgen yaitu hormon maskulin yang biasanya banyak ditemukan pada kaum laki-laki. Karena hormon Androgen berlebih, maka terjadi gangguan pada siklus menstruasi (haid) dan proses ovulasi.

Sedangkan Defisiensi Progesterone adalah dimana tubuh seorang wanita memiliki kadar hormon Progesterone yang sangat rendah. Wanita yang mengalami Defisiensi Progesterone mungkin tidak mengalami gejala sampai kondisi tersebut sudah menyebabkan kerusakan signifikan terhadap kesehatan. Namun gejala awal yang dapat dikenali antara lain ketidakmampuan tubuh menangani stres, mengalami siklus Menstruasi yang tidak teratur, mengalami retensi air, berat badan tidak terkendali, dan kekeringan vagina sehingga mudah mengalami spotting setelah melakukan hubungan seksual.

Secara garis besar, kedua kondisi ini memerlukan perhatian medis segera karena sering menjadi penyebab masalah ketidaksuburan pada wanita.

Masalah Tiroid

Tiroid merupakan kelenjar berbentuk kupu-kupu di bagian depan leher yang memproduksi hormon Tiroksin untuk mengontrol kecepatan metabolisme tubuh. Jenis yang paling umum dari gangguan Tiroid ini meliputi Hipotiroidisme, yaitu kelenjar Tiroid tidak menghasilkan cukup hormon. Sedangkan Hipertiroidisme, yaitu kelenjar Tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon.

Keduanya dapat menyebabkan gangguan metabolisme tubuh dan gangguan siklus Ovulasi (salah satunya: keluar bercak kecoklatan dari vagina diluar siklus menstruasi) yang berujung pada masalah infertilitas atau susah hamil pada wanita.

Pengaruh obat-obatan yang di konsumsi

Efek samping beberapa obat-obatan seperti Antikoagulan (pengencer darah), Tamoxifen (suatu obat untuk terapi kanker payudara), juga diketahui dapat menyebabkan pendarahan vagina diluar siklus Menstruasi (Spotting).

Bukan hanya itu, penghentian pengobatan untuk mengontrol hormon seperti pada pengontrolan kelahiran dan terapi penggantian hormon juga dapat menyebabkan pendarahan vagina.

Maka dari itu konsultasikan lebih lanjut pada Dokter Anda tentang efek samping dari obat yang Anda konsumsi tersebut apakah memiliki efek samping yang menyebabkan Spotting.

Pre-menopause atau Perimenopause

Selama siklus menstruasi normal, kadar hormon Estrogen dan Progesteron meningkat dan menurun dalam pola teratur. Ovulasi terjadi di tengah siklus, dan menstruasi terjadi sekitar 2 minggu kemudian. Selama Pre-menopause (saat usia Anda beranjak 45 tahun keatas), kadar hormon mungkin tidak mengikuti pola teratur ini. Akibatnya, Anda mungkin mengalami pendarahan tidak teratur atau hanya keluar bercak.

Gejala lain yang mungkin timbul antara lain: Beberapa bulan masa Menstruasi Anda mungkin lebih panjang dan lebih berat, dan di bulan lainnya mungkin lebih pendek dan lebih ringan. Selain itu, jumlah hari antara periode dapat meningkat atau menurun.

Spotting akibat hubungan seksual.

Kita sering mendapati Spotting atau keluarnya bercak darah setelah kita melakukan hubungan intim dengan suami yang dikenal dengan Post-Coital Bleeding. Perdarahan yang terjadi tersebut dapat diakibatkan karena gesekan selama berhubungan intim, sehingga menimbulkan perlukaan dalam vagina.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Spotting pasca melakukan hubungan seksual yang sering kita temui, diantaranya:

Kondisi vagina kering akibat kurangnya cairan lubrikasi

Kurangnya cairan lubrikasi ini bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Bisa karena faktor foreplay yang telalu singkat, faktor stres dan kecapean yang dialami wanita sehingga kurang bergairah saat melakukan hubungan seksual, atau kurangnya hormon Estrogen dalam tubuh (salah satunya akibat faktor menyusui). Seperti kita ketahui, hormon Estrogen berfungsi untuk membantu kesehatan jaringan vagina, mengatur lubrikasi alami vagina, keasaman dan kelastisitasan vagina.

Jadi bila kita melakukan hubungan seksual dengan suami dalam kondisi vagina kering, sangat mungkin penetrasi dan gesekan saat berhubungan seksual dapat menyebabkan trauma dan pendarahan pada saat atau setelah melakukan hubungan tersebut.

Bila Anda mengalami pendarahan akibat kurangnya cairan lubrikasi, Anda bisa minta pasangan untuk memperlama foreplay sebelum melakukan penetrasi.

Mengalami kondisi Atrofi Vagina

Pendarahan pada saat atau setelah berhubungan, umumnya juga menjadi gejala hadirnya Atrofi Vagina. Kasus ini bisa muncul pada wanita dari berbagai kalangan dan umur. Namun, umumnya hal ini dialami oleh wanita yang berusia diatas 45 tahun (saat memasuki Masa Menopause).

Atrofi Vagina adalah penipisan, pengeringan, dan peradangan dinding vagina karena tubuh kekurangan Estrogen. Kondisi ini kerap terjadi pada ibu menyusui dan setelah menopause.

Saat lapisan menipis dan mengalami peradangan inilah, Anda mungkin mengalami pendarahan yang tidak normal saat melakukan hubungan seksual, ataupun saat tidak melakukan hubungan seksual.

Namun bila Anda mendapati bercak darah saat atau usai melakukan hubungan seksual yang berlangsung terus menerus, dan atau pendarahan yang terjadi dalam jumlah banyak, sebaiknya segera periksa ke Dokter, karena pendarahan tersebut bisa menjadi penanda Anda terkena Penyakit Menular Seksual atau bahkan Kanker Serviks.

Spotting akibat infeksi dan peradangan pada Vagina, Serviks maupun Rahim

Setelah kita membahas penyebab kondisi Spotting yang masih bisa dikatakan normal diatas, sekarang kita akan membahas penyebab Spotting abnormal yang biasanya disebabkan oleh infeksi, dan ini perlu kita waspadai.

Karena organ reproduksi yang terinfeksi, dapat menyebabkanperadangan dan perdarahan vagina yang tidak teratur. Infeksi tersebut bisa menular atau bahkan menyebar keseluruh tubuh dan mengganggu kesehatan secara kelseluruhan.

Berikut beberapa infeksi yang dapat menyebabkan Spotting Abnormal, antara lain:

Penyakit menular seksual (PMS)

Spotting Abnormal yang disertai gejala biasanya disebabkan oleh penyakit menular seksual (PMS) seperti Herpes Genital, Sifilis, Human Papillomavirus (HPV) atau kutil kelamin, Hepatitis B, Klamidia, Gonorea.

Beberapa wanita kadang tidak tahu bila dirinya memiliki infeksi, namun kebanyakan kondisi ini biasanya ditandai dengan perubahan warna atau tekstur cairan vagina, perdarahan atau bercak (spotting) yang tidak teratur. Bahkan dalam beberapa kasus, flek darah yang keluar disertai dengan campuran nanah atau berbusa, serta bila diperhatikan terdapat perubahan fisik pada kulit di area Genital.

Penyakit ini dapat ditularkan oleh pasangan Anda melalui aktivitas seksual yang melibatkan vagina, penis, anus (anal), atau mulut (oral).

Untuk itu, agar terhindar dari Penyakit Menular Seksual ini, biasakan diri menjalani aktivitas seks yang sehat dan aman misalnya dengan menggunakan kondom, setia dengan pasangan, serta hindari seks oral dan seks anal.

Servisitis

Servisitis adalah peradangan serviks yang letaknya lebih ke bawah ujung sempit dari rahim dan yang menghubungkan ke vagina. Servisitis ini bisa terjadi saat Anda mengidap Penyakit Menular Seksual yang telah Luvizhea.com jelaskan diatas, seperti Klamidia dan Gonorea.

Terkadang, tidak ada tanda-tanda atau gejala yang ditunjukkan saat mengidap Servisitis. Namun, gejala yang ditemui dapat berupa perdarahan saat Anda tidak sedang Menstruasi, dan perubahan pada cairan yang keluar dari vagina seperti keputihan. Gejala lainnya bisa berupa sakit saat berhubungan seksual dan keluar darah dari vagina sesudahnya.

