BERANDA » PARENTING » Cara mengatasi anak susah makan

Cara mengatasi anak susah makan

| Luvi Zhea

Anak tidak mau makanKetika anak berusia 6-7 bulan, saatnya ibu bisa mulai memberikan susu pendamping ASI (susu formula) ataupun memberikan makanan padat pendamping ASI secara bertahap (mulai dari bubur susu, sari buah, lalu bertahap ke tekstur makanan yang lebih padat seperti nasi tim, dan seterusnya seperti makanan orang dewasa). Porsi makanan padat ini pun secara berangsur harus lebih besar dibanding ASI, terutama saat usia anak semakin bertambah, seperti saat ia mulai memasuki usia 9 bulan.

Namun yang menjadi masalah disini, dalam menjalani kebiasaan baru ini atau fase peralihan inilah sering membuat anak mengalami penurunan nafsu makan. Apalagi semakin bertambahnya usia anak, anak lebih senang memilih bermain dibandingkan makan. Sehingga tidak sedikit para ibu yang merasa “stres” menghadapi fase ini.

Mungkin segala cara sudah dilakukan. Namun, anak masih juga menutup mulut ketika waktu makan tiba, tidak suka sayur dan hanya mau makan yang itu-itu saja, atau hanya ingin makan jajanan saja, atau anak yang tadinya lahap makan malah kini mendadak menjadi malas makan. Bahkan apabila disuapi nasi, ada saja ulahnya. Dari yang selalu menolak makan dengan menutup rapat mulutnya rapat rapat, sampai menyembur-nyemburkan atau melepeh kembali makanan yang sudah berhasil masuk ke mulutnya.

Kondisi ini tentu saja membuat ibu juga merasa khawatir akan kecukupan gizi anak, mengingat asupan gizi melalui makanan bagi anak merupakan hal terpenting dalam masa pertumbuhannya.

Namun demikian, menghadapai masalah ini, ada juga orangtua yang merasa biasa-biasa saja. Karena beredar beberapa mitos ditengah masyarakat yang menyatakan bahwa “Bila anak mau jalan, biasanya memang susah makan. Jadi wajar saja kalau badannya jadi kurus, dan tidak perlu cemas karena itu tandanya anak juga mau pintar”. Pendapat ini sebenarnya keliru. Bagaimana mau bisa jalan kalau otot-ototnya lemas karena kurang gizi (terutama kalori)? Dan bagaimana mau pintar kalau otak tidak mendapat asupan nutrisi yang dibutuhkannya? apalagi otak adalah organ tubuh yang paling “rakus” melahap energi. Apabila kita sebagai orangtua tidak memperhatikan menu dan pola makan anak, justru yang ada anak akan mudah sakit karena mengalami gizi buruk.

Dampak yang terjadi bila anak susah makan

Jadi berdasarkan yang telah Luvizhea.com jelaskan diatas, nutrisi dari makanan yang di konsumsi anak memegang peranan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara keseluruhan, baik itu pertumbuhan organ reproduksi, pertumbuhan fisik, bahkan pertumbuhan otak. Dan ini harus tercukupi pada masa tumbuh kembang anak, terutama usia 1-6 tahun. Rendahnya nafsu makan anak pada usia tersebut akan berakibat buruk, baik itu pada masa sekarang ataupun ketika kelak ia dewasa.

Berikut 3 dampak atau risiko paling besar yang terjadi bila anak ibu susah makan:

Tingkat kecerdasan anak menurun

Usia 1-6 tahun adalah periode masa emas anak, namun juga periode ini adalah periode kritis. Mengapa demikian? Karena periode ini bisa dibilang periode yang menentukan masa depan anak. Pada masa ini otak berkembang paling pesat, yaitu 95% dari otak orang dewasa. Setelah masa ini terlewati, otak akan tumbuh melambat. Sedangkan pada periode ini anak kebanyakan anak memang memiliki masalah susah makan. Bila kebutuhan nutrisi dan stimulasi yang diberikan kurang terpenuhi pada masa ini akibat anak susah makan, maka akan berdampak negatif dalam jangka panjang, terutama menyangkut masalah kecerdasan anak.

