BERANDA » KEHAMILAN » Penanganan plasenta lengket saat persalinan

Penanganan plasenta lengket saat persalinan

| LuviZhea Chandra

Masalah plasentaPada proses persalinan normal terdiri dari empat tahapan yang disebut dengan kala, yaitu: kala I (pembukaan), kala II (pengeluaran bayi), kala III (pengeluaran plasenta), dan kala IV (pemulihan).

Sehingga proses persalinan tidak hanya berhenti setelah bayi dilahirkan, melainkan masih ada tahap kala III yang tidak kalah penting, yaitu melahirkan plasenta atau orang jawa bilang “Sedulur Enom Bayi” atau “Ari-ari”. Sama halnya dengan dua tahap sebelumnya, tahap ketiga (kala III) ini juga bisa berlangsung cepat atau malah lebih lama.

Bila lebih dari 30 menit setelah bayi lahir, plasenta atau Ari-ari belum juga ikut keluar, maka kondisi ini disebut dengan Retensio Plasenta. Yaitu suatu kondisi yang disebabkan oleh lengketnya plasenta pada dinding rahim sehingga sulit keluar.

Banyak yang mengaitkan bahwa kondisi plasenta lengket (atau lama keluar) disebabkan oleh ibu hamil yang makan daun kemangi atau makan sesuatu yang pahit (seperti pare) sewaktu hamil. Namun hal tersebut hanya sebatas mitos dan tidak terbukti secara ilmiah.

Risiko bila ibu melahirkan mengalami Retensio Plasenta

Risiko yang sering terjadi bila saat melahirkan ibu mengalami Plasenta lengket atau Retensio Plasenta adalah perdarahan post partum (perdarahan setelah persalinan).

Pendarahan ini mulai terjadi (cukup banyak) ketika sebagian atau keseluruhan plasenta yang lengket mulai terlepas, namun selama plasenta belum terlepas sama sekali, maka Retensio Plasenta tidak akan menimbulkan perdarahan.

Komplikasi lain yang munkin terjadi adalah infeksi post partum, terutama bila masih ada jaringan yang tertinggal, yang mungkin sebagai akibat dari plasenta yang hancur saat dilakukannya pengeluaran plasenta secara manual.

Pendarahan pun akan sulit dihentikan, bila ada sisa jaringan plasenta yang tertinggal, karena kondisi ini akan membuat rahim tidak dapat berkontraksi dengan baik, sehingga pembuluh darah di dalam rahim akan terus terbuka. Atau kondisi ini dikenal dengan Atonia uteri, yaitu kegagalan otot-otot rahim untuk berkontraksi dan beretraksi dengan baik setelah plasenta lahir.

Beberapa kondisi atau jenis Retensio Plasenta

Bila dilihat dari kondisi terjadinya perlengketan (Implantasi jonjot korion) plasenta, maka Retensio Plasenta terdiri dari beberapa kategori (jenis), yaitu:

  1. Plasenta Adhesiva, yaitu tertanamnya plasenta secara kuat sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
  2. Plasenta Akreta, yaitu plasenta yang tertanam hingga memasuki sebagian lapisan endometrium.
  3. Plasenta Inkreta, yaitu plasenta yang tertanam hingga menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
  4. Plasenta Prekreta, yaitu plasenta yang tertanam menembus lapisan serosa dinding rahim hingga ke peritonium (selaput luar rahim).
  5. Plasenta Inkarserata, yaitu plasenta yang tertahan di dalam rahim akibat menyempitnya mulut rahim.

Beberapa kondisi inilah yang menjadi penyebab patologis-anatomis pada Retensio Plasenta.

Penyebab plasenta lengket dan tidak bisa keluar saat persalinan

Secara umum terdapat dua hal utama yang menjadi penyebab lamanya plasenta lahir, yaitu (1) plasenta belum lepas dari dinding uterus, atau (2) plasenta sudah lepas dari dinding uterus, tetapi belum dikeluarkan.

Bila dilihat dari segi fisiologis-anatomis, penyebab Retensio Plasenta antara lain :

  • Kontraksi rahim yang buruk (tidak adekuat). Baik itu akibat masalah Anemia menjelang persalinan , hipertensi pada kehamilan, akibat adanya bekas luka (trauma) pada rahim, ataupun kondisi lainnya yang membuat kontraksi rahim menjadi lemah saat ataupun sesudah melahirkan. Dan yang menjadi masalah disini, bila plasenta lengket disebabkan oleh kontraksi rahim yang lemah, maka pendarahan yang terjadi akan sulit dihentikan. Karena, setelah bayi dan plasenta lahir, rahim harus berkontraksi untuk menutup semua pembuluh darah dalam rahim yang terbuka dan mengembalikannya ke kondisi dan posisi semula.
  • Akibat kesalahan dalam penanganan pada kala III persalinan, sebagai contoh: manipulasi rahim yang dilakukan sebelum terjadinya pelepasan plasenta, sehingga menyebabkan kontraksi rahim menjadi tidak teratur.
  • Mulut rahim keburu menutup sebelum plasenta sempat keluar. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh pemberian Uterotonik yang tidak tepat waktu, sehingga menyebabkan leher rahim berkontraksi dan menutup mulut rahim. Uterotonik adalah obat untuk meningkatkan kontraksi rahim yang banyak digunakan untuk induksi persalinan.
  • Bentuk plasenta yang tidak normal, misalnya Plasenta Suksenturiata yaitu plasenta yang memiliki Lobus Asesoris (plasenta kecil yang terhubung pada plasenta utama) sehingga plasenta kecil ini sering tertinggal di dalam rahim. Selain itu bentuk Plasenta Membranacea (plasenta dengan bentuk tipis sekali dan lebar) serta Plasenta Anularis (plasenta berbentuk cincin) juga dapat menjadi penyebab sulitnya plasenta keluar saat proses melahirkan kala III.
  • Air ketuban terlalu banyak (Polihidramnion).
  • Tempat melekatnya plasenta yang berada di sudut tuba falopi.
  • Tali pusat putus sehingga plasenta tertinggal di dalam.

Selain beberapa penyebab yang telah Luvizhea.com sebutkan di atas, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya Retensio Plasenta, termasuk diantaranya:

  • Grandemultipara, yaitu wanita yang memiliki lebih dari 5 kelahiran sebelumnya, pada kondisi ini biasanya telah terjadi penurunan sel-sel desidua pada jaringan endometrium.
  • Bekas luka pada uterus (rahim), akibat dari prosedur kuret berulang atau bekas operasi Caesar pada persalinan sebelumnya atau pun akibat pernah menjalani operasi pengangkatan miom, pada kondisi ini selain membuat kontraksi rahim menjadi kurang baik, juga berisiko membuat plasenta dapat tertanam lebih dalam pada jaringan parut rahim saat proses implantasi.
  • Kehamilan kembar atau multiple, yang memerlukan implantasi plasenta yang lebih luas.
  • Kehamilan dengan Plasenta Previa, terkadang pada kondisi ini tempat melekatnya plasenta terdapat di bagian isthmus yang mempunyai pembuluh darah sedikit, sehingga plasenta perlu melekat masuk lebih dalam dan akhirnya sulit dikeluarkan.
  • Komplikasi persalinan seperti mengalami hipertensi (tekanan darah tinggi) dalam kehamilan, atau mengalami infeksi ataupun reaksi peradangan di dalam tubuh.
  • Kehamilan pada usia lanjut (diatas 40 tahun). Atau pada kondisi tertentu, seperti wanita muda dengan kebiasaan merokok atau menghirup asap rokok.
  • Mengkonsumsi obat penguat kandungan saat masa awal kehamilan.

Plasenta lengket bisakah dideteksi melalui USG saat masa kehamilan?

Kondisi plasenta (Ari-ari) lengket umumnya sulit dideteksi dini, baik itu melalui pemeriksaan USG kandungan maupun pemeriksaan MRI. Perlengketan ari-ari baru bisa dideteksi (ditemukan) pada saat proses persalinan berlangsung. Yaitu dengan melihat lamanya proses kelahiran plasenta pada kala III yang lebih dari 30 menit atau bahkan hingga 1 jam, dan ditandai juga dengan pendarahan yang lebih banyak.

Mengeluarkan plasenta yang lengket dengan tindakan Manual Plasenta

Ari-ari bayiRetensio Plasenta merupakan suatu kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan segera. Tindakan pertolongan pertama dalam menangani Retensio Plasenta adalah dengan melakukan prosedur pengeluaran plasenta dengan memasukkan tangan ke dalam rahim untuk melepaskan lalu mengeluarkannya, tindakan inilah yang disebut dengan Manual Plasenta.

Hingga saat ini tidakan Manual Plasenta atau pengeluaran plasenta dengan tangan ini masih dianggap sebagai cara yang paling baik. Namun apabila tindakan Manual Plasenta dengan tangan tidak mungkin dilakukan, maka jaringan dapat dikeluarkan dengan menggunakan Tang (Cunam) Abortus.

Setelah prosedur Manual Plasenta berhasil dilakukan, meski sebagain besar plasenta berhasil dilepaskan, umum dijumpai adanya sedikit sisa plasenta yang tertinggal. Untuk mengeluarkan sisa yang tertinggal ini biasanya akan dilakukan prosedur kuret, yaitu melakukan pengerokan untuk membersihkan sisa-sisa plasenta yang masih tertinggal.

Sebab bila masih ada jaringan yang tertinggal akibat plasenta yang hancur saat dilakukan Manual Plasenta, maka selain masih menimbulkan pendarahan pasca melahirkan dalam waktu yang lama, hal ini juga dapat menyebabkan infeksi post partum yang disertai gejala demam, muntah, dan sebagainya. Selain itu, plasenta yang lengket dan masih ada jaringan yang tertinggal juga memicu timbulnya kanker dikemudian hari.

Setelah plasenta berhasil dikeluarkan semuanya, Dokter akan memberikan obat Uterotonika melalui suntikan atau per oral (diminum) untuk merangsang kontraksi agar pembuluh darah rahim yang terbuka segera menutup dan membersihkan rahim. Selain itu pemberian Antibiotika Profilaksis dosis tunggal (Ampisilin 2 g IV dan Metronidazol 500 mg IV) juga bisa diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

Bagaimana bila tindakan Manual Plasenta gagal?

Apabila tindakan Manual Plasenta gagal setelah beberapa kali percobaan, maka tidak ada jalan lain selain melakukan pengangkatan rahim (Histerektomi), karena bila ini tidak dilakukan, ibu akan terus mengalami pendarahan hingga meninggal.

Selain itu, Pada kasus Retensio Plasenta yang masuk pada kategori plasenta akreta, inkreta, dan prekreta, juga memerlukan penanganan yang lebih kusus yaitu pengangkatan rahim (Histerektomi) untuk mengatasinya. Mengingat pada kondisi ini jaringan plasenta tertanam jauh lebih dalam menembus jaringan otot-otot rahim bahkan jaringan rahim terluar.

Bila sudah pernah mengalami plasenta lengket saat melahirkan, apakah akan mengalami hal yang serupa saat kehamilan berikutnya?

Memang bagi ibu yang pernah mengalami Retensio Plasenta memiliki resiko lebih besar mengalami hal serupa dimasa mendatang. Seperti yang Luvizhea.com sebutkan diatas, risiko ini juga akan semakin meningkat seiring penambahan jumlah anak dan pertambahan usia ibu saat hamil.

Namun demikian pada sebagian wanita, kondisi ini belum tentu berulang. Karena setiap kehamilan memiliki karakteristik tersendiri.

Bagaimana tindakan pencegahan agar plasenta tidak lengket dan tertinggal saat proses persalinan?

Pencegahan kondisi ini adalah dengan melakukan kontrol kehamilan, seperti rutin memeriksakan kandungan secara teratur serta berusaha untuk mengendalikan faktor risiko (bila ada) seperti yang telah Luvizhea.com sebutkan sebelumnya.

Ibu yang pernah melakukan tindakan operasi atau kuret, sebaiknya melakukan persalinan di Rumah sakit. Dengan begitu, bila terjadi sesuatu dapat ditangani segera, dan peralatan medisnya pun lebih memadai.

Upaya lain yang bisa dilakukan untuk memudahkan lahirnya plasenta pada kala III persalinan adalah dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD dapat membantu menjaga produksi Oksitosin alami dalam tubuh, yang membantu kontraksi uterus secara optimal untuk mendorong pelepasan plasenta secara alami. Jadi bila memungkinkan untuk menyusui bayi sedini mungkin, maka ini juga dapat membantu mencegah terjadinya kondisi Retensio Plasenta.

Selain itu, tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya Retensio Plasenta pada saat proses persalinan adalah dengan melakukan percepatan kelahiran plasenta (pada kala III) dengan pemberian suntikan oksitosin sintetis segera setelah bayi lahir. Hal ini dilakukan untuk menginduksi kontraksi rahim agar dapat membantu mengeluarkan plasenta. Penegangan tali plasenta dengan tepat dan melakukan pemijatan rahim dengan tepat juga dapat menurunkan kemungkinan terjadinya Retensio Plasenta saat melahirkan. Untuk itu pilihlah Bidan atau Dokter kandungan yang telah berpengalaman dalam membantu proses persalinan Anda.

Baca juga: Menyembuhkan bekas jahitan episiotomi saat melahirkan normal

Bagikan ini ke:
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh LuviZhea.