Vaginitis

Vaginitis adalah suatu peradangan pada vagina yang dapat mengakibatkan gatal, nyeri dan keluarnya cairan dari vagina yang abnormal. Penyebab Vaginitis biasanya karena adanya ketidakseimbangan antara bakteri baik dan bakteri jahat pada vagina. Vaginitis juga dapat disebabkan oleh kadar Estrogen yang berkurang setelah masa Menopause.

Pelvic Inflammatory Disease (PID)

Pelvic Inflammatory Disease meliputi penyakit radang panggul, infeksi bakteri pada dinding rahim, saluran tuba atau indung telur. Kondisi ini paling sering disebabkan oleh Klamidia dan Gonorea yang tertular melalui aktivitas seksual.

Gejala lainnya yang timbul adalah demam yang bisa datang dan hilang, rasa sakit dan nyeri di panggul, perut bagian bawah dan punggung bawah, serta mengalami Keputihan yang abnormal.

Kondisi ini bisa didiagnosis melalui tes darah dan ditangani dengan pemberian Antibiotik.

Spotting akibat abnormalitas Vagina, Serviks maupun Rahim

Abnormalitas pada vagina, serviks dan rahim dapat menyebabkan vagina mengeluarkan cairan berdarah (Spotting Abnormal) yang berkepanjangan.

Berikut beberapa Abnormalitas yang mungkin Anda alami, dimana kondisi tersebut memungkinkan Anda mengalami spotting abnormal yang berkepanjangan yang juga disertai gejala yang lebih kompleks. Yaitu:

Ektropion Serviks

Ektropion Serviks merupakan kondisi dimana Dinding Epitel bagian dalam Serviks menonjol keluar sehingga terjadi perubahan Epitel.

Kondisi ini sebenarnya masih bisa dikatakan normal, dan tidak ada hubungannya dengan kanker. Selain itu, Kondisi ini tidak berbahaya dan bisa menghilang dengan sendirinya. Namun ada pula yang membutuhkan perawatan.

Ektropion Serviks sering terjadi pada wanita muda, pada wanita yang sedang Menstruasi, ibu hamil, dan wanita yang mengkonsumsi pil kontrasepsi. Namun, bisa juga Ektropion Serviks dialami sejak kecil sebagai bawaan lahir.

Kondisi yang ditimbulkan Ektropion Serviks sering kali berupa Keputihan dan Post-Coital Bleeding (perdarahan pasca hubungan seksual).

Untuk mengatasinya, bila Ektropion Serviks disebabkan oleh penggunaan pil KB, yaitu dengan menghentikan penggunaan pil KB tersebut sehingga keluhanya juga akan berkurang. Atau bisa juga dengan melakukan tindakan Ablasi langsung pada Ektropion Serviks yang dilakukan oleh Dokter dengan Anastesi lokal.

Yang perlu diwaspadai dari gejala Ektropion Serviks ini adalah; seringkali tampilan Ektropion Serviks sulit dibedakan dengan Kanker Serviks stadium awal. Oleh karena itu, apabila Anda mengalami Ektropion Serviks sebaiknya diperiksakan langsung ke Dokter guna memastikan apakah itu kondisi normal atau suatu gejala awal dari kanker Serviks.

Polip Serviks

Polip merupakan pertumbuhan berlebih dari jaringan membran mukrosa yang mengalami hipertrofi dan bersifat tumor jinak non-kanker. Polip sebenarnya dapat muncul pada beberapa bagian tubuh seperti dalam hidung, pada rahim, dan usus besar. Namun Polip yang sering ditemukan pada wanita adalah Polip Rahim atau Polip Serviks.

Polip Rahim pertumbuhannya mirip dengan Endometrium (jaringan yang melapisi bagian dalam rahim) dan dapat tumbuh pada dinding dalam rahim atau dinding luar rahim. Wanita yang sedang dalam masa pre-menopause lebih sering mengalami Polip di dinding dalam rahim, sedangkan wanita yang telah mengalami menopause lebih sering mengalami Polip di dinding luar rahim. Dan Polip ini merupakan salah satu penyebab terjadinya pendarahan setelah menopause selain Kanker Rahim dan Kanker Serviks.

Untuk Polip Serviks, pertumbuhan jaringan abnormal tersebut terjadi pada saluran leher rahim (Serviks) atau di dalam Kanal Serviks, sehingga terkadang dapat menonjol ke dalam vagina. Inilah yang menyebabkan perdarahan pada vagina setelah berhubungan seksual.

Kebanyakan Polip Serviks ini biasanya terjadi pada wanita berusia 40 hingga 50 tahun yang memiliki lebih dari satu orang anak. Polip Serviks juga bisa terjadi selama kehamilan, hal ini terjadi karena meningkatnya kadar hormon estrogen selama kehamilan tersebut.

Bila ingin menghilangkan Polip yang menyebabkan pendarahan, operasi mungkin diperlukan untuk mengatasinya.

Adenomyosis dan Endometriosis

Pertumbuhan abnormal dari Endometrium, baik itu ke dalam lapisan otot (Adenomyosis) atau keluar dari rongga rahim (Endometriosis) dapat memicu timbulnya flek, baik ringan maupun berlebihan.

Penyebab Adenomyosis dan Endometriosis belum diketahui secara pasti, tetapi penyakit ini biasanya menghilang setelah menopause. Namun bila Anda mengalami ketidaknyamanan parah akibat kondisi ini perawatan tertentu mungkin dapat membantu mengurangi gejala, tetapi Histerektomi adalah satu-satunya pengobatan yang dapat di andalkan.

Fibroid Uteri

Fibroid Uteri atau Fibromyomas yaitu pertumbuhan benjolan atau tumor jinak di dalam rahim atau orang sering menyebutnya dengan Myom. Seseorang akan lebih mungkin memiliki Fibroid di rahim bila ada anggota keluarga yang memilikinya (berhubungan dengan faktor keturunan).

Selain menyebabkan bercak, Fibroid juga bisa menyebabkan Menstruasi hebat, waktu Menstruasi yang lama, ketidaknyamanan atau adanya tekanan pada panggul, sering Buang Air Kecil, sulit mengosongkan kandung kemih, dan nyeri pada area punggung.

Untuk itu, bila mengalami Spotting disertai gejala diatas, sebaiknya konsultasikan dengan Dokter. Fibroid biasanya diatasi melalui operasi pengangkatan (Myomectomy) atau perawatan dengan obat-obatan seperti Androgen.

Hiperplasia Endometrium

Perlu kita ketahui sebelumnya, bahwa Endometrium merupakan lapisan yang tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka untuk mempersiapkan diri menghadapi terjadinya kehamilan, agar hasil dari pembuahan dapat tertanam. Bila tidak terjadi kehamilan, lapisan ini akan meluruh dan keluar sebagai darah Menstruasi.

Dalam kondisi Hiperplasia Endometrium, lapisan rahim yang menebal ini menjadi abnormal. Sehingga dapat menyebabkan perdarahan pervagina yang tidak teratur atau pendarahan berat ketika Menstruasi.

Hiperplasia Endometrium paling sering disebabkan oleh hormon Estrogen berlebih tanpa cukup Progesteron.

Hiperplasia Endometrium dapat diobati dengan Terapi Progestin atau dapat diangkat dengan menggunakan Histeroskopi atau D & C (Dilatation and Curretage). Namun, karena wanita dengan Hiperplasia Endometrium berisiko tinggi mengalami kanker Endometrium, maka sebaiknya juga dilakukan Biopsi Endometrium Reguler untuk memastikan bahwa Hiperplasia telah diobati dengan tuntas.

Kanker Endometrial

Kanker Endometrial adalah sebuah jenis kanker yang menyerang rahim atau sistem reproduksi wanita. Kanker ini juga sering disebut kanker Endometrium karena umumnya muncul dengan menyerang sel-sel yang membentuk lapisan dinding rahim. Selain itu, kanker ini juga dapat menyerang otot-otot di sekitar rahim sehingga membentuk Sarkoma Uteri.

Selain menimbulkan bercak kecoklatan antara waktu menstruasi, gejala lainnya yang timbul dari Kanker Endometrial ini adalah keluar cairan abnormal, nyeri panggul dan hubungan seksual yang menyakitkan. Walau tidak semua pendarahan abnormal disebabkan oleh kanker rahim, tapi Anda tetap perlu waspada dan sebaiknya memeriksakan diri ke Dokter. Terutama bila Anda:

  • Sudah Menopause, tapi tetap mengalami pendarahan.
  • Belum Menopause, tapi mengalami pendarahan diluar siklus menstruasi dengan gejala yang telah disebutkan diatas.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan panggul dan Biopsi untuk mendiagnosis Kanker Rahim.

Penyakit ini bisa diobati dengan melakukan Operasi Pengangkatan Rahim (Histerektomi) dengan pengangkatan kelenjar getah bening di dekatnya, Kemoterapi dan Radiasi.

Sekedar informasi tambahan, kebanyakan wanita mengalami kanker setelah Menopause (usia diatas 50 tahun). Untuk itu bila Anda atau ibu Anda mengalami bercak perdarahan setelah masa Menopause, bisa jadi itu adalah tanda dari kanker Endometrium. Dan sebaiknya segera diperiksa ke Dokter.

Kanker Serviks

Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim wanita. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. Semua wanita dari berbagai usia berisiko menderita kanker serviks. Tapi, penyakit ini cenderung memengaruhi wanita yang aktif secara seksual.

Pada tahap awal, kanker serviks biasanya tidak memiliki gejala. Namun pada beberapa kasus tetap menimbulkan gejala yang paling umum, yaitu:

  1. Keluarnya cairan dengan bau yang aneh atau berbeda dari biasanya, berwarna merah muda, pucat, cokelat, atau mengandung darah.
  2. Rasa sakit setiap kali melakukan hubungan seksual dan disertai keluar bercak darah setelahnya.
  3. Perubahan siklus menstruasi tanpa diketahui penyebabnya, misalnya menstruasi yang lebih dari 7 hari untuk 3 bulan atau lebih, atau pendarahan dalam jumlah yang sangat banyak.

Pengobatan kanker serviks tergantung kepada beberapa faktor. Kanker serviks bisa diobati dengan cara operasi saja bila diagnosis dilakukan pada tahap awal. Pada beberapa kasus, hanya serviks yang diangkat dan rahim bisa dibiarkan saja. Pada kondisi yang lebih serius, rahim perlu diangkat seluruhnya. Selain itu prosedur kombinasi Radioterapi dan Kemoterapi mungkin juga diperlukan untuk mengatasi Kanker Serviks stadium lanjut.

Yang perlu kita ketahui, hampir semua kasus Kanker Serviks disebabkan oleh Human Papillomavirus atau HPV. Sehingga untuk melakukan tindakan pencegahan Anda bisa melakukan vaksinasi HPV dan Screening rutin pada Serviks. Selain itu, hindari seks bebas, dan lakukan pola hidup sehat (salah satunya dengan berhenti merokok).

Bagaimana mengatasi keluarnya flek (bercak darah) diluar siklus Menstruasi?

Banyak sekali ya kemungkinan yang bisa menyebabkan Anda mengalami keluarnya flek (bercak darah) dari vagina diluar siklus Menstruasi atau setelah berhubungan, seperti yang Luvizhea.com sebutkan diatas. Baik dari kemungkinan yang paling ringan hingga kemungkinan yang terburuk.

Kesimpulannya, Anda tidak perlu berkonsultasi ke Dokter, bila mengalami pendarahan saat berhubungan intim hanya sekali saja, karena bisa jadi hal tersebut adalah hal yang wajar terjadi, terutama ketika baru pertama kali melakukan hubungan seksual untuk pengantin baru, atau untuk pengantin lama hal itu bisa jadi karena trauma lecet akibat kurangnya lubrikasi (kurangnya pemanasan) saat melakukan hubungan seksual.

Yang perlu kita lakukan adalah sebaiknya hindari berhubungan seksual pada keesokan harinya, bila hari ini kita mengalami Spotting. Gunakan waktu untuk beristirahat hingga semua kembali pulih, terutama bila pendarahan membuat tubuh menjadi merasa lelah.

Selain itu, lakukan tes kehamilan, untuk mengetahui apakah hal tersebut karena Anda saat ini sedang hamil. Karena saat wanita sedang hamil, mereka riskan mengalami pendarahan atau mengeluarkan flek atau bercak darah, akibat: kelelahan, stres, kontraksi karena habis berhubungan intim, akibat anemia, atau kondisi lainnya yang mempengaruhi kehamilan seperti kandungan lemah hingga indikasi keguguran. Jangan sampai Anda mengalami keguguran, karena terlambat menyadari bahwa saat ini Anda sedang hamil.

Namun bila Anda khawatir, terutama bila pendarahan yang terjadi berulang kali (lebih dari satu kali) saat atau setelah berhubungan intim, maka sebaiknya segera konsultasikan ke Dokter. Apalagi bila Anda curiga bahwa pendarahan yang terjadi tersebut disebabkan oleh hal-hal yang bersifat medis, karena terdapat gejala atau kondisi lain yang menyertainya, seperti pendarahan abnormal yang semakin menjadi, mengalami demam, kepala pusing, badan terasa lemas, muncul nyeri pada perut bawah yang berkepanjangan, dan lain sebagainya.

Jangan melakukan tindakan (pengobatan alternatif) yang belum tentu terbukti kebenarannya. Untuk itu segera periksa ke Dokter dan percayakan penanganannya ke Dokter. Jangan sampai, ketika Anda menyadari apa yang telah Anda lakukan itu adalah salah. Semuanya sudah terlambat, karena kondisi Anda yang semakin memburuk dan tidak segera mendapat penanganan yang tepat. Contoh kasus pada penanganan Kanker Serviks atau Kanker Rahim.

Untuk itu, bila keluhan terus berlanjut, untuk memastikan penyebab mengapa Anda sering mengeluarkan bercak darah (flek) dari vagina, sebaiknya Anda memeriksakan diri ke Dokter. Dan, Dokter akan melakukan evaluasi dengan melakukan serangkaian tes, seperti:

  • Melakukan serangkai tes fisik yang menekankan pada Tiroid, payudara, dan daerah panggul, terutama pada wanita dengan siklus menstruasi yang tidak teratur.
  • Pap Smear, tes ini dilakukan untuk menentukan kesehatan leher rahim (serviks) atau menemukan adanya perubahan abnormal pada sel-sel. Dengan kata lain untuk mengetahui risiko Kanker Serviks yang mungkin sedang dialami.
  • Tes kehamilan, terutama pada wanita pre-menoupause.
  • Tes darah, untuk mengetahui jumlah darah Anda, mengetahui level hormon Progesteron, serta untuk mengevaluasi fungsi Tiroid, liver, dan ginjal.
  • USG untuk melihat adanya pertumbuhan sel dalam rahim atau panggung yang abnormal seperti Polip, tumor (kista), myom, atau kanker.

Dengan mengetahui penyebab yang mendasarinya, maka penanganan yang tepat dapat diberikan sesuai dengan kondisi yang ada. Bahkan tindakan pencegahan pun dapat dilakukan, karena penyebabnya bisa diketahui sejak dini.

Dokter akan merekomendasikan obat-obatan tertentu atau perawatan khusus untuk mengatasi kondisi tersebut. Bahkan tindakan operasi pengangkatan, Kemoterapi dan terapi radiasi, mungkin bisa juga dilakukan, bila alasan yang mendasari Anda sering mengeluarkan flek (bercak darah) tersebut di sebabkan oleh pertumbuhan sel kanker.

Sementara itu, beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk meminimalisir risiko terjadi Spotting, antara lain:

  • Hindari stres dan aktifitas berat.
  • Menjaga pola hidup sehat, dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan olahraga teratur.
  • Selalu jaga kesehatan organ intim agar terhindar dari bakteri, virus, jamur dan infeksi lainnya.
  • Hindari berhubungan seksual tanpa menggunakan pengaman, atau berganti-ganti pasangan (seks bebas).
  • Minum obat sesuai anjuran Dokter.

Demikian, semoga informasi yang Luvizhea.com berikan kali ini bisa bermanfaat untuk Anda dan ibu-ibu rumah tangga lainnya.

Share:
Loading...