Dan tentu saja pada masa ini perkembangan otak dan fisik juga harus berjalan seimbang. Karena biar anak pintar harus mendapat stimulasi, untuk mendapatkan stimulasi anak perlu eksplorasi, dan agar bisa bereksplorasi anak juga memerlukan fisik yang kuat, dan fisik yang kuat didapat bila anak mau makan, karena dengan makan ia bisa menghasilkan tenaga. Jadi, tipis kemungkinan anak bisa semakin pintar kalau fisiknya juga lemah.

Baca juga: Agar bisa memiliki anak yang cerdas sejak kecil.

Berat badan dan tinggi badan anak tidak bertambah

Nutrisi sangat memengaruhi pertumbuhan anak. Kurang makan berarti kurang nutrisi, dan ini akan menghambat atau justru menghentikan tumbuh kembang anak, khususnya pada penambahan berat dan tinggi badan.

Ya tentu saja anak yang malas makan akan terlihat lebih kurus dibandingkan anak-anak lainnya yang seusianya dan mau makan. Dengan kata lain berat badan mereka pun juga susah sekali naik, dan pertumbuhan tinggi badannya tidak bisa maksimal.

Yang perlu ibu ketahui, berat badan ideal anak usia 1 tahun adalah 3 kali lipat dari berat badan saat mereka lahir, Dan ketika usianya beranjak 2 tahun, maka berat ideal anak harus menjadi 4 kali lipat dari berat badannya ketika lahir. Selengkapnya untuk informasi berat ideal anak yang seharusnya sesuai usia bisa Anda buka pada halaman Kalkulator Berat Badan Ideal Balita.

Menurunya daya tahan tubuh sehingga anak gampang sakit

Kurangnya asupan nutrisi seperti kalsium, protein, vitamin, mineral, dan serat yang berasal dari makanan yang anak konsumsi, selain bisa menghambat tumbuh kembang anak juga membuat anak lebih rentan terserang berbagai penyakit dan berisiko meningkatkan penyakit saat mereka dewasa.

Berdasarkan penelitian, sebanyak 86 persen anak yang mengalami sulit makan berisiko mengalami serangan penyakit saat usia 20 tahun, 43 persen pada usia 16-20 tahun, dan 33 persen antara usia 11-15 tahun.

Berikut beberapa contoh kecil akibat bila anak kekurangan beberapa miniral akibat susah makan, diataranya:

Akibat kurang Vitamin

  • Vitamin A: Meningkatkan risiko gangguan mata seperti rabun senja, katarak. Serta maslah lain seperti infeksi saluran pernapasan, menurunnya daya tahan tubuh, kulit yang tidak sehat, dan sebagainya.
  • Vitamin B1: Mengalami pembesaran pada jantung bagian kanan yang dapat menyebabkan gagal jantung, gangguan lambung, sembelit, Sindrom Wernicke-Korsakoff, anak mudah rewel dan sering gelisah, dan beri-beri.
  • Vitamin B2: Akan sangat berdampak pada daerah sekitar mulut anak seperti: Bibir meradang (bibir kering dan pecah-pecah, sariawan, Cheilosis), lidah licin berwarna keunguan (Glossitis), luka pada sudut bibir (stomatitis angular).
  • Vitamin B3: Mengalami terganggunya sistem pencernaan, otot gampang keram serta kejang, sakit kepala atau migrain, insomnia, badan lemas, gampang muntah serta mual-mual, pelupa, kegugupan sampai Pellagra dan Neurasthenia.
  • Vitamin B5: Mengakibatkan mudah lelah, bila sudah dewasa rambut mudah beruban dan rontok, jerawat, meningkatkan resiko infeksi, depresi.
  • Vitamin B6: Mengalami Pelagra dengan kata lain kulit pecah-pecah, keram pada otot (kejang), insomnia atau sukar tidur, anak menjadi lebih sering menangis dan sering kaget
  • Vitamin B12: Mengakibatkan kurang darah atau Anemia, mudah lelah, bermaslah dengan detak jantung dan pernafasan.
  • Vitamin C: Mudah mengalami infeksi pada luka, gusi berdarah, pendarahan pada kulit, sariawan, rasa nyeri pada persendian atau pada tungkai, dan daya tahan anak menurun.
  • Vitamin D: Gigi dapat lebih gampang rusak, kejang-kejang pada otot, perkembangan tulang tidak normal yang umumnya betis kaki dapat membentuk huruf O atau X. Selain itu, anak lebih sering terserang penyakit yang berkaitan dengan influenza seperti flu dan batuk kronis berulang (BKB).
  • Vitamin E: Dapat menyebabkan kemandulan, masalah syaraf serta otot.
  • Vitamin K: Mudah mengalami pendarahan akibat darah sukar membeku.

Akibat kurang Protein

Secara garis besar, kekurangan protein akan menyebabkan: Lemah otot dan sakit otot, peningkatan retensi cairan yang ditandai dengan bengkak pada kaki, perut bahkan seluruh tubuh (edema), kulit kering dan ruam, mudah lesu ,berat badan menurun, gampang gelisah, sering mengalami borok di kulit, luka sukar menyembuh, sakit kepala terus menerus, Insomnia, perubahan mood, depresi, perubahan warna kulit.

Dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan masalah serius seperti: Marasmus (penurunan berat badan drastis), Kwashiorkor (perut membengkak), Cachexia (melemahnya otot) dan masalah lainnya.

Akibat kurang Serat

Secara garis besar, kekurangan serat akan menyebabkan: Pencernaan tidak sehat (mengalami kontipasi hingga wasir), penyakit Kardiovaskular (Kolesterol tinggi, penyakit jantung koroner dan stroke), berat badan berlebih (Obesitas).

Akibat kurang Mineral

  • Kalsium: Secara garis besar, kekurangan kalsium akan menyebabkan: Pertumbuhan bayi yang tidak optimal, gangguan pertumbuhan rambut, rambut menjadi menguning dan jarang, kaki berbentuk huruf O, Rakhitis (pelunakan tulang atau pelemahan tulang), Kerusakan pada gigi, dan lain sebagainya.
  • Zat Besi: Menyebabkan Anemia sehingga membuat anak mudah lelah dan terlihat pucat, membuat kekebalan tubuh berkurang dan memengaruhi perkembangan kognitif dan motorik anak.
  • Zinc: Menyebakan stretch mark akibat kulit kering, jerawat, bintik-bintik putih pada kuku, pertumbuhan yang buruk terutama pada anak-anak, rambut rontok, anorexia, penyembuhan luka yang lama, diare kronis dan parah, kekebalan tubuh rendah, mengganggu pembentukan struktur otak sehingga mempengaruhi emosi serta tingkah laku seseorang.
  • Yodium: Mengalami penyakit tiroid atau yang kita kenal dengan sakit gondok, masalah pertumbuhan fisik (tubuh tidak tumbuh semestinya atau kerdil), fungsi mental tidak stabil.
  • Fosfor: Menyebabkan masalah tulang dan otot, mual, denyut jantung tidak teratur, nyeri tulang, dan Anoreksia.
  • Tembaga: Menyebabkan anemia, menghambat perkembangan otak, membuat rambut serta tulang menjadi rapuh, sakit paru-paru, dan masalah pada jaringan tubuh lain.
  • Kalium: Menyebabkan otot menjadi tidak kuat, dan berisiko mengalami berbagai gangguan pada jantung, Hipokalemia, gagal ginjal, Diabetes Ketoasidosis, Diare.

Dan masih banyak jenis nutrisi dan mineral lainnya yang dibutuhkan tubuh, yang apabila tubuh kekurangan asupan tersebut maka akan mempengaruhi kesehatan anak secara keseluruhan, baik untuk saat ini maupun dimasa yang akan mendatang ketika mereka dewasa.

Faktor penyebab anak susah makan

Umumnya, faktor penyebab seorang anak susah makan adalah karena faktor fisik dan faktor psikis. Faktor fisik meliputi terdapatnya gangguan pada organ pencernaan maupun terdapatnya infeksi dalam tubuh anak. Sedangkan faktor psikis meliputi gangguan psikologis pada anak, seperti kondisi rumah tangga yang bermasalah, suasana makan yang kurang menyenangkan, maupun trauma karena anak dipaksa memakan makanan yang tidak disukainya.

Bila kita perinci kembali, maka akan kita ketahui beberapa alasan kenapa anak susah makan, seperti:

Tidak merasa benar-benar lapar

Makanan tambahan yang diberikan Ibu sebagai pendamping ASI membuat anak tidak merasa benar-benar lapar saat waktu makan tiba. Hal ini membuat anak menolak makan, apalagi bila menu yang diberikan cuma itu-itu saja.

Selain itu dalam kondisi anak yang tidak merasa benar-benar lapar, membuat anak ingin mencari perhatian lebih dari orangtuanya. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan mudahnya anak melahap makanannya saat disuapi orang lain (pengasuh), sementara saat disuapi orangtuanya malah jual mahal, seolah tidak mau makan.

Mulai memiliki selera sendiri

Saat usia anak bertambah, rasa ingin tau anak semakin besar, mereka juga sudah punya selera tersendiri terhadap makanan yang ibu hidangkan. Itulah mengapa saat usia anak lebih dari 1 tahun, makanan tidak boleh tawar rasanya.

Ibu juga harus tahu apa citarasa yang disukai anak? Bila tidak, jangan heran bila sebagian anak bisa menghabiskan yang ibu sediakan pada hari pertama, tapi menolak pada keesokan harinya. Karena ketika pikiran mereka berubah, maka demikian juga selera makannya.

Selain itu, anak mungkin sudah bosan dengan tekstur makanan yang campur aduk. Dan mungkin juga saat ini mereka sudah merasa mual (enek) dengan makanan lunak dan campur aduk seperti makanannya semasa bayi. Sehingga nafsu makan mereka juga berkurang.

Munculnya sikap Negativistik

Sikap Negativistik umumnya muncul saat usia anak dibawah tiga tahun (batita). Negativistik merupakan fase penting dalam pembentukan ekspresi diri, dan merupakan bagian mendasar bagi pembentukan ego (keakuan) serta langkah penting dalam membentuk kepribadiannya kedepannya.

Munculnya sikap Negativistik ini biasanya ditandai dengan sikap penolakan terhadap rutinitas yang selama ini “wajib” dijalaninya. Salah satunya adalah masalah makan, yaitu anak menolak untuk makan.

Lebih asyik dengan kegiatan eksplorasi

Ketika anak sudah bisa berjalan, minat anak untuk mengeksplorasi dan bermain akan makin besar. Anak idak mau diminta untuk duduk diam, dan mereka akan berjalan kemana pun mereka mau, dan mencoba apa pun yang mereka ingin tahu seolah tidak pernah lelah. Dengan begitu acara makan akan dianggapnya sebagai kegiatan yang buang-buang waktu saja.

Selain itu, gangguan atau sesuatu yang menarik perhatiannya ketika waktu makan tiba juga dapat merusak nafsu makannya, dan mereka tentu akan kembali fokus terhadap apa yang mereka lihat yang membuatnya tertarik dibandingkan dengan mengkonsumsi makanan yang telah disediakan.

Baca juga: Kenakalan anak yang perlu dimaklumi orangtua.

Terlalu sering diberi jajanan (camilan) gurih dan manis

Jajanan yang gurih dan manis akan memberikan rasa yang salah terhadap selera makan anak dan menyebabkan pola makan yang buruk. Hal ini bisa juga dipengaruhi akibat anak sudah terbiasa dibelikan jajan sejak kecil diwarung atau toko dekat rumah. Baik itu susu kotak, permen, cokelat, atau snack (makanan ringan) yang mengandung MSG.

Mereka yang terbiasa dengan jajanan gurih akan merasa ogah (tidak mau) bila diminta memakan nasi yang rasanya lebih tawar, apalagi beberapa jajanan tersebut juga bersifat mengenyangkan. Walaupun mengenyangkan, tetap saja mereka biasanya tampak lemas tanpa memperlihatkan gejala sakit. Hal ini bisa jadi akibat tidak tercukupinya asupan kalori dari makanan padat. Selain itu jajanan ini jelas-jelas tidak bisa memenuhi angka kecukupan gizi (suplemen) yang dibutuhkan anak.

Ada masalah dengan kesehatan

Ketika anak sakit mereka cenderung memiliki nafsu makan kurang baik. Terlebih bila terdapat gangguan pada sistem pencernaannya atau gangguan kesehatan lainnya diantaranya radang tenggorok, flek paru-paru, TBC.

