BERANDA » KEHAMILAN » Penanganan ketuban pecah dini belum cukup bulan

Penanganan ketuban pecah dini belum cukup bulan

| LuviZhea Chandra

KPD saat hamilKetuban berfungsi melindungi janin dari trauma, menjaga suhu janin, mempermudah pergerakan janin, menghantarkan zat-zat penting untuk pertumbuhan janin dan menghantarkan hormon untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Dengan pecahnya ketuban menandakan janin akan segera lahir, hal ini tidak jadi masalah ketika usia kehamilan sudah cukup bulan yaitu dimana usia kehamilan mencapai lebih dari 37 minggu . Tetapi jika Ketuban pecah dini (KPD) tentu memerlukan penanganan khusus dikarenakan dapat mengancam kesehatan Ibu dan janin.

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan dan hal ini dapat terjadi jauh sebelum waktunya melahirkan atau kondisi dimana ketuban pecah sebelum umur kehamilan mencapai 37 minggu (KPD Perematur / preterm). Jika dilihat dari rata-rata, Ketuban pecah dini ini terjadi antara 5 sampai 14 persen dari seluruh kehamilan.

Pada sebagian besar kasus Ketuban pecah dini, penyebabnya tidak diketahui, tetapi memiliki kaitan erat dengan riwayat kelahiran prematur, dan perdarahan selama kehamilan, dan di sebabkan beberapa faktor lain seperti:

  • Inkompetensi serviks atau leher rahim
  • Polihidramnion atau cairan ketuban berlebih
  • Memiliki riwayat ketuban pecah dini sebelumya atau pernah melahirkan prematur
  • Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
  • Kehamilan kembar
  • Trauma ataupun stress
  • Serviks atau leher rahim yang pendek yaitu dibawah 25mm pada usia kehamilan 23 minggu
  • Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis, klamidia, gonore dan sebagainya
  • kurangnya perawatan saat kehamilan atau melakukan kebiasaan buruk selama kehamilan seperti merokok

Tanda yang terjadi pada ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan yang merembes melalui vagina biasanya tanpa terasa dan bukan buang air kecil, aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Ibu duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya akan “menyumbat” kebocoran air ketuban untuk sementara.

Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah sakit karena ibu hamil dengan ketuban pecah dini prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis atau radang pada korion dan amnion. Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada ketuban pecah dini. Kesehatan janin juga dapat dipantau dari ketersedian air ketuban yang dimilikinya apakah masih jernih dan apakah keadaan janin baik sehingga memungkinkan kehamilan untuk dipertahankan sampai masa persalinan. Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya juga dilakukan terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.

Jika jumlah cairan ketubannya masih cukup, maka dokter akan “menahan” agar janin tetap berada dalam rahim. Anda akan diberi obat-obatan magnesium sulfat, obat tokolitik atau steroid yang berguna untuk mematangkan paru janin, mengurangi risiko sindrom distress pernapasan pada janin, serta perdarahan pada otak. Selain itu juga diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi. Anda juga diharuskan beristirahat total. Selama penanganan ini biasanya selaput ketuban yang terbuka akan menutup sendiri, dan cairan ketuban akan terus dibentuk. Waktu pengakhiran kehamilan sangat tergantung pada ada tidaknya infeksi serta kondisi kesehatan janin itu sendiri.

Jika cairan ketuban habis sama sekali, biasanya dokter akan segera mengeluarkan janin lewat jalan operasi ataupun dengan kelahiran normal. Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah apabila kehamilan sudah memasuki fase akhir. Tetapi semakin dini ketuban pecah terjadi maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan kontraksi. Jika tanggal persalinan sebenarnya belum tiba tapi paru janin sudah matang atau terdapat infeksi setelah kejadian KPD, dokter biasanya akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tidak akan menunggu selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa meningkatkan resiko infeksi.

Tindakan pencegahan ketuban pecah dini untuk ibu hamil

Kehamilan memang sangat rentan terhadap beberapa gangguan kesehatan sehingga pola hidup Ibu sangat mempengaruhi kesehatan Ibu dan janin. Untuk itu Luvizhea.com sarankan, jaga selalu kesehatan Ibu dengan langkah-langkah berikut untuk menghindari resiko ketuban pecah dini :

  • Pemeriksaan kehamilan secara teratur, dan melakukan kebiasaan hidup sehat, seperti mengkonsumsi makanan yang sehat, minum cukup, dan olahraga teratur.
  • Menghindari goncangan terutama ketika Ibu hamil anak pertama karena pada kehamilan pertama Anda belum dapat mengukur kekuatan rahim Anda. Selain itu goncangan yang terjadi saat Anda berkendara akan mengakibatkan stres dan kondisi yang buruk bagi janin Anda. Baca juga: Saat Hamil Naik Motor, Amankah bagi janin?
  • Untuk sementara waktu, berhenti melakukan hubungan seksual bila ada indikasi yang menyebabkan ketuban pecah dini, seperti mulut rahim yang lemah. Baca juga: Waktu yang aman berhubungan seks saat hamil.
  • Mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau awal triwulan ketiga dianjurkan. Hindari pekerjaan yang berat secara fisik dan psikis untuk kesehatan janin Anda.
  • Mengkonsumsi 100 mg vitamin C untuk kebutuhan nutrisi harian yang mampu mengurangi resiko ketuban pecah dini, Lakukan hal ini secara rutin sejak usia kandungan Ibu 20 minggu tentunya harus dengan anjuran dokter kandungan.
  • Memeriksakan diri ke dokter kandungan bila ada sesuatu yang tidak normal selama masa kehamilan di daerah kemaluan, misalnya jika mengalami keputihan yang berbau atau berwarna tidak seperti biasanya.
  • Untuk menghindari infeksi seperti bakteri E.coli, biasakan diri untuk bercebok dengan benar, yakni dari depan ke belakang, terutama setelah berkemih atau buang air besar. Baca juga: Solusi Infeksi Saluran Kencing saat hamil.
Bagikan ini ke:
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh LuviZhea.