BERANDA » KEHAMILAN » Perawatan pasca mengalami keguguran

Perawatan pasca mengalami keguguran

| LuviZhea Chandra

keguguran adalah salah satu pengalaman menyakitkan bagi seorang calon ibu, karena selain harus kehilangan janin yang sedang dikandungnya, juga harus menahan rasa sakit karena harus mengeluarkan janin tersebut dari dalam rahim.

Untuk itu selain memulihkan kondisi psikis, ibu yang mengalami keguguran juga harus fokus untuk memulihkan kondisi fisiknya.

Ada beberapa istilah yang biasanya digunakan untuk menjelaskan keguguran secara spesifik, diantaranya:

  • Abortus Spontan, yaitu suatu kondisi dimana janin gugur secara alami sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu, hal ini biasanya terjadi pada kehamilan kosong (Blighted Ovum).
  • Abortus Inkomplet, yaitu suatu kondisi dimanan janin gugur, namun sebagian jaringannya masih tersisa dalam rahim calon ibunya.
  • Abortus Komplet, yaitu suatu kondisi dimana saat janin keluar disertai dengan seluruh jaringannya yang disebut hasil konsepsi.
  • Abortus Insipiens, yaitu suatu kondisi dimana keguguran yang sedang mengancam yang ditandai dengan pendarahan lewat vagina dan dilatasi serviks, sedangkan hasil konsepsi masih berada lengkap di dalam rahim.
  • Missed Abortion, yaitu keguguran yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih berada di dalam kandungan.

Sedangkan apabila dilihat berdasarkan saat terjadinya, keguguran dapat diklasifikasikan menjadi keguguran preembrionik (terjadi di bawah usia kehamilan 6 minggu), keguguran embrionik (di usia kehamilan 6-8 minggu), keguguran janin (terjadi di usia kehamilan 8-12 minggu) dan keguguran janin lanjut (terjadi di usia kehamilan 12-24 minggu).

Keguguran preembionik dan embrionik banyak dihubungkan dengan kejadian kelainan kromosom, kelainan hormonal, gangguan endometrium dan faktor imunologi. Sementara keguguran janin awal dan lanjut banyak dikaitkan dengan kelainan Sindrom Antibodi Antifosfolipid dan Trombofilia (Sindrom darah kental). Sehingga ibu tidak perlu terlalu menyalahkan dari “aktifitas yang dilakukannya” selama masa kehamilan.

Bagaimana membersihkan rahim pasca keguguran?

Saat ibu mengalami keguguran, ibu perlu memeriksakan diri ke Dokter untuk mengetahui apakah proses keguguran yang berlangsung sudah sempurna atau belum. Apabila masih ada sisa kantung rahim atau sisa konsepsi jaringan-jaringan embrio yang tertinggal di dalam rahim, maka untuk membersihkannya biasanya Dokter akan melakukan tindakan operasi kecil seperti Dilatasi dan Kuretase, atau bisa juga dengan pemberian obat. Tindakan pembersihan (pengangkatan sisa konsepsi) ini dilakukan untuk mencegah infeksi maupun komplikasi pada rahim, misalnya pendarahan yang terus menerus, rasa sakit (kram) yang berkepanjangan pasca keguguran, atau bisa jadi hal tersebut menjadi faktor penyebab tumor dikemudian hari.

Selama tindakan Dilatasi dan Kuretase, pasien bisa diberikan anestesi dan dibius sehingga tidak merasakan sakit. Serviksnya akan dilebarkan dan alat yang disebut kuret akan dimasukkan ke dalam rahim melalui vagina untuk mengeluarkan isinya. Setelah jaringan dikeluarkan, rahim dibersihkan dengan cairan antiseptik untuk mencegah terjadinya infeksi pasca melakukan tindakan kuretase.

Yang perlu di garis bawahi adalah, proses kuret sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis dengan peralatan yang sudah disterilisasi. Apabila alatnya tidak disterilisasi dan dilakukan oleh tenaga non medis, itu sangat berbahaya. Karena terbukanya jalan lahir akibat dari tindakan kuretase baik itu dilakukan oleh tenaga medis maupun non medis, biasanya tidak terlepas dari risiko komplikasi seperti pendarahan, infeksi, perforasi atau robekan pada dinding rahim hingga menyebabkan kematian. Sehingga butuh tenaga yang memang sudah benar-benar profesional.

Namun demikian, apabila Dilatasi dan Kuretase dikerjakan sesuai prosedur dan pasien cepat tanggap akan keluhan yang dideritanya, maka kemungkinan terjadinya komplikasi tersebut dapat ditekan seminimal mungkin.

Sedangkan, apabila pembersihan rahim tersebut menggunakan obat, maka obat tersebut akan bekerja dengan membuat perut “mengeras” sampai terjadi kram (kontraksi perut) hingga sisa kantung rahim atau jaringan sisa konsepsi tersebut bisa dikeluarkan. Hanya saja waktu yang dibutuhkan apabila menggunakan obat tersebut agak lama (yaitu rata-rata 2-3 hari) dan selama waktu tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien. Namun demikian pada beberapa orang, ada yang dalam waktu satu hari sisa kantung rahim tersebut bisa langsung keluar. Namun ada juga yang sampai berhari-hari, tergantung dari kondisi masing-masing individu.

Untuk memastikan, apakah cara pembersihan yang telah Luvizhea.com jelaskan diatas tersebut telah berjalan dengan baik, ibu bisa mengeceknya dengan melakukan USG.

Kapan pendarahan pasca keguguran berhenti?

Perdarahan pasca keguguran dan melakukan kuretase umumnya berlangsung 1-2 minggu. Pola perdarahannya yang seharusnya terjadi berupa darah merah (sisa-kehitaman) sekitar 2-3 hari, lalu diikuti flek hingga memudar dan menghilang. Apabila tidak mengikuti pola demikian, kemungkinannya adalah perdarahan aktif masih terjadi. Perdarahan aktif ini mungkin disebabkan oleh:

  • Adanya luka pada jalan lahir atau struktur kandungan.
  • Tertinggalnya sisa jaringan dalam rahim.
  • Kontraksi rahim kurang baik, biasanya karena ibu mengalami Anemia.
  • Terjadi Infeksi.
  • Gangguan pembekuan darah.

Untuk itu apabila pendarahan pasca keguguran berlangsung lebih lama (lama tidak berhenti-berhenti) dan tidak mengikuti pola yang telah Luvizhea.com jelaskan diatas, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan ke Dokter Kandungan (Sp. OG). Mungkin diperlukan pemeriksan darah, spekulum dan USG untuk menunjang diagnosis.

Dan kondisi ini sebaiknya jangan dibiarkan, karena bisa menyebabkan pengeluaran darah secara terus menerus selama penyebabnya belum ditemukan, selain itu hal ini bisa berakibat fatal karena ibu bisa kehilangan banyak darah.

Apa yang harus dilakukan ibu di rumah pasca mengalami keguguran?

Yang harus dilakukan ibu untuk memulihkan kondisi tubuh setelah mengalami keguguran, diantaranya:

Tetap minum obat yang diresepkan oleh Dokter pasca keguguran

Kram perut merupakan gejala yang wajar (sering) terjadi setelah keguguran, dan biasanya juga disertai pendarahan. Ada yang mengatakan hal ini merupakan proses alami tubuh dalam “membersihkan dan mengecilkan” rahim kembali. Dan nyeri atau kram perut akibat keguguran ini seharusnya mereda dengan sendirinya 5-7 hari pasca keguguran.

Hebatnya rasa nyeri yang timbul ini berbeda-beda pada setiap wanita, bergantung pada cara konsepsi atau janin tersebut keluar: secara alami atau diangkat melalui operasi (Dilatasi dan Kuretase).

Untuk mengatasi kram perut pasca keguguran ini, ibu harus tetap minum obat yang diberikan oleh Dokter. Karena obat tersebut selain untuk mencegah infeksi seperti antibiotik, juga biasanya untuk meredakan rasa nyeri akibat keguguran seperti obat-obatan jenis ibuprofen, atau obat semacam Cyclopam dan Buscopan merupakan antispasmodik yang dapat meredakan nyeri dengan mengurangi ketegangan otot rahim.

Apabila rasa nyeri ini justru semakin berat, sebaiknya ibu mencari pertolongan medis, karena mungkin masih ada jaringan yang tersisa di dalam rahim dan harus segera diangkat.

Lakukan kompres panas dan dingin untuk meredakan sakit kepala, kram perut dan nyeri punggung pasca keguguran

Selain diatasi dengan obat-obatan, sakit kepala, kram perut serta nyeri punggung pasca keguguran juga bisa diatasi dengan melakukan kompres dingin dan panas. Menggunakan kompres dingin dan panas secara bergantian adalah langkah yang tepat. Kompres panas dapat membantu menenangkan otot, sedangkan kompres dingin dapat meredakan nyeri.

Ibu bisa menggunakan botol yang di isi air hangat dan es batu yang di bungkus handuk kecil untuk digunakan mengompres bagian tubuh yang mengalami sakit atau nyeri. Tempelkan kompres panas di tempat yang sakit selama 20 menit sekali waktu, kemudian ganti dengan kompres dingin, atau sebaliknya. Ibu juga bisa mengkombinasikan dengan melakukan pemijatan untuk meredakan ketegangan di leher, punggung, dan bahu.

Rutin periksa suhu tubuh pasca keguguran

Selama 5 hari pertama setelah ibu mengalami keguguran, Sebaiknya ibu rutin melakukan pemeriksaan suhu tubuh dengan Termometer. Apabila ibu mendapati suhu tubuh di atas 37,6 derajat celsius, sebaiknya ibu segera hubungi Dokter. Karena suhu tinggi (Demam) menandakan adanya infeksi dalam rahim atau bagian tubuh lainnya. Terutama bagi ibu yang keguguran dan melakukan Dilatasi dan Kuretase.

Gunakan pembalut untuk menyerap darah yang keluar pasca keguguran

Pasca mengalami keguguran, selain ibu mengalami kram pada perut seperti yang Luvizhea.com sebutkan sebelumnya, ibu juga mengalami pendarahan. Pendarahan vagina sedang hingga berat umumnya terjadi karena rahim masih mengeluarkan sisa-sisa kehamilan. Untuk itu penggunaan pembalut diperlukan sebagaimana ketika ibu sedang haid. Sebaiknya pembalut tersebut harus diganti paling tidak 4 jam sekali walaupun darah yang keluar sedikit-sedikit. Hal ini agar ibu terhindar dari Toxic Shock Syndrome (TSS), yaitu infeksi dari bakteri yang tumbuh di dalam pembalut dan masuk ke dalam tubuh melalui vagina.

Selain itu, untuk menghindari kemungkinan infeksi, ibu juga tetap harus menjaga kebersihan tubuh secara keseluruhan, yaitu dengan mandi 2 kali sehari. Dan hindari menyemprotkan air dengan sabun disinfektan atau bahan kimia lainnya di sekitar vagina. Karena hal ini dapat menimbulkan iritasi pada bagian tersebut dan menyebabkan infeksi.

Mencukupi asupan gizi yang dibutuhkan tubuh dan menghindari pantangan makanan pasca keguguran

Makanan sehat dan bergizi akan membantu tubuh memulihkan diri dan berfungsi normal kembali. Makanan sehat juga akan memberikan tubuh lebih banyak energi sehingga ibu akan merasa lebih baik secara keseluruhan. Untuk itu sangat disaran bagi ibu yang telah mengalami keguguran untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung protein, karbohidrat, serat, dan lemak dalam perbandingan yang sehat. Serta minum paling tidak 8 gelas air setiap hari.

Selain itu, ibu juga perlu meningkatkan asupan kalsium hingga sekitar 200 mg setiap hari. Karena selama masa kehamilan, banyak kalsium tubuh yang diserap oleh janin, sehingga ibu mungkin kekurangan kalsium setelah mengalami keguguran. Untuk itu, ibu sebaiknya minum susu, makan produk olahan dari susu, serta mengkonsumsi ikan seperti ikan sardin maupun ikan salmon yang banyak mengandung kalsium.

Tingkatkan juga asupan zat besi dan asam folat, karena zat tersebut sangat dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah agar ibu tidak mengalami anemia, karena setelah keguguran ibu biasanya akan kehilangan banyak darah. Masukkan menu makanan yang kaya akan zat besi dan asam folat dalam menu makanan ibu sehari-hari seperti sayuran berdaun hijau dan buah-buahan. Atau bila perlu ibu juga bisa minum suplemen penambah darah yang telah diresepkan oleh Dokter.

Untuk mengurangi rasa depresi akibat keguguran, ibu sebaiknya juga mengkonsumsi makanan yang dapat memperbaiki mood atau membantu pemulihan mental, seperti makanan yang mengandung mineral dan magnesium, diantaranya kacang-kacangan dan cokelat.

Sedangkan makanan yang sebaiknya dihindari (pantangan) pasca ibu mengalami keguguran diantaranya adalah: Kopi, Junk Food, Fast Food, Makanan kalengan, dan makanan lainnya yang mengandung banyak zat pengawet. Karena makanan tersebut selain dapat meningkatkan depresi juga memperlambat proses penyembuhan pada ibu yang mengalami keguguran.

Apakah boleh mengkonsumsi jamu tradisional “Kunyit Asam” pasca keguguran?

Banyak orang yang menyarankan untuk mengkonsumsi jamu Kunyit Asam (Kunir Asem) selama masa nifas setelah melahirkan atau setelah ibu mengalami keguguran. Jamu tradisonal tersebut memang telah digunakan sejak lama bahkan sebelum obat modern ditemukan.

Apabila ibu ingin mengkonsumsinya, ada baiknya ibu membuat ramuannya sendiri di rumah. Karena selain lebih terjaga kehigienisannya, jamu tersebut bebas dari zat kimia tambahan. Jamu Kunyit Asam telah lama dipercaya mampu membersihkan organ dalam kewanitaan, meningkatkan stamina serta dapat mengobati peradangan yang mungkin timbul akibat keguguran.

Hal ini berdasar uji ilmiah bahwa kunyit memiliki khasiat sebagai Antiinflamasi, sedangkan asam jawa memiliki khasiat untuk mengencerkan darah yang menggumpal (seperti saat digunakan untuk mengatasi haid tidak teratur), sehingga dengan ramuan jamu Kunyit Asam dapat juga mengurangi rasa nyeri pasca keguguran.

Cara pembuatan ramuan Kunyit Asam ini juga cukup mudah, yaitu dengan mencampurkan parutan kunyit dengan 3 gelas air dan diberi asam jawa secukupnya, kemudian rebus hingga mendidih. Agar rasanya lebih nikmat Anda bisa tambahkan juga gula jawa lalu aduk hingga merata. Setelah ramuan mendidih diamkan hingga dingin kemudian saring dan ramuan Kunir Asem ini siap diminum.

Dan perlu diingat, jangan mengkonsumsi jamu yang dijual bebas. Apalagi jamu dengan kandungan yang tidak diketahui secara medis dan tidak terdaftar di BPPOM, karena tidak dapat dijamin efek sampingnya terhadap kesehatan, bahkan ditakutkan dapat memberi efek samping yang buruk bagi tubuh.

Bagaimana mengembalikan kondisi psikis ibu pasca mengalami keguguran?

Reaksi setiap orang terhadap keguguran berbeda-beda, namun semua orang terlepas dari kondisi kegugurannya (fisik), juga perlu waktu untuk memulihkan emosional (psikis) yang sedang ibu alami.

Hindari perasaan bersalah dengan berpikir positif pasca mengalami keguguran

Kandungan lemahMembiarkan diri berduka (menangis) atas kehilangan janin tersebut sangat diperlukan, karena hal ini dapat membantu ibu untuk menerima kenyataan dan memulai proses pemulihan diri. Namun jangan biarkan perasaan bersalah selalu menghantui perasaan ibu, karena di dunia ini tidak seorang pun yang bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Yakin bahwa itu semua bukanlah salah ibu melainkan rencana Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila ibu terus-menerus merasa sedih dan tidak dapat pulih dari dampak keguguran tersebut, sebaiknya ibu mencari bantuan konselor. Mereka bisa membantu ibu untuk mencerna perasaan yang sedang melanda dan memahami proses yang sedang ibu hadapi. Carilah konselor yang cocok untuk Anda. Dengan begitu, ibu mudah membuka diri dan menceritakan tentang kesedihan, ketakutan, dan kecemasan yang ibu alami.

Jangan menutup diri, ceritakan perasaan Anda dengan teman dekat atau anggota keluarga

Perubahan hormonal yang ibu alami bisa mengambil alih tubuh dan memperkuat perasaan sedih atau marah, yang mungkin tidak dapat dipahami oleh pasangan Anda. Jadi, mencari teman, keluarga dekat, atau bahkan kelompok tertentu untuk mencurahkan perasaan Anda adalah hal yang penting. Hal ini dapat membantu mempercepat pemulihan diri dan mencegah depresi karena perasaan tersebut tidak di pendam sendiri.

Walaupun begitu, ibu juga harus memahami bahwa keguguran adalah pengalaman yang berat baik bagi calon ibu maupun pasangan Anda. Keduanya merasakan beban emosional akibat kehilangan janin yang dinantikannya, jadi jangan menutup diri dari pasangan Anda, mendukung satu sama lain selama berduka adalah hal yang sangat penting. Ingatlah juga bahwa cara setiap orang berduka mungkin berbeda. Misalnya, ibu mungkin menangis keras, sementara pasangan Anda menyimpan kesedihannya sendiri. Hal ini tidak berarti ia tidak benar-benar bersedih, jadi cobalah untuk mengerti.

Lakukan aktivitas seperti biasa dan berolahraga

Saat kondisi tubuh ibu merasa jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya pasca keguguran, ibu sangat dianjurkan melakukan aktivitas seperti biasanya, apalagi setelah menjalani Dilatasi dan Kuretase. Karena pasca keguguran masih terdapat sisa-sisa darah yang akan keluar seperti flek. Sehingga, dengan banyak aktivitas dan gerak, sisa darah tersebut bisa lebih cepat keluar (bersih).

Ibu juga bisa melakukan olahraga, semua jenis olahraga bagus untuk Anda, karena dapat menurunkan kadar Androgen (hormon stres) dalam tubuh, dan mengeluarkan Endorfin (hormon bahagia).

Selain itu, ibu juga dapat mencoba untuk latihan yoga setiap hari untuk memulihkan diri setelah keguguran, karena yoga dapat menenangkan tubuh dan jiwa, serta mengurangi stres. Yoga melibatkan rangkaian latihan pernapasan, yang dapat mengembalikan ketenangan dan kedamaian tubuh sekaligus membawa lebih banyak oksigen ke dalam aliran darah, menenangkan otot, dan membuat ibu merasa lebih baik secara fisik. Yoga dapat dilakukan sendiri di rumah, dengan bantuan matras yoga dan DVD panduan yoga, atau bisa juga datang ke kelas yoga di sekitar tempat tinggal Anda.

Tanyakan pendapat Dokter mengenai penggunaan obat Antidepresan

Apabila diperlukan, obat-obatan Antiansietas dan Antidepresan bisa juga membantu mengatasi depresi dan kecemasan berlebihan yang sedang ibu alami pasca keguguran. Obat-obatan ini bekerja dengan menghambat Reseptor Serotonin yang menyebabkan depresi dan kesedihan. Waktu yang diperlukan hingga efeknya terasa adalah sekitar 3 minggu, namun seiring waktu, obat ini cenderung memberikan hasil yang bagus. Konsultasikan dengan Dokter mengenai resepnya.

Kembali bekerja saat ibu merasa siap

Waktu yang dibutuhkan untuk kembali bekerja dan beraktivitas normal setelah mengalami keguguran berbeda-beda bagi setiap orang. Beberapa orang mungkin segera kembali bekerja untuk mengatasi trauma emosional akibat kehilangan janin yang dikandungnya. Sementara beberapa orang lainnya membutuhkan waktu yang lebih lama, karena belum siap menghadapi kenyataan.

Jadi, berapa waktu yang ibu butuhkan untuk cuti setelah mengalami keguguran sangat ditentukan oleh kondisi ibu sendiri baik secara fisik maupun mental. Beristirahatlah sesuai kebutuhan Anda, tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan sesuatu.

Kapan ibu harus merencanakan kehamilan kembali pasca mengalami keguguran?

Setelah mengalami keguguran dan menjalani Kurestase, dianjurkan agar ibu dan pasangan menghindari hubungan seksual 1 atau 2 bulan setelah keguguran, atau minimal setelah ibu mengalami siklus menstruasi kembali. Hal ini dilakukan agar vagina atau organ reproduksi ibu mempunyai waktu untuk memulihkan diri dan kembali kebentuk semula. Selain itu 3 bulan pasca keguguran, ibu biasanya telah siap secara fisik dan emosional untuk hamil lagi.

Berhubungan sebelum datangnya siklus menstruasi pasca keguguran tidak dianjurkan, karena selain organ reproduksi yang belum pulih benar pasca keguguran dan kuretase, juga karena kemungkinan ibu untuk hamil kembali lebih tinggi pada masa-masa tersebut. Hal ini sangat penting terlebih bila ibu dan pasangan tidak menginginkan kehamilan lagi dalam waktu dekat untuk menyiapkan segala hal agar apabila ibu hamil kembali tidak mengalami keguguran.

Ibu bisa menanyakan kepada Dokter tentang kemungkinan penyebab dari kematian janin yang menyebabkan keguguran tersebut. Karena apabila penyebab keguguran tersebut diketahui, mungkin dapat dilakukan perawatan yang lebih intensif pada kehamilan selanjutnya, agar keguguran tidak berulang kembali.

Untuk itu, rencanakan kehamilan berikutnya sesuai saran Dokter kandungan. Dokter kandungan akan memberikan panduan pencegahan agar keguguran tidak terjadi kembali, misalnya dengan mengharuskan ibu cukup beristirahat selama trimester awal kehamilan, makan diet seimbang, atau mungkin juga Dokter akan meresepkan obat untuk mengurangi peluang keguguran. Hal ini bisa membantu ibu merasa lebih tenang dan aman selama kehamilan yang berikutnya.

Bagikan ini ke:
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh LuviZhea.