Selain itu, beberapa anak tidak makan dengan baik dikarenakan alergi makanan, terutama bila mereka memiliki banyak faktor penyebab alergi makanan. Pada kondisi ini mereka harus melakukan banyak pembatasan makanan dan keterbatasan diet, sehingga membuat mereka mungkin bosan dengan makanan sehari-harinya, dan pada akhirnya membuat anak susah makan.

Bagaimana agar anak mau makan dengan lahap?

Pada dasarnya setiap anak memerlukan pendekatan berbeda tetapi konsepnya sama. Yaitu para ibu harus lebih kreatif dan tentu saja banyak bersabar. Mencoba bersabar memang tidak mudah karena umumnya orangtua lebih gampang merasa kesal dan putus asa menghadapi anak yang tidak lagi kooperatif. Namun demikian, ibu tetap tidak boleh kalah cerdik dari si anak. Berikut Luvizhea.com berikan beberapa cara efektif dalam mengatasi anak susah makan:

Perkenalkan makanan baru secara perlahan

Secara alami anak-anak akan phobia terhadap makanan yang baru mereka kenal, dan mengkonsumsi makanan padat adalah hal baru bagi mereka. Maka dari itu perkenalkan makanan yang baru secara perlahan karena memang diperlukan waktu agar mereka terbiasa dengan ragam warna, rasa dan tekstur dari makanan yang disajikan (disabilan).

Sebagai contoh: Sayuran merupakan salah satu jenis makanan yang kerap ditolak anak. Maka dari itu, sajikan satu jenis sayuran saja terlebih dahulu, agar anak tidak kebingungan.

Jangan terlalu memaksa untuk mencoba makanan tertentu

Bila anak menolak makan makanan tertentu akibat munculnya sikap Negativistik, sebaiknya kita sebagai orangtua jangan memaksa anak walaupun hanya sekedar untuk mencicipinya. Karena semakin anak dipaksa untuk mencoba makanan tertentu, maka mereka akan semakin keras menolaknya. Tentu saja hal ini dapat memicu suasana yang tidak menyenangkan dan penuh tekanan bagi kedua belah pihak. Itu sebabnya, niat orangtua dalam memberikan nutrisi terbaik, harus diiringi dengan ketelitian melihat kondisi anak.

Jadi, jangan sampai anak menjadi trauma terhadap makanan tertentu (misal hingga dewasa tidak mau makan sayuran, tidak mau makan daging, atau tidak mau makan buah-buahan) karena sejak kecil mereka selalu dipaksa untuk mencobanya.

Namun demikian, saat anak menolak hari ini, bukan berarti mereka tidak akan suka selamanya. Tetap tawarkan makanan yang ditolak anak pada hari-hari berikutnya. Atau bisa juga melakukan siasat lain, seperti contoh: Bila anak menolak minum susu, sebaiknya orang tua memberikan asupan gizi yang mengandung susu, seperti yogurt atau keju. Atau bila anak menolak sayur, seimbangkan asupan nutrisi (serat) dari buah-buahan yang mereka sukai untuk sementara.

Libatkan anak dalam kegiatan memasak dan penyajiannya

Untuk anak yang sudah lebih besar, melibatkan anak dari pergi belanja, memasak, hingga proses penyajian merupakan strategi untuk mengatasi anak susah makan. Karena mereka akan jauh lebih tertarik pada apa yang telah mereka ciptakan.

Misalnya dengan mengajak anak belanja ke supermarket, saat di supermarket mintalah anak untuk memilih dua jenis buah, dua jenis sayur, atau satu jenis camilan, dan bahan masakan lainnya. Dengan memilih dua jenis bahan, ini dapat mengatasi masalah anak yang hanya mau makan satu jenis makanan saja.

Setelah sampai di rumah, ajak anak untuk mengolah bahan yang sudah dibeli, yaitu mulai dari proses mencuci, mengambil sayuran yang akan dipotong, hingga memasaknya. Setelah masakan matang, libatkan juga anak dalam proses penyajiannya di meja makan. Dan dengan begitu, cara ini akan mendorong anak lebih senang dan berselera untuk mencoba makanan yang telah buat.

Sajikan makanan dengan menarik dan bervariasi

Untuk mencegah anak hanya ingin makan yang itu itu saja, ibu bisa membuat beberapa pilihan menu makanan, lalu biarkan anak memilih makanan yang mereka sukai. Karena umumnya anak lebih suka dengan makanan pilihannya sendiri.

Selain itu, bangkitkan selera makan anak, dengan membuat penyajian yang sekreatif mungkin. Variasikan sedemikian rupa agar anak tertarik, misalnya dengan mencetak nasi seperti gambar hewan dan memberi hiasan dengan aneka sayuran berwarna-warni, memisah-misahkan lauknya (jangan dicampur aduk). Bahkan bila perlu gunakan perlengkapan makan dengan gambar dan warna kesukaan mereka.

Usahakan menu makanan yang diberikan bervariasi setiap pekan. Walaupun menu makanan tersebut dinilai ibu yang paling baik, tapi hindari memberi makanan yang itu-itu saja. Ibu saja bosan, apalagi mereka.

Perhatikan cita rasa makanan yang akan diberikan

Selain bentuk penyajian yang menarik, cita rasa makanan harus juga diperhatikan. Untuk itu, cicipi makanan sebelum diberikan ke anak, jangan berikan sebelum rasanya pas. Kalau menurut kita saja tidak enak, ya jangan paksa anak menikmatinya. Apalagi saat anak telah memiliki selera tersendiri.

Rasa yang bervariasi justru akan membuat selera makan anak bertambah. Untuk itu bila anak sudah dapat mengunyah dengan baik, ibu dapat memberikan lauk pauk seperti yang dimakan anggota keluarga lainnya. Namun tetap hindari makanan yang dapat merangsang sakit perut (seperti makanan pedas dan asam) serta makanan yang dapat memicu reaksi alergi bila anak memiliki riwayat alergi.

Jadikan saat makan menyenangkan

Menciptakan suasana makan yang menyenangkan, dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan membuat suasana makan seperti bermain. Misalnya seperti main tamu-tamuan, dimana anak sebagai tamu dan diberi jamuan makan. Bisa juga dengan bermain mobil-mobilan untuk anak laki-laki, atau bisa juga dilakukan sambil mengajak anak-anak bermain-main ditaman sekitar rumah sambil disuapi. Cara ini dikenal dengan “Play Therapy” agar anak tidak takut dengan makanan yang baru dikenalnya dan secara tidak langsung anak bisa menghabiskan jatah makan yang diberikan. Namun agar tidak menimbulkan kebiasaan yang buruk saat makan, seiring dengan bertambahnya usia, anak harus “digiring” agar tahu tata cara dan tempat yang tepat untuk makan.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengundang anak-anak lain untuk makan bersama. Anak-anak cenderung makan lebih banyak ketika bersama teman sebayanya. Saat makan ini ibu bisa membiarkan anak makan dengan mandiri. Buat makanan praktis yang dapat dipegang dan dimasukkan ke dalam mulut anak dengan mudah. Dengan begitu mereka bisa menikmati makanannya dan melatih mereka untuk mempraktekan bagaimana cara makan yang benar.

Mengadakan acara makan bersama keluarga dengan rutin juga bisa diandalkan. Karena waktu makan bersama keluarga dapat memberikan keakraban dan kehangatan dalam suasana makan, sehingga selera makan anak meningkat. Biarkan anak ikut mencicipi semua makanan yang dihidangkan di meja makan dan berkomentar tentangnya. Sesekali ibu bisa membuatkan menu makanan yang diinginkan oleh anak, akan tetapi jangan terlalu sering, karena itu akan membuat mereka tidak mau mengkonsumsi makan yang telah dihidangkan, apalagi bila tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.

Yang terpenting disini, hindari mengancam, menghukum, atau menakut-nakuti anak agar anak makan lebih banyak. Ini akan membuat mereka merasa bahwa saat makan merupakan saat yang tidak menyenangkan. Selain itu perhatikan perilaku anak, apabila anak mendorong piringnya, ini pertanda mereka telah merasa kenyang. Apabila dipaksakan, hal ini tentu bisa menyebabkan rasa trauma. Inilah cikal bakal yang membuat anak akhirnya malas makan di kemudian hari.

Jadwalkan makan secara teratur

Sama halnya dengan waktu tidur dan mandi, agar anak terbiasa dengan waktu makannya, sebaiknya ibu membuatkan jadwal makan untuk anak secara teratur, setiap 3-4 jam sekali. Sehingga dalam sehari ada tiga kali waktu makan utama dan dua kali makan camilan (makanan ringan).

Selain itu, batasi juga waktu untuk setiap kali makan sekitar 30 menit, karena bila melebihi waktu tersebut, saat jadwal makan berikutnya tiba anak masih merasa tidak benar-benar lapar.

Satu hal yang perlu juga diperhatikan, sebaiknya jangan memberikan banyak minuman sebelum atau di sela-sela waktu makan utama. Hal ini akan membuat anak makan hanya sedikit karena tidak ada tempat yang cukup untuk makanan masuk ke perutnya.

Bila ibu ada rencana mengajak anak berpergian yang menempuh perjalanan agak jauh, sebaiknya ibu membawa bekal untuk anak, sehingga bila waktu makan tiba ibu bisa konsisten memberikannya makan sesuai waktu yang telah dijadwalkan. Dengan begitu anak tetap akan memiliki jadwal makan yang teratur, dan akan membentuk pola makan yang baik pula tentunya.

Usahakan setiap kali jadwal (waktu) makan tiba, minimalkan gangguan atau hal-hal yang memengaruhi perhatiannya saat makan. Misalnya matikan televisi dan jauhkan buku atau mainan dari meja makan, termasuk binatang peliharaan.

Memberi contoh pola makan yang baik

Bila ibu terus-menerus melakukan diet untuk mendapat bentuk tubuh yang ideal, sehingga memiliki kebiasaan makan yang tidak menentu. Maka anak-anak akan berpikir bahwa perilaku semacam ini adalah normal. Dengan begitu anak akan mengikuti kebiasaan dari pola makan Anda.

Untuk itu, berikan contoh pola makan yang baik bagi anak, agar dapat membentuk pola makan yang baik pula bagi anak dengan melihat contoh yang diberikan oleh orangtuanya.

Beri camilan yang menyehatkan

Setelah anak bisa berjalan, anak gemar bereksplorasi dengan lingkungannya. Apalagi ketika memasuki usia 2 tahun, aktivitasnya semakin banyak saja. Ini mungkin membuatnya sulit untuk duduk manis dan makan dengan tenang sehingga jumlah makanan yang dikonsumsinya semakin berkurang.

Untuk menyiasatinya, berikan anak makanan ringan atau camilan sehat dalam porsi kecil namun beragam.

Agar giginya tidak rusak dan nafsu makan dapat kembali meningkat, cobalah untuk memberikan makanan ringan dengan rasa manis alami, seperti: buah-buahan, selai kacang, yogurt rendah lemak, dan camilan sehat lainnya.

Batasi makanan dan minuman manis

Makananan dan minuman manis tinggi gula memang akan memberikan energi bagi tubuh. Namun demikian sebaiknya gula jangan diberikan berlebihan kepada anak. Karena selain membuat gigi keropos serta memicu Obesitas dan Diabetes, makanan dan minuman manis juga bisa membuat anak cenderung menolak untuk makan karena merasa sudah kenyang. Bila sudah seperti ini asupan gizi anak menjadi tidak seimbang, karena tubuh tidak hanya butuh energi, melainkan butuh protein, lemak, serat, vitamin dan mineral lainnya yang didapat dari makanan lain yang dikonsumsi.

Apalagi kebanyakan orangtua sekarang (saat anak tidak mau makan makanan padat), mereka lantas “menggenjot” anaknya dengan asupan susu formula lebih banyak. Padahal pola seperti ini justru hanya akan “membunuh” nafsu makannya. Bagaimana pun, makanan padat penting bagi anak. Terutama sebagai latihan dan pembelajaran mengunyah sampai menelan makanan tanpa tersedak. Bila anak bosan dengan nasi, ibu bisa memberikan menu lain yang setara, seperti: roti, jagung, ubi, dan sebagainya. Jangan memberikan makanan alternatif lain yang mengenyangkan tapi minim nutrisi.

Selain itu, sebaiknya ibu hindari memberi iming-iming makanan penutup sebagai hadiah bila anak menghabiskan makanan utamanya. Hal ini dapat menyiratkan bahwa makanan penutup merupakan makanan yang paling enak dan lebih baik untuk anak. Dengan begitu hal ini dapat meningkatkan keinginan (membiasakan) anak untuk mengkonsumsi makanan manis kembali.

Berikan suplemen pendukung

Cara Mengatasi Anak Susah MakanDi zaman sekarang ini memang banyak beredar berbagai jenis suplemen untuk anak. Namun suplemen yang ideal untuk anak adalah yang mengandung Asam Amino Esensial terutama Lysine yang kaya manfaat bagi tubuh (salah satunya adalah menjaga nafsu makan anak). Asam Amino Esensial ini sebenarnya tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga harus mendapat asupan dari luar (melalui makanan atau suplemen).

Selain Lysine, suplemen yang mengandung zat aktif Curcumin juga memiliki manfaat yang sama dalam meningkatkan nafsu makan anak. Curcumin juga kaya manfaat, karena merupakan antioksidan yang kuat yang dapat melindungi sel-sel dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas.

Selain itu, suplemen yang ideal sebaiknya juga mengandung Omega-3 (yang bagus untuk perkembangan otak anak), serta mengandung berbagai jenis vitamin terutama vitamin A, D, dan E yang bagus untuk mendukung masa pertumbuhan anak secara keseluruhan. Dan pastikan juga suplemen pilihan ibu tidak mengandung pewarna buatan ataupun pengawet serta bebas dari alkohol, sehingga aman dikonsumsi oleh anak.

Untuk itu ibu bisa memilih suplemen nutrisi dan penambah nafsu makan anak Laperma™ Platinum.

Mengatasi anak susah makan dengan Laperma Platinum bisa diandalkan, karena Laperma terbuat dari bahan herbal alami seperti: Madu Afis Mellifera, sari Ikan Salmon, Temulawak, Temu ireng dan berbagai bahan herbal berkualitas lainnya.

Seperti kita ketahui, orangtua zaman dahulu menggunakan bahan herbal untuk meningkatkan nafsu makan pada anak mereka. Bahan yang biasa digunakan adalah Temu Lawak, Temu ireng atau Lempuyang. Dan sekarang seiring berkembangnya teknologi, penggunaan bahan tersebut telah terbukti secara ilmiah. Karena Temu lawak memang memiliki kandungan Curcumin yang tinggi. Maka dari itu salah satu bahan Laperma Platinum adalah Temu Lawak.

Selain Temu Lawak, Laperma Platinum juga mengandung sari ikan salmon yang kaya akan kandungan Omega-3, vitamin A, B6 dan D, serta tinggi protein. Sedangkan Madu pada Laperma Platinum merupakan salah satu sumber Asam Amino Esensial terbaik.

Maka dari itu, bila ibu ingin mengatasi anak susah makan secara alami, dapat memberikan anak Laperma Platinum 2 kali sehari, diminum pagi 1 jam sebelum sarapan dan malam hari sebelum tidur, dengan takaran:

  • 1/4 sendok obat (1,25 ml) untuk anak usia 1-3 tahun.
  • 1/2 sendok obat (2,50 ml) untuk anak usia 4-10 tahun.
  • 1 sendok obat (5,00 ml) untuk anak usia 11-15 tahun

Penggunaan Laperma Platinum ini dapat dijadikan sebagai olesan selai, dicampur dengan susu atau diminum secara langsung.

Itulah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi anak susah makan. Untuk memastikan kecukupan gizi anak, ibu juga bisa membuat sebuah catatan. Caranya, tulis seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi anak selama satu minggu terakhir. Periksa apakah anak telah menerima asupan dari empat kelompok gizi utama yaitu karbohidrat, protein, produk susu, buah dan sayuran. Bila anak ibu masih mengkonsumsi makanan dari tiap kelompok gizi tersebut, maka ibu tidak perlu khawatir.

Namun bila ibu masih belum yakin terhadap asupan gizi anak atau kondisi berat badan anak semakin menurun karena nafsu makan yang tidak kunjung membaik, maka sebaiknya ibu berkonsultasi langsung kepada ahli gizi atau Dokter Spesialis Anak untuk penanganan lebih lanjut.

Loading...
Berbagi informasi di: