Posisi tidur yang baik untuk bayi dibawah 6 bulan

Posisi tidur yang baik bagi bayi di bawah usia 6 bulan harus menjadi perhatian utama setiap orangtua. Mengapa posisi tidur bayi harus diperhatikan setiap orangtua? Hal ini disebabkan karena banyaknya laporan mengenai bayi yang meninggal saat tidur yang dikenal dengan Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). Serangkaian penelitian seperti yang dilakukan American Academy of Pediatrics, menemukan bahwa lingkungan tidur yang aman dan posisi tidur yang tepat akan mengurangi resiko sindrom kematian bayi mendadak, sesak napas, dan kesulitan bergerak.

Menempatkan bayi tidur telentang di dalam boks bayi dengan kasur yang nyaman, tanpa bantal dan tanpa selimut, serta meletakkan boks itu di dalam kamar yang sama dengan orangtuanya adalah pedoman tidur yang dianjurkan untuk keamanan bagi bayi. Pedoman ini juga merekomendasikan agar bayi tidur di tempat dengan luas yang cukup di tempat tidurnya sendiri. Akan lebih baik jika bayi tidur tanpa benda-benda lain di sekitarnya, misalnya bantal, selimut, boneka dan mainan bayi, bahkan bantalan untuk bagian pinggir boks bayi (bumper pads) juga tidak disarankan dipakai pada tempat tidur bayi.

Baca juga: Posisi tidur yang baik selama hamil

Posisi tidur yang aman bagi bayi itu bagaimana?

Bagi bayi, tidur memiliki manfaat yang banyak, selain untuk merangsang perkembangan otak, hormon pertumbuhan juga dikeluarkan ketika bayi sedang tidur. Dengan bayi tidur nyenyak maka pertumbuhan otak bayi dapat berjalan secara maksimal. Sehingga kelak ia dapat tumbuh cerdas. Tetapi kecerdasan anak juga tumbuh bersamaan dengan stimulasi serta rangsangan yang di berikan pada proses belajarnya. Selain dari itu, hormon pertumbuhan itu sangat berfungsi untuk memperbaiki serta mempengaruhi semua sel yang terdapat di dalam tubuh anak.

Jadi membuat anak tidur nyenyak dan nyaman sangat penting bagi tumbuh kembang bayi. Baik dalam posisi terlentang, miring ataupun tengkurap. Sebagai orangtua sebaiknya kita dapat membaca posisi tidur yang paling disukai oleh bayi kita.

Berikut Luvizhea.com berikan beberapa penjelasan tentang posisi tidur yang baik dan aman bagi bayi di bawah usia 6 bulan:

Bayi tidur terlentang

Posisi seperti ini sangat umum, biasanya bayi yang berusia sekitar 0 hingga 3 bulan. Bayi belum mampu untuk berguling, serta posisi ini dapat dikatakan sebagai posisi yang paling aman untuk bayi. Posisi tidur terlentang seperti ini banyak dipilih kerena memperkecil tingkat resiko kematian bayi akibat SIDS.

Bayi tidur miring

Apabila bayi Ibu tidur dalam posisi yang miring, sebaiknya ibu mengatur posisi bayi tersebut agar tidak selalu menghadap pada satu sisi saja namun dapat dilakukan bergantian dengan menghadap sisi kanan ataupun sisi kiri. Tidur pada posisi miring ke kanan dinilai lebih baik bagi bayi yang berumur di bawah 6 bulan. Karena pada posisi ini ASI yang diminum akan masuk langsung ke lambung sehingga lambung akan lebih mudah mencerna segala minuman yang diminum bayi.

Posisi tidur dengan miring ke samping kanan ini juga biasanya dipilih bagi bayi yang prematur, terutama bagi bayi yang minum menggunakan selang atau bayi masih memakai alat bantu untuk pernafasan. Hal ini bertujuan supaya proses dalam pengosongan lambung berjalan lebih mudah. Ketika bayi akan di ajak pulang pun, pihak dari rumah sakit maupun dokter biasanya akan tetap menganjurkan supaya bayi sering tidur dalam posisi miring untuk mencegah gumoh yang lebih banyak lagi. Ibu tidak perlu khawatir karena gumoh itu sendiri tidak ada hubungan sama sekali kepada gangguan kesehatan bayi yang serius, kecuali jika cairan tersebut masuk kedalam paru-paru bayi.

Bayi tidur tengkurap

Posisi tidur yang satu ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan. Pasalnya menurut data secara statistik menyebutkan Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau yang kita ketahui sebagai sindrome bayi meninggal secara mendadak ini, banyak sekali terjadi terhadap bayi dengan tidur pada posisi tengkurap.

Namun di lain pihak, ada literatur yang menyatakan bayi dengan tidur tengkurap dapat tidur lebih nyaman, lebih nyenyak, tangisnya berkurang, serta gerak pernapasan dan perkembangan motoriknya lebih baik. Mungkin karena bayi merasa hangat karena perut menempel pada kasur yang seakan-akan bayi tidur dalam pelukan ibunya.

Sebenarnya, SIDS tidak akan terjadi apabila kondisi bayi selalu terpantau. Jadi, jangan takut menengkurapkan bayi. Dengan sering ditengkurapkan, bayi belajar mengembangkan kekuatan leher, punggung, dan otot-otot bagian atas lainnya. Kurang lebih di usia 4 bulan, kebanyakan bayi telah mampu menopang kepala dan lehernya menghadap kedepan. Apabila bayi sudah menguasai kemampuan tersebut dengan baik, tidak lama dari itu kemampuan bayi dalam mengangkat tubuh ini semakin meningkat. Dia mulai bisa membalikkan badan, menggeser dan akhirnya mampu menggulingkan badan dari posisi tengkurap, telentang, lalu tengkurap lagi dan seterusnya.

Pentingnya latihan tengkurap telah dibuktikan oleh beberapa penelitian. Misalnya yang dilakukan oleh Klinik Wichita di Newton Amerika Serikat, yang kemudian dipublikasikan di Archieves of Pediatric and Adolescent Medicine. Penelitian ini membuktikan, bayi yang lebih banyak tidur telentang jauh lebih kecil kemungkinannya untuk bisa berguling di usia 4 bulan, daripada bayi yang biasa ditidurkan dalam posisi tengkurap.

Hal yang sama diakui oleh Glenn Doman ahli terapi otak. Menurutnya, untuk mempermudah bayi bergerak, maka bayi harus diletakkan di lantai. Tentu saja pada lantai yang bersih dan aman, dengan posisi tengkurap agar bayi bisa menghabiskan waktunya sebanyak mungkin menggerakkan tangan dan kakinya untuk bergeser maju. Sebaliknya, Doman mengatakan, bayi dalam posisi telentang ibarat kura-kura dalam posisi terbalik. Ia akan sulit menggunakan leher dan anggota tubuhnya untuk belajar menopang tubuh dan bergerak maju atau mundur.

Baca juga: Cara mengatasi insomnia susah tidur.

Categories:
Tags: , , ,
Berbagi artikel di: