ARTIKEL

Waktu yang aman “berhubungan” saat hamil

| Luvi Zhea

Bolehkah hubungan suami istri saat hamilSebagian orang percaya bahwa berhubungan suami istri ketika hamil dapat membantu kelancaran proses persalinan. Saat berhubungan ini, prostaglandin yang dikeluarkan sperma dapat mengakibatkan kontraksi guna membantu penekanan sehingga kepala bayi dapat masuk ke bagian bawah panggul.

Ya membantu juga secara tidak langsung karena terjadi kontraksi, leher rahim menjadi lunak. Namun hubungan suami istri pada usia kehamilan tua tetap harus berhati-hati. Waktu yang tepat untuk berhubungan suami istri sewaktu hamil yaitu setelah trimester pertama hingga usia kandungan 7 bulan. Pada waktu ini, ibu hamil sudah rileks dan lebih enakan.

Baca juga : Posisi tidur yang baik selama hamil.

Pada trimester pertama kehamilan, sebaiknya Anda menunda hubungan suami istri terlebih dahulu. Pasalnya, hubungan suami istri di awal kehamilan mudah terjadi kontraksi. Ari-ari belum terbentuk sehingga dapat mengakibatkan keguguran bila tejadi kontraksi dahsyat.

Sedangkan pada usia kehamilan 7-9 bulan, frekuensi hubungan suami istri sebaiknya dikurangi sampai janin berusia 9 bulan karena sangat membahayakan janin. Pasalnya kontraksi bisa mengakibatkan pecah ketuban dan bayi dapat terinfeksi. Sementara bila bayi harus dilahirkan saat masa tersebut, paru-parunya belum matang. Dan waktu yang sangat membahayakan yaitu antara kehamilan usia 7-8 bulan.

Beda halnya pada kehamilan berusia 9 bulan atau usia kehamilan di atas 36 minggu, bayi sudah siap untuk dilahirkan bila terjadi kontraksi yang berakibat air ketuban pecah. Dan saat ini paru-paru bayi sudah matang, sehingga apabila bayi lahir sudah aman karena telah mampu bernapas diluar tubuh ibu.

Posisi hubungan suami istri yang aman saat hamil

Banyak orang menganggap hubungan suami istri saat hamil sangat berbahaya terhadap janin karena penis, orgasme atau ejakulasi dianggap dapat mencederai bayi. Sebenarnya semua tidaklah demikian. Hubungan suami istri saat hamil apalagi menjelang persalinan dilakukan dengan sangat rileks.

Posisi yang baik dalam berhubungan suami istri saat hamil, yaitu yang tidak menekan perut secara langsung. Salah satu posisi terbaik adalah setengah duduk, karena posisi ini tidak menekan perut.

Atau dapat pula Anda mengambil posisi suami berlutut dengan satu lutut untuk menahan berat badannya, Anda dapat mencoba dan memodifikasi posisi ini agar hubungan suami istri lebih menyenangkan, nyaman, dan aman tentunya bagi janin.

Baca juga: Resiko sperma dikeluarkan ‘didalam’ saat hamil.

Dan ingat, hubungan suami istri harus dilakukan dengan nyaman agar jangan sampai terjadi kontraksi yang hebat untuk menghindari pecah ketuban terutama di usia kehamilan 7-8 bulan. Pasalnya, ketuban pecah dapat menyebabkan infeksi ke tubuh janin, makanya begitu pecah ketuban, harus segera konsultasikan ke Dokter kandungan. Karena golden periodenya adalah 6 jam, kalau lebih dari 6 jam harus diberi antibiotik supaya infeksinya tidak semakin menyebar.

Masalah lain yang harus diwaspadai jika terjadi kontraksi yang hebat adalah tali pusat akan terjepit diantara janin dan rahim. Akibatnya dapat terjadi gawat janin. Janin menjadi sesak dan kehabisan oskigen karena oksigen tidak dapat masuk ke dalam tubuh janin tersebut. Saat janin kehabisan oksigen pasti juga ada proses mengisap, sehingga janin bisa menelan air ketuban ke paru-paru.

Tetapi selain itu, dalam situasi tertentu hubungan suami istri pada trimester kedua (4-7 bulan) bisa tidak diperbolehkan, khususnya pada ibu hamil dengan plasenta previa, dimana plasenta menghalangi serviks yang nantinya bisa beresiko mengalami persalinan prematur.

Baca juga: Hamil lagi ketika dalam keadaan mengandung.

Share: