BERANDA » PARENTING » Memilih susu formula yang terbaik untuk bayi

Memilih susu formula yang terbaik untuk bayi

| LuviZhea Chandra

Sufor untuk bayiKetika bayi berusia 0-6 bulan, bayi hanya bisa menyerap ASI, karena ASI sangat sesuai dengan pencernaan bayi yang masih sangat rentan dan sangat sensitif. Maka dari itu pemberian ASI secara eksklusif sangat dianjurkan pada masa ini. Kandungan ASI yang sangat spesifik, seperti AA-DHA dan lain sebagainya bisa diserap sempurna oleh otak dan tubuh bayi. Sementara kandungan dalam susu formula secara umum cuma bisa diserap bayi 5-10% saja.

Ketika bayi berusia 6-12 bulan, Bayi menyerap 70% ASI, dan 30%-nya adalah sari makanan. Di masa ini Ibu bisa mulai mengenalkannya pada makanan padat pendamping ASI, tetapi perlu di ingat, ini bukan untuk memenuhi kebutuhan total nutrisi harian anak. Pada masa ini apabila Ibu memberikan susu formula hanya bisa diserap sekitar 15-20%-nya saja.

Ketika bayi berusia 12-18 bulan, Bayi bisa menyerap ASI 50%, sedangkan sari makanan dan susu formula yang diberikan hanya bisa diserap 50%-nya.

Ketika bayi berusia usia 18-24 bulan, bayi menyerap ASI sebesar 30%, sedangkan 70%-nya dari sari makanan dan susu formula yang Ibu berikan. Pada usia ini sebenarnya peran ASI lebih pada daya tahan tubuh (Body Immunity), karena pada usia ini bayi sangat rentan terkena virus atau bakteri. Kenapa demikian? Hal ini lebih disebabkan bayi sudah mulai lebih banyak memakan makanan padat dan mulai mengalami fase oral atau mulai memasukkan semua barang ke mulut.

Jadi biar bagaimanapun, manfaat ASI dan kandungan didalamnya sebenarnya jauh lebih baik dan masih bermanfaat bagi tubuh bayi, bahkan hingga bayi berumur lebih dari 2 tahun. Tetapi apabila memberikan ASI esklusif selama 6 bulan pertama dan berlanjut sampai bayi Ibu berusia 2 tahun ini tidak memungkinkan untuk ibu berikan karena suatu hal, apa boleh buat, biasanya ibu mau tidak mau harus memilih susu formula sebagai pengganti ASI.

Kandungan apa saja yang seharusnya ada pada susu formula bayi?

Dalam memilih produk sufor (susu formula) yang harus Ibu utamakan adalah kandungan gizinya, bukan merek ataupun harga susu. Ketahuilah bahwa susu yang berharga mahal belum tentu memiliki nutrisi yang lengkap. Untuk itu, Ibu disarankan melihat label nutrisi dahulu sebelum membeli susu formula.

Dewasa ini, teknologi pembuatan susu formula boleh dibilang berkembang pesat, kandungan nutrisi yang diiklankan makin mendekati ASI. Apa pun isinya, yang pasti komposisi susu formula harus mengikuti aturan “Codex Alimentarius Comission”.

Kriteria susu formula yang baik menurut para ahli adalah yang kandungan nutrisinya paling mirip dengan ASI. Semakin lengkap kandungannya, semakin bagus pula susu formula tersebut. Tetapi ada beberapa kandungan senyawa yang tidak boleh ada dalam susu formula seperti Lutein, Sphingomyelin dan Gangliosida, hal ini juga seiring dilarangnya bagi para produsen susu untuk mencampurkan zat tersebut pada produknya, karena sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang membuktikan zat tersebut bermanfaat.

Secara garis besar, senyawa tambahan yang telah terbukti secara ilmiah bermanfaat serta aman dikonsumsi bayi adalah DHA, Nukleotida dan Taurin.

Baca juga: Cara meningkatkan produksi ASI saat ibu menyusui.

Zat probiotif sangat diperlukan ketika bayi Anda memasuki usia 2 tahun, karena usia ini bayi sangat rentan terkena virus atau bakteri karena sudah mulai lebih banyak memakan makanan padat dan mulai mengalami fase oral atau mulai memasukkan semua barang ke mulut. Tetapi penggunaan zat probiotik dalam susu formula ini dinilai sia-sia. Karena, berdasarkan peraturan WHO tahun 2009, syarat pembuatan susu formula bubuk harus menggunakan air panas bersuhu 70°C untuk mencegah berkembangnya kuman E-Sakazakii. Padahal, suhu 70°C ini justru merusak kandungan probiotik. Sebagai alternatif, Anda bisa memberikan yoghurt sebagai minuman yang mengandung probiotik untuk bayi. Apabila bayi masih di bawah usia satu tahun, berikan saja yoghurt khusus untuk bayi, di pasaran banyak dijual yoghurt untuk anak usia 6-12 bulan.

Masih membahas soal gizi, bagi balita, vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium, yang diperlukan untuk perkembangan tulang. Vitamin D juga dapat membantu mencegah penyakit Autoimun, pernapasan dan Kardiovaskular. Sebenarnya, tubuh juga memproduksi vitamin D namun harus terpapar sinar matahari terlebih dahulu. Itulah salah satu alasan mengapa bayi baru lahir harus sering dijemur.

Zat Besi (fe) juga merupakan salah satu mineral penting yang sangat diperlukan tubuh, bahkan sejak seseorang masih ada di dalam kandungan. Zat besi sangat dibutuhkan untuk pembentukan Hemoglobin yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak. Pada anak-anak, zat besi akan menjamin asupan oksigen ke darah yang juga akan memastikan anak selalu berenergi dan penuh konsentrasi. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia dan dapat mengganggu pengembangan keterampilan fisik dan mental anak.

Arachidonic Acid (AA) dan docosahexaenoic acid (DHA) termasuk dalam asam lemak rantai panjang yang tidak dapat dibentuk oleh tubuh (asam lemak esensial). Kedua asam lemak ini berfungsi meningkatkan perkembangan fungsi visual (pengelihatan) serta perkembangan otak bayi.

Nukleotida merupakan suatu molekul yang merupakan bagian dari DNA, RNA, dan beberapa faktor yang membentuk sel tubuh. Dari penelitian didapatkan jumlah kandungan Nukleotida yang terdapat dalam susu sapi lebih sedikit dari yang terkandung di dalam ASI, maka dari itu sebagian susu formula menambahkan Nukleotida sebagai suplementasi susu formula. Nukleotida berfungsi dalam meningkatkan pembentukan sel-sel tubuh terutama pada sistem kekebalan tubuh (sistem imun) serta untuk mengoptimalkan metabolisme tubuh. Beberapa studi menunjukkan manfaat suplementasi yang lebih nyata pada bayi yang lahir dengan berat badan kurang.

Taurin merupakan salah satu asam amino yang terdapat dalam ASI. Taurin ditambahkan untuk meningkatkan absorbsi lemak pada bayi. Selain itu taurin juga menunjang perkembangan otak bayi.

Bagaimana agar Ibu tidak salah dalam memilih susu formula untuk bayi?

Selain mengutamakan kandungan gizi pada susu formula seperti yang Luvizhea.com jelaskan diatas, ada beberapa hal yang juga perlu diperhatikan Ibu dalam membeli susu formula tersebut, diantaranya:

1. Sesuaikan dengan usianya

Pastikan Ibu memilih susu formula yang sesuai dengan usia bayi. Apabila tidak, maka akan terjadi masalah pada pencernaannya. Perlu diperhatikan, Bayi usia di bawah satu tahun tidak boleh minum susu sapi segar karena kandungan natrium, protein dan elektrolitnya masih tinggi sekali. Organ ginjal bayi pada usia ini belum berfungsi sempurna, sehingga apabila dipaksa ‘bekerja keras’ bisa merusak organ tersebut.

2. Lihat kemasan dan tanggal kadaluwarsanya

Belilah susu formula yang kemasannya terlihat baik, apabila segel atau kemasan dalam kondisi rusak, maka susu tidak terjamin kualitasnya bahkan bisa terkontaminasi dengan zat lainnya yang tentu berbahaya untuk bayi Ibu. Selain itu, hal terpenting yang harus Ibu lakukan saat membeli susu formula yaitu melihat tanggal kadaluwarsanya. Hindari membeli susu yang tanggal kadaluwarsanya sudah dekat.

Baca juga: Mencegah alergi dari sejak dini.

Catatan:

Sebelum membuatkan susu formula untuk bayi kita, perhatikan apakah susu dalam bentuk bubuk tersebut masih dalamkeadaan baik. Tanda susu yang tidak baik adalah baunya berubah misal menjadi tengik, warna berubah yaitu tidak kuning cerah, atau terdapat gumpalan.

Susu formula yang telah dilarutkan dengan air, sebelum 2 jam sebaiknya segera diminum dan dihabiskan untuk menghindari kemungkinan kontaminasi pencemaran.

Apabila bayi diare, muntah, atau tidak bisa buang air besar selama meminum susu formula tersebut, maka konsultasikanlah pada Dokter untuk mengetahui jenis susu seperti apa yang cocok untuk Bayi kita.

Baca juga: Bagaimana cara tepat menangani diare pada bayi?

Bagikan ini ke:
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh LuviZhea.