Mengatasi Anemia pada ibu hamil menjelang persalinan

| Luvi Zhea

Hb rendah pada ibu hamilWalaupun memiliki gejala yang hampir mirip, Anemia dan Tekanan darah rendah merupakan kondisi yang berbeda dan tidak selalu berkaitan.

Tekanan darah rendah (Hipotensi), menunjukkan kondisi dimana tekanan darah lebih rendah dari tekanan darah normal yaitu 120/80 mmHg (dengan kata lain kebalikan dari Hipertensi). Atau menurut para pakar, tekanan darah rendah baru dapat terjadi apabila tekanan sistoliknya kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastoliknya di bawah 60 mmHg. Untuk mengetahui tekanan darah seseorang, bisa dengan menggunakan alat yang disebut Tensi meter. Gejala dari tekanan darah rendah antara lain: pening hingga terasa ingin pingsan, kurangnya konsentrasi, pandangan kabur, mual, demam, kulit pucat, sesak napas, kelelahan, depresi dan mendadak haus.

Sedangkan Anemia merupakan kondisi dimana seseorang kekurangan atau tidak memiliki sel-sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen yang memadai ke setiap organ dan jaringan pada tubuhnya. Untuk mengetahui seseorang mengalami Anemia atau tidak, bisa diukur kadar Hemoglobinnya dengan alat yang disebut Hb meter. Gejala dari Anemia ini juga bervariasi: mulai dari kelelahan, muka pucat, jantung berdetak cepat tapi tidak beraturan, sesak napas, nyeri dada, pening, gangguan kognitif, hingga tangan dan kaki terasa dingin, serta mengalami sakit kepala.

Sebagian besar kasus Anemia ini selain karena kelainan atau karena suatu penyakit, juga banyak ditemukan pada wanita yang sedang hamil. Untuk itu kali ini Luvizhea.com akan membahas lebih lanjut tentang kondisi Anemia atau kadar Hemoglobin (Hb) rendah pada masa kehamilan.

Pada wanita yang tidak hamil, kadar normal Hemoglobin (Hb) adalah 12-16 gr/dl. Sedangkan pada ibu hamil, kadar Hemoglobin (Hb) bisa dikatakan normal apabila tidak kurang dari 11 gr/dl pada trimester pertama; dan 10,5 gr/dl pada trimester akhir kehamilan.

Pada dasarnya kehamilan memang mengakibatkan kadar Hemoglobin (Hb) wanita lebih rendah dibandingkan saat ia tidak hamil. Hal ini karena pada ibu hamil biasanya terjadi peningkatan jumlah plasma dan eritrosit. Peningkatan plasma sebanyak tiga kali pada jumlah eritrosit ini akan menyebabkan penurunan perbandingan Hemoglobin-Hematokrit sehingga akan meningkatkan risiko Anemia Fisiologis pada saat hamil. Walaupun begitu, kondisi ini bisa dikatakan normal dan bukan merupakan kelainan, namun tetap harus ditangani dengan tepat.

Faktor penyebab Anemia atau Hb rendah pada kehamilan

Seperti yang telah dijelaskan Luvizhea.com diatas, Kadar Hemoglobin (Hb) pada wanita hamil biasanya menurun karena peningkatan plasma dan eritrosit karena faktor kehamilan itu sendiri. Namun, apabila Anemia pada wanita hamil tersebut kurang dari batas minimal yang seharusnya, biasanya gangguan produksi Hemoglobin tersebut juga dikarenakan ibu hamil kekurangan (Defisiensi) zat besi, asam folat ataupun vitamin B12. Hal inilah yang paling banyak terjadi. Karena pada saat hamil tubuh membutuhkan nutrisi terutama zat besi, asam folat dan vitamin B12 jauh lebih besar untuk menunjang kehamilan itu sendiri dibanding ketika ia tidak hamil.

Pada kondisi tertentu Anemia pada ibu hamil dapat juga terjadi karena beberapa faktor lain, baik yang muncul ketika sedang hamil maupun masalah yang sudah ada sebelum hamil, diantaranya:

  • Terjadinya flek atau perdarahan baik sedikit maupun banyak. Biasanya pada Anemia defisiensi zat besi sering terjadi flek, atau bisa juga karena Buang Air Besar (BAB) berdarah yang diakibatkan wasir dan sembelit saat hamil, dan lain-lain.
  • Sel darah merah pecah seperti pada kasus Talasemia, Defisiensi G6PD (enzim Glukosa-6-Fosfat-Dehidrogenase), dan lain-lain.
  • Penggunaan obat-obatan PTU untuk Hipertiroid, karena ada data yang mengatakan pernah terjadi efek samping berupa Anemia akibat penekanan pada sumsum tulang belakang, namun efek samping ini sangat jarang terjadi.
  • Kegagalan sumsum tulang.
  • Kanker darah seperti Leukemia.
  • Infeksi parasit seperi Malaria.

Dengan demikian untuk mengetahui penyebab pasti dari Anemia (yang mungkin tergolong Anemia Berat) pada ibu hamil diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui jumlah eritrosit, elektroforesis hemoglobin, jumlah retikulosit dan kadar besi serum.

Risiko Anemia atau Hb rendah pada ibu hamil dan janin

Apabila seseorang memiliki jumlah Hemoglobin (Hb) yang lebih rendah dari ukuran normal, hal tersebut dapat menandakan bahwa kadar oksigen dalam darahnya juga cukup rendah, yang pada akhirnya dapat berdampak pada gangguan kesehatan seperti Anemia dan juga sesak nafas.

Dampak lain dari rendahnya tingkat Hemoglobin (Hb) seseorang adalah semakin memburuknya masalah jantung yang dialami seseorang yang mana gangguan ini ditandai dengan timbulnya rasa nyeri pada dada serta jantung berdebar-debar. Hal ini dikarenakan organ jantung bekerja ekstra keras untuk mengatasi kekurangan oksigen dalam darah.

Hal ini tentu juga akan mempengaruhi pertumbuhan janin dan daya tahan tubuh apabila seseorang tersebut adalah ibu yang sedang hamil. Karena sel-sel darah merah (Hb) tersebut juga memiliki fungsi yaitu membawa oksigen dan zat-zat nutrisi ke plasenta.

Anemia yang terjadi pada ibu hamil karena defisiensi zat besi yang tidak ditangani dengan tepat, maka dapat meningkatkan risiko seperti keluarnya flek darah atau keguguran pada trimester awal kehamilan, dan pada trimester selanjutnya dapat mengganggu perkembangan janin, kelahiran prematur, hingga Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR). Sedangkan pada ibu hamil akan mengalami kehilangan sejumlah besar darah pada saat persalinan dan mengalami depresi setelah melahirkan.

Sedangkan risiko Anemia pada kehamilan yang disebabkan karena defisiensi folat sebenarnya hampir sama dengan defisiensi zat besi yaitu dapat mengganggu perkembangan janin, melahirkan anak yang “kurang pintar” atau juga dapat meningkatkan risiko bayi mengalami cacat lahir yang serius pada otak dan tulang belakang .

Begitu juga dengan Anemia yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12, yang juga akan berdampak pada perkembangan janin. Namun hal ini juga akan meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan cacat tabung saraf (Spina Bifida).

Jadi apapun penyebabnya, Anemia pada ibu hamil baik Anemia ringan maupun Anemia dalam kategori berat, akan berdampak buruk pada ibu hamil dan janin selama masa kehamilan hingga proses persalinan seperti yang telah Luvizhea.com jelaskan diatas. Bahkan apabila kadar Hb hanya mencapai atau dibawah 4 gr/dl akan memperburuk kondisi jantung atau bisa juga menyebabkan kematian akibat pendarahan pada saat persalinan .

Apakah Anemia atau Hb rendah pada ibu hamil dapat melahirkan secara normal?

Setiap wanita melahirkan baik Caesar ataupun normal pasti mengeluarkan darah. Berapa banyaknya tergantung lama persalinan. Itulah sebabnya semua ibu setelah melahirkan pasti terlihat pucat dan kelelahan. Itu karena mereka kekurangan darah.

Masalahnya apabila Hemoglobin (Hb) ibu turun terus, maka sebaiknya ibu juga harus berhati-hati saat akan melahirkan baik normal atau dengan operasi Caesar, karena kadar Hemoglobin (Hb) yang rendah bisa membahayakan apabila terjadi perdarahan.

Apalagi ibu hamil yang mengalami Anemia juga akan mengalami kesulitan saat bersalin, seperti rahim tidak berkontraksi dengan baik dan cepat lelah mengejan. Apabila hal ini terjadi, proses persalinan harus dibantu dengan vacum atau melalui operasi Cesar. Begitu juga ketika selesai persalinan, rahim ibu yang mengalami Anemia juga akan sulit berkontraksi untuk kembali ke ukuran normal, sehingga harus dibantu dengan obat-obatan.

Untuk itu, Apabila kadar Hemoglobin (Hb) tetap dibawah 10,5 gr/dl menjelang persalinan, perlu dipertimbangkan untuk transfusi darah sampai kadar Hb mencapai 10,5 gr/dl, untuk mencegah terjadinya perdarahan dan komplikasinya.

Namun apabila telah didapati kadar Hb baik sebelum ataupun menjelang trimester akhir kehamilan, maka perlu dilakukan analisa lengkap untuk mencari penyebab dan solusinya untuk persiapan proses persalinan nantinya, karena transfusi darah hanyalah pengobatan sementara.

Jadi bisa tidaknya ibu hamil yang mengalami Anemia untuk melahirkan secara normal, tergantung dari kondisi ibu saat menjelang persalinan. Dan diperlukan persiapan dan perhatian lebih agar proses persalinan tersebut belangsung dengan lancar. Misalnya saja dengan menyiapkan donor darah ketika proses persalinan untuk antisipasi kekurangan darah saat proses persalinan berlangsung.

Tidak ada salahnya ibu hamil aktif bertanya mengenai kadar Hb dan tekanan darah saat hamil kepada Dokter kandungan saat melakukan pemeriksaan. Sebab apabila penyebab rendahnya kadar tersebut sudah benar-benar diketahui, maka pengobatan dan tindakan medis yang tepat pun bisa dilakukan menjelang persalinan.

Apabila diperlukan, ibu hamil juga bisa berkonsultasi dengan Hematolog untuk mengetahui adanya kemungkinan Anemia tersebut diakibatkan oleh Thalassemia minor. Tentu sebaiknya suami juga perlu ikut memeriksakan diri untuk mengetahui apakah ia juga pembawa Thalassemia minor ini. Hal ini penting untuk antisipasi bayi yang akan dilahirkan. Karena Thalassemia merupakan suatu kelainan darah yang bersifat genetik atau keturunan, yang bisa diturunkan baik dari ibu atau ayah ke anaknya.

Pencegahan dan Pengobatan Anemia pada ibu hamil

Pada pemeriksaan pertama kehamilan, Dokter biasanya akan memeriksa riwayat kesehatan ibu hamil. Apabila ada riwayat Anemia sejak sebelum hamil, Dokter akan merujuk pemeriksaan darah di laboratorium untuk mengetahui kadar Hemoglobin (Hb) dan lainnya. Apalagi bila Anemia tersebut terjadi berulang, maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari penyebabnya seperti:

  • Pemeriksaan darah lengkap.
  • Pemeriksaan darah tepi.
  • Pemeriksaan feses dan urin.
  • Kadar zat besi darah (ferritin, serum iron, TIBC), Karena pada Anemia yang disebabkan defisiensi besi akan terjadi penurunan, sedangkan pada Thalassemia biasanya normal. Pada Thalassemia minor dapat tidak diketahui sampai dewasa, karena biasanya hanya gejala ringan seperti lemas dan mudah lelah. Biasanya pada Thalassemia minor tidak sampai membutuhkan transfusi darah secara rutin karena penurunan Hb tidak terlalu signifikan.
  • Analisa sumsum tulang, dan lain-lain.

Anemia pada ibu hamilHal ini penting karena penanganan Anemia itu sendiri bervariasi, mulai dari konsumsi suplemen hingga tindakan medis yang disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya setelah dilakukan pemeriksaan tersebut.

Di Indonesia, Anemia pada ibu hamil lebih sering disebabkan oleh kekurangan zat besi, asam folat maupun vitamin B12 seperti yang Luvizhea.com jelaskan sebelumnya. Sehingga dibutuhkan asupan suplemen tambahan untuk mengatasi masalah Anemia pada ibu hamil. Namun untuk mendapatkan suplemen tambahan tersebut sebaiknya dikonsultasikan dengan Dokter.

Ibu hamil memerlukan 27 miligram zat besi per hari, selain melalui suplemen, kekurangan zat besi juga bisa ditangani melalui pola makan. Hal ini untuk meningkatkan Hemoglobin (Hb) dalam darah sekaligus menjadi tindakan pencegahan Anemia pada ibu hamil. Berikut makanan yang kaya akan zat besi diantaranya: daging merah tanpa lemak, sayuran berdaun hijau atau gelap (bayam, daun singkong, kankung, dan sawi), Kacang-kacangan (kacang polong dan kacang kedelai), kuning telur, ikan, buah kering (kismis dan plum), dan lain sebagainya.

Serta cukupi asupan vitamin C yang dapat ditemukan dalam buah jeruk, stroberi, kiwi, dan tomat. Selain untuk daya tahan tubuh yang lebih baik, juga dapat membantu tubuh dapat menyerap zat besi dengan lebih baik.

Selain itu ada baiknya ibu hamil yang mengalami Anemia dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat diantaranya: bayam, brokoli, kol atau kubis, pisang, alpukat, jeruk, pepaya, kentang, kacang kacangan (kacang merah), biji-bijian (biji bunga matahari, gandum tortilla), sereal, hati ayam, hati sapi, dan lain sebagainya.

Bukan hanya itu cukupi juga makanan yang mengandung vitamin B12, yang bisa didapat pada: Oatmeal, daging sapi, kepiting, kerang, ikan sarden, dada ayam, telur, susu, yogrut, dan lain sebagainya.

Baca juga: Mencegah dan mengatasi sembelit “konstipasi” saat hamil.

Share:
Loading...