BERANDA » PARENTING » Penanganan pada anak yang mengalami Cerebral Palsy

Penanganan pada anak yang mengalami Cerebral Palsy

| LuviZhea Chandra

Akibat lumpuh otakPerkembangan fisik dan kemampuan pada setiap anak memang berbeda. Dalam hal bahasa (berbicara) misalnya, statistik menunjukkan selama 2 tahun pertama, anak perempuan seharusnya menguasai rata-rata 120 kata, sedangkan anak laki-laki hanya 90 kata. Dan bila dirunut perkembangan bicara berdasarkan usia rata-rata anak, maka:

  • Saat usia 7 bulan, anak sudah bisa mengucapkan kata: “ba ba.. bababa..”
  • Saat usia 9 bulan, anak sudah bisa mengucapkan kata: “ma.. ma.. da.. da.. ta.. ta..”
  • Saat usia 13 bulan, anak sudah bisa mengucapkan kata: “yaahh..yaah”
  • Saat usia 15 bulan, anak sudah bisa mengucapkan kata: “na.. na..” dan “Mama!”
  • Saat usia 20 bulan anak sudah bisa beberapa kata seperti: iya, udah, duduk, maem, mimik, susu, ayah, mama, papa, cicak. Dan saat usia ini anak juga mulai bisa menirukan suara hewan seperti “cuit cuit” untuk burung, “mooo” untuk sapi, “huk” untuk anjing, dan lain sebagainya.

Kebanyakan kasus anak terlambat berbicara akibat kurangnya dari mendapatkan masukan kosakata baru dan kesalahan metode dalam melatih pemahaman arti dari kata-kata tersebut. Selain itu hal ini juga disebabkan oleh beberapa masalah seperti gangguan pendengaran, penglihatan maupun gangguan-gangguan lainnya. Namun, selama anak masih bisa mendengar dan mengerti perintah atau ucapan orang lain, itu masih bisa dikatakan normal.

Sedangkan untuk berjalan, rata-rata anak baru bisa berjalan saat berusia 8,5 bulan hingga 18 bulan, meski kebanyakan anak bisa berjalan ketika mencapai usia 12 bulan.

Bila kita lihat berdasar perkembangan gerakan motorik normal berdasarkan usia rata-rata anak, maka:

  • Saat usia 6-8 bulan, anak sudah bisa duduk dan merangkak dengan dua dengkul kaki.
  • Saat usia 12-18 bulan, anak sudah bisa berdiri tanpa bantuan, berjalan dengan merambat, berjalan 2-3 langkah tanpa bantuan, atau berjalan 10-20 menit tanpa bantuan.
  • Saat usia 18-24 bulan, anak sudah bisa berjalan tanpa kesulitan, menarik dan membawa mainan sambil berjalan, naik/turun bangku tanpa bantuan, dan menemukan cara sendiri untuk berjalan mundur.
  • Saat usia 24-36 bulan, anak sudah mampu memanjat kursi dengan baik, serta berjalan naik/turun tangga dengan menggunakan satu kaki per anak tangga.

Kemampuan anak melakukan gerakan motorik ini sangat ditentukan oleh kematangan syaraf yang mengatur gerakan tersebut. Karena pada waktu anak dilahirkan, syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syarat belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya, yaitu mengontrol gerakan-gerakan motorik.

Kondisi cepat atau lambatnya anak untuk bisa berjalan umumnya tidak banyak berdampak terhadap tingkat intelejensi dan kemampuan koordinasinya kelak ketika anak dewasa. Kecuali anak mengalami keterbelakangan mental.

Namun demikian, banyak yang mengaitkan bila anak belum dapat berbicara dan berjalan saat usianya beranjak 3 tahun (keatas), maka ada kemungkinan anak mengalami Cerebral Palsy.

Apa itu Cerebral Palsy?

Cerebral palsy adalah suatu kondisi dimana terjadinya lumpuh otak yang menyebabkan masalah pada sistem saraf (neurologis) sehingga mengganggu koordinasi dan pergerakan tubuh. Hal ini umumnya terkait dengan cedera otak atau masalah dengan perkembangan otak.

Cerebral Palsy memang dapat menyebabkan anak tidak dapat melakukan aktivitas layaknya yang dapat dilakukan oleh balita normal. Mereka akan mengalami perkembangan yang sangat lambat bahkan sebagian besar akan terlambat berbicara, mengalami gangguan keseimbangan dan sulit melakukan gerak motorik, seperti: merangkak, duduk, jalan dan aktivitas motorik kasar lainnya.

Bahkan epilepsi, gangguan penglihatan (buta) atau gangguan pendengaran (tuli) juga dapat menyertai Cerebral Palsy. Dan bila anak mengalami gangguan pendengaran inilah yang akan membuat anak terlambat berbicara atau bisa menyebabkan kondisi tunawicara (bisu).

Apakah anak dengan Cerebral Palsy dapat tumbuh dengan baik?

Anak dengan Cerebral Palsy kemungkinan akan menunjukkan tanda-tanda gangguan fisik. Namun, jenis disfungsi gerakan, lokasi dan jumlah anggota badan yang terlibat, serta sejauh mana gangguan, akan bervariasi dari setiap anak yang mengalami Cerebral Palsy.

Ada yang mungkin hanya mengalami gejala ringan (mengalami keterlambatan bicara dan keterlambatan berjalan karena gangguan keseimbangan), ada yang mengalami kelumpuhan parsial seperti memiliki tremor (gerakan yang tidak terkontrol) yang memerlukan sedikit bantuan, bahkan ada yang mengalami kelumpuhan total dan memerlukan perawatan teratur dalam jangka panjang.

Namun demikian, sebagian besar anak-anak dengan Cerebral Palsy mampu untuk hidup dengan baik menjadi dewasa. Hanya saja efek dari Cerebral Palsy ini bersifat jangka panjang (tidak sementara), dan sebagian besar kondisi ini tidak semakin memburuk seiring berjalannya waktu, sehingga penurunan nilai atau fungsi dari kondisi tersebut tidak membatasi mereka dari melakukan aktivitas kehidupan, karena mereka hanya mengalami gangguan tanpa cacat. Apalagi pada umumnya secara kemampuan berpikir, mereka tidak beda dengan anak lainnya.

Seperti contoh, orang yang memiliki rabun jauh masih bisa melihat, dan untuk memperbaiki masalahnya hanya diperlukan dengan memakai kacamata. Pada kondisi ini mereka memang memiliki gangguan, tetapi tidak memiliki cacat. Namun, seseorang dinyatakan buta tidak dapat melakukan fungsi-fungsi tertentu, seperti mengemudi, dan karenanya mereka memiliki cacat yang membatasi kinerja.

Apa beda Autisme dengan Cerebral Palsy?

Walaupun hampir sama, secara klinis, tentu ada perbedaan antara autisme dengan Cerebral Palsy. Seperti yang telah Luvizhea.com jelaskan diatas, Cerebral palsy atau lumpuh otak merupakan suatu penyakit saraf yang mempengaruhi gerakan tubuh, kontrol otot, koordinasi otot, tonus otot, refleks, postur dan keseimbangan. Hal ini juga dapat mempengaruhi keterampilan motorik halus, motorik kasar serta fungsi motorik oral.

Sedangkan pada Autisme, masalah yang terjadi lebih kepada gangguan perkembangan yang mempengaruhi interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. Misalnya anak lebih suka dengan aktivitas yang itu itu saja, terpaku dengan topik atau kegiatan tertentu dengan intensitas fokus yang berlebihan, tidak bisa diam, bayi tidak berceloteh, tidak menyadari saat namanya di panggil, tidak melakukan kontak mata ketika diajak berbicara, tidak tersenyum, seperti tidak menyukai mainan, tidak menangis saat ditinggal diruangan sendirian, dan tidak dapat mengenali wajah yang familiar seperti Ibu dan ayahnya sendiri.

Dalam hal bicara anak dengan Autisme, biasanya juga tidak dapat mengucapkan satu kata pun, tidak dapat mengkombinasikan dua kata sampai usianya 2 tahun, tidak dapat mengerti instruksi yang sangat sederhana dan tidak dapat melakukan hal-hal umum seperti yang biasa dilakukan bayi seusianya.

Selengkapnya tentang Autisme ini bisa dibaca pada artikel berikut: Mencegah dan mengatasi Autisme pada anak.

Mengenali tanda anak mengalami Cerebral palsy

Biasanya tanda-tanda anak terkena Cerebral Palsy terlihat pada tahun pertama kelahiran, termasuk diantaranya:

  • Bayi yang lahir dengan tanda-tanda kerusakan otak akan kesulitan bernafas, tubuh terkulai, dan tubuhnya membiru, serta bayi tidak segera menangis ketika dilahirkan.
  • Selama masa tumbuh kembang anak, anak dengan tanda Cerebral Palsy akan mengalami keterlambatan dalam menegakkan kepala, tengkurap, duduk sendiri, menggeliat dan bergerak dibanding anak-anak normal. Selain itu, refleks yang seharusnya menghilang pada usia tertentu, tetap masih ada, misalnya: refleks menggenggam hilang saat bayi berusia 3 bulan, namun pada bayi dengan Cerebral Palsy mereka tetap menggenggam. Dan, karena ada gangguan refleks ini, ada kemungkinan anak nantinya saat beraktifitas atau bermain jarang menggunakan kedua tangannya.
  • Bayi mungkin akan mengalami kelemahan otot. Kelemahan otot ini akan membuat bayi ketika diangkat terlihat lemah terkulai. Dengan kata lain, bayi normal ketika diangkat dengan posisi menghadap ke bawah, kepala dan punggungnya segaris. Sedangkan pada bayi dengan Cerebral Palsy, mereka akan terkulai ke bawah sehingga antara kepala dan kaki seakan membentuk huruf U. Selain itu bila bayi mengalami kelemahan otot wajah, mungkin wajah mereka bisa terlihat aneh, terus-menerus mengeluarkan air liur karena tidak bisa mengontrolnya, dan juga terkadang mereka kesulitan menghisap ASI atau menelan makanan. Dan yang tidak kalah penting, kelemahan otot wajah ini juga dapat membuat bayi kesulitan berkomunikasi, terlambat belajar bicara, atau bahkan kesulitan berbicara nantinya. Bukan hanya itu saja, saat belajar merangkak, mungkin bayi akan merangkak dengan satu kaki diseret.
  • Namun demikian, selain ada yang mengalami kelemahan otot, tubuh bayi dengan Cerebral Palsy ada juga yang cenderung kaku sehingga menyebabkan kesulitan berjalan, seperti berjalan di atas jari kaki (jinjit), gaya berjalan berjongkok, gaya berjalan gunting-seperti dengan lutut menyeberang atau gaya berjalan dengan kaki melebar.
  • Selain itu mungkin bayi juga mengalami gerakan involunter, kejang, ataupun tremor (gerakan yang tidak terkontrol).

Baca juga: Kemampuan dan perkembangan bayi sesuai usia.

Jenis Cerebral Palsy menurut gejala yang timbul

Dari beberapa tanda yang telah disebutkan Luvizhea.com diatas, Secara umum Cerebral Palsy dapat dikelompokkan dalam empat jenis yaitu:

Spastic Cerebral Palsy

Yaitu Cerebral Palsy yang menyebabkan kekakuan pada otot sehingga mengakibatkan berkurangnya gerakan pada berbagai sendi tubuh, floppiness atau kekakuan tungkai dan batang, serta membuat postur tubuh abnormal. Jenis ini adalah jenis yang paling sering dialami oleh anak (sekitar 65%).

Athetoid Cerebral Palsy

Yaitu Cerebral Palsy yang dapat mempengaruhi otot dan kemampuan seseorang untuk mengendalikan tubuh mereka. Otot dapat berkontraksi terlalu banyak, terlalu sedikit, atau semua pada waktu yang sama (refleks yang abnormal atau tremor atau gerakan involunter), sehingga menyebabkan anggota badan gemetar, kejang atau menggeliat.

Ataxic Cerebral Palsy

Yaitu Cerebral Palsy yang dapat menyebabkan masalah dengan keseimbangan yang diakibatkan kurangnya koordinasi otot (Ataksia). Sehingga anak akan kesulitan untuk duduk dan berdiri serta kesulitan saat berjalan (goyah saat berjalan). Sementara yang lain mungkin memiliki kesulitan menangkap objek. Selain itu anak dengan Cerebral Palsy mungkin memiliki ketidakseimbangan otot mata, di mana mata tidak fokus pada objek yang sama.

Hipotonis Cerebral Palsy

Yaitu Cerebral Palsy dengan otot-otot yang sangat lemah sehingga seluruh tubuh selalu terkulai. Dan biasanya pada kasus ini berkembang menjadi Spastic atau Athetoid, dimana terjadi kondisi otot kaku dengan refleks berlebihan (terjadi kelenturan), atau terjadi kondisi otot kaku dengan refleks normal (terjadi kekakuan).

Penyebab dan faktor risiko anak mengalami Cerebral Palsy

Seperti yang telah Luvizhea.com bahas diawal, Cerebral Palsy sebenarnya disebabkan oleh kerusakan otak. Kerusakan otak disebabkan oleh cedera otak atau perkembangan abnormal dari otak yang terjadi ketika otak anak masih berkembang. Baik itu sebelum kelahiran (di dalam kandungan), pada saat kelahiran, atau sesaat setelah bayi lahir, atau bahkan bisa juga dikemudian hari. Dan tentu saja ini masih berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, ataupun komplikasi dari kehamilan dan persalinan yang pernah dilakukan.

Cerebral Palsy anak akibat kesehatan ibu hamil

Infeksi tertentu atau masalah kesehatan ibu selama kehamilan secara signifikan dapat meningkatkan risiko Cerebral Palsy pada janin yang dikandungnya, karena adanya kemungkinan infeksi tersebut menular ke janin.

Beberapa penyakit infeksi tersebut diantaranya adalah: Campak Jerman (Rubella), Cacar (Varicella), Cytomegalovirus, Herpes Genital, Toksoplasmosis, infeksi bakteri menular seksual (seperti: Spilis), serta infeksi virus Zika.

Paparan racun seperti metil merkuri yang ditemukan pada makanan atau kosmetik, atau penggunaan obat-obat tanpa resep Dokter ketika hamil juga dapat meningkatkan risiko bayi cacat lahir.

Kondisi lain yang juga meningkatkan risiko terjadinya Cerebral Palsy pada janin adalah pada ibu hamil dengan riwayat masalah Tiroid, Anemia (hb rendah), hipertensi, diabetes dan gangguan lain yang berisiko menghambat asupan nutrisi dan oksigen ke rahim saat hamil.

Cerebral Palsy akibat komplikasi pada kehamilan dan kelahiran

Selain infeksi virus ataupun bakteri yang menyerang ibu hamil dan janin, komplikasi saat kehamilan dan kelahiran juga menyebabkan risiko anak mengalami Cerebral Palsy, diantaranya adalah:

  • Bayi dilahirkan dalam kondisi Sungsang (kaki keluar lebih dulu), Kehamilan kembar, Kelahiran prematur sehingga otak dan paru-paru belum berkembang dengan sempurna, atau bayi lahir dengan berat badan rendah sehingga menyebabkan bayi mengalami Hipotermia.
  • Rh (Rhensus) golongan darah tidak cocok antara ibu dan janin juga bisa meningkatkan risiko Cerebral Palsy. Karena bila kondisi ini terjadi, sistem kekebalan tubuh ibu mungkin tidak mentolerir jenis darah janin yang berkembang sehingga tubuhnya mungkin mulai menghasilkan antibodi untuk menyerang dan membunuh sel-sel darah janin, dan ini yang dapat menyebabkan kerusakan otak pada janin. Bukan hanya itu mutasi pada gen juga disebut-sebut dapat menyebabkan perkembangan otak yang abnormal
  • Kekurangan oksigen ke otak (Asfiksia) juga penyebab bayi bisa mengalami Cerebral Palsy. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hypoksia janin dalam rahim atau penanganan bayi lahir tidak dilakukan secara sempurna.

Cerebral Palsy akibat kesehatan anak dan cedera otak karena kecelakaan di kemudian hari

Bukan hanya pada ibu hamil, infeksi pada bayi baru lahir juga dapat meningkatkan risiko Cerebral Palsy termasuk infeksi Meningitis bakteri dan Ensefalitis virus yang menyebabkan peradangan di selaput otak dan sumsum tulang belakang pada anak.

Selain itu kesalahan dalam penanganan demam pada anak juga bisa berpengaruh terhadap kerusakan otak. Misalnya: Saat anak mengalami demam dengan suhu yang tinggi disertai kejang (Step), sebaiknya ibu jangan mengompresnya dengan air dingin (air es), karena itu dapat menyebabkan “korsleting” atau benturan kuat pada saraf otak karena perbedaan suhu yang sifnifikan. Mengompres dengan lap hangat dimana suhu airnya kurang lebih sama dengan suhu badan anak adalah jalan yang terbaik.

Cerebral Palsy juga dapat diakibatkan cedera kepala pada bayi akibat terjatuh dari tempat tidur atau kecelakaan lain yang dapat menyebabkan cacat tulang belakang atau terjadi pendarahan di otak.

Kondisi lain yang mungkin terjadi adalah akibat bayi mengalami Hypoksia, yaitu kondisi dimana bayi kekurangan oksigen pada jaringan tubuh (terutama otak) atau tidak dapat beradaptasi karena pengaruh perbedaan ketinggian, misalnya anak diajak melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, dan lain sebagainya.

Apakah kondisi Cerebral Palsy dapat menular?

Cerebral Palsy bukanlah penyakit menular. Karena kerusakan otak tidak menyebar melalui kontak dengan manusia lain. Namun, seseorang sengaja atau tidak sengaja dapat meningkatkan risiko kemungkinan anak untuk mengembangkan Cerebral Palsy melalui penyalahgunaan obat (terutama saat ibu hamil), kecelakaan, malpraktik medis, kelalaian saat mengasuh anak, atau penyebaran infeksi bakteri atau virus.

Cara mendiagnosis apakah benar anak mengalami Cerebral Palsy

Apabila ibu merasa curiga dan khawatir anak mengalami gangguan dalam tumbuh kembangnya, apalagi bila terdapat tanda dan gejala Cerebral Palsy yang telah disebutkan Luvizhea.com diatas, maka segeralah berkonsultasi dengan Dokter Spesialis tumbuh kembang anak untuk membantu Anda mengidentifikasi masalah yang sedang dialami oleh anak Anda. Sehingga dengan begitu terapi yang tepat dapat segera diberikan dan masalah gangguan tumbuh kembang anak Anda dapat segera diatasi. Karena tingkat kesembuhan Cerebral Palsy bisa mencapai 80-90 persen asalkan ditangani sejak dini.

Untuk dapat mendeteksi dengan tepat Cerebral Palsy pada bayi terkadang sulit untuk dilakukan, walaupun biasanya tanda-tanda anak terkena Cerebral Palsy terlihat pada tahun pertama kelahiran. Hal ini dikarenakan tumbuh kembang tiap anak berbeda-beda, mungkin saja itu hanya keterlambatan biasa akibat kurang stimulus yang diberikan. Selain itu kesulitan untuk mendiagnosis pasti Cerebral Palsy diakibatkan karena terdapat kecenderungan pada bayi untuk mengalami gejala yang berubah-ubah dalam tahun pertama kehidupannya.

Hasil positif untuk diagnosis pasti Cerebral Palsy ini baru bisa ditegakkan setelah dilakukan pemeriksaan berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Tentunya dengan tingkat keparahan yang baru bisa dipastikan ketika anak mulai berusia 4-5 tahun.

Beberapa prosedur medis dapat dilakukan untuk mendiagnosis pasti anak yang dicurigai mengalami Cerebral Palsy, di antaranya adalah dengan metode:

  • Elektroensefalografi (EEG). Tes ini dilakukan untuk menilai atau merekam aktivitas elektrik di sepanjang kulit kepala. EEG mengukur fluktuasi tegangan yang dihasilkan oleh arus ion di dalam neuron otak.
  • Computerized Axial Tomografi (CT scan). Tes ini dilakukan untuk menilai struktur anatomi otak secara rinci dengan menggunakan sinar X.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI Scan). Tes ini dilakukan untuk menilai struktur anatomi otak dengan gambaran yang lebih rinci dibanding CT scan dengan menggunakan gelombang elektromagnet
  • Ultrasonography (USG). Tes ini dilakukan untuk mendapatkan pencitraan jaringan otak dengan menggunakan gelombang suara.
  • Tes darah. Tes ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada keterkaitan gejala yang muncul dengan masalah metabolis ataupun genetik.

Pengobatan Cerebral Palsy

Cerebral Palsy adalah kerusakan otak yang saat ini tidak dapat diperbaiki 100% karena ada bagian otak yang mengalami kerusakan permanen. Namun, kerugian (penurunan nilai) yang disebabkan oleh Cerebral Palsy dapat dikelola. Dengan kata lain, pengobatan (obat-obatan), terapi, operasi, dan teknologi bantu dapat membantu memaksimalkan kemandirian, mengurangi hambatan, mengatasi emosional, meningkatkan inklusi (pendekatan / perubahan) sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup anak-anak dengan Cerebral Palsy seiring pertumbuhan.

Terapi atau pengobatan yang diberikan pada penderita Cerebral Palsy akan disesuaikan dengan usia anak, berat/ ringan penyakit, serta menimbang dari area pada otak mana yang rusak.

Dan penanganan ini harus disesuaikan juga dengan kebutuhan sehingga perlakuan ke setiap anak berbeda-beda. Dan itu juga membutuhkan perawatan jangka panjang dengan berbagai tim medis, seperti: Dokter spesialis di bidang kedokteran fisik dan rehabilitasi (Physiatrist), Ahli Saraf Pediatrik, Ahli Bedah Ortopedi, Ahli Terapi Fisik / Fisioterapi, Ahli Terapi Okupasi, Ahli Patologi Wicara-Bahasa (speech terapis), Spesialis kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater, Terapis rekreasi, dan lainnya.

Ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi Cerebral Palsy, antara lain:

Terapi non obat

Penanganan terhadap Cerebral Palsy bisa dilakukan dengan Rehabilitasi Medik yang meliputi:

  • Fisioterapi (terapi fisik), terapi okupasi, terapi hidro untuk memperbaiki pola gerakan, kekuatan, fleksibilitas, keseimbangan.
  • Terapi fungsional organ tubuh seperti melatih menghirup oksigen (masking) untuk melatih paru-paru agar membesar.
  • Terapi perilaku yang dilakukan oleh seorang Psikolog. Bimbingan emosional dan psikologikal ini mungkin dibutuhkan terutama bila kepercayaan diri anak menurun akibat malu dan tertekan dari kondisi yang mereka alami.
  • Terapi rekreasi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan motorik, dan kesejahteraan emosional.
  • Terapi wicara untuk memperbaiki fungsi bicara dan bahasa. Terapis wicara juga dapat mengatasi kesulitan dengan otot-otot yang digunakan dalam makan dan menelan.

Terapi-terapi ini dilakukan rutin tiap hari atau setidaknya seminggu sekali.

Dalam mengatasi Cerebral Palsy dengan terapi ini, dikenal juga dengan beberapa metode, diantaranya:

  • Metode Glenn Doman, yaitu metode yang digunakan untuk membentuk “patterning” atau “pola” yang sesuai tahap perkembangan anak. Latihan yang dilakukan juga mengajarkan anak tentang gerakan yang benar, dengan pengulangan gerakan sebanyak mungkin dan sesering mungkin, sehingga gerakan tersebut bisa tersimpan di memori otak dengan baik. Selain itu metode ini juga berfungsi untuk mengajarkan balita membaca dengan menggunakan media flash card.
  • Compensatory Dendrite Sprouting, yaitu rangsangan agar Dendrit (Sel-sel serabut saraf di otak) tersebar dengan berimbang. Hal ini untuk menutupi sel-sel otak yang rusak permanen dengan cara mengoptimalkan bagian otak yang sehat, seperti pemberian rangsangan (stimulasi) secara intensif melalui panca indera agar otak anak berkembang dengan baik.

Terapi Obat

Penanganan terhadap Cerebral Palsy bisa dilakukan dengan terapi obat. Terapi ini biasanya diberikan pada kasus Cerebral Palsy yang disertai dengan kejang, atau untuk mengontrol spastisitas (kekakuan otot), atau untuk mengontrol gerakan-gerakan abnormal, serta meringankan rasa sakit yang mungkin timbul.

Beberapa obat-obatan yang biasa digunakan untuk penanganan anak dengan Cerebral Palsy, diantaranya:

  • Bila spastisitas mempengaruhi otot-otot tertentu, Dokter Anda mungkin akan merekomendasikan OnabotulinumtoxinA (Botox/ Toksin Botulinum) yang di suntikan langsung ke dalam otot, saraf atau keduanya yang dilakukan setiap 3 bulan. OnabotulinumtoxinA digunakan untuk memperbaiki fungsi ekstremitas atas anak-anak dengan Cerebral Palsy. Terutama untuk mengobati kekejangan otot lengan dan tangan serta untuk mengobati kelenturan otot. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Wake Forest University Baptist Medical Center. Efek samping dari penggunaan OnabotulinumtoxinA hanya rasa nyeri di tempat suntikan, gejala seperti flu ringan, memar atau kelemahan yang parah.
  • Bila spastisitas mempengaruhi seluruh tubuh, Dokter Anda mungkin akanmerekomendasikan Dokter Anda mungkin akanmerekomendasikan Diazepam (Valium), Dantrolene (Dantrium) dan Baclofen (Gablofen). (1) Diazepam termasuk kelompok obat Benzodiazepine yang memengaruhi sistem saraf otak dan memberikan efek penenang. Namun Diazepam tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang karena menyebabkan ketergantungan. (2) Dantrolene merupakan turunan Hydantoin Lipofilik yang mudah melintasi membran sel dan jaringan distribusi sehingga melepaskan Kalsium untuk menurunkan kekuatan kontraksi otat (kejang). Efek samping dari penggunaan Dantrolene adalah termasuk kantuk, kelemahan, mual dan diare serta dapat mempengaruhi serat otot jantung. (3) Baclofen berfungsi meredakan otot-otot tubuh yang mengalami kejang, kram, atau tegang secara kronis. Karena Baclofen bekerja dengan memengaruhi sistem saraf pusat untuk melemaskan otot, sehingga rasa sakit dan nyeri akan berkurang. Efek samping Baclofen mencakup kantuk, kebingungan dan mual.
  • Anak Anda mungkin juga akan diresepkan obat untuk mengurangi air liur. Yang meliputi obat-obatan seperti: Trihexyphenidyl, Scopolamine atau Glikopirolat (Robinul, Robinul Forte). (1) Trihexyphenidyl biasa digunakan untuk mengatasi gangguan gerakan termasuk kondisi-kondisi seperti tremor, gerakan wajah dan tubuh yang tidak terkendali. Efek samping dari penggunaan Trihexyphenidyl yaitu: konstipasi, pusing, sulit buang air kecil (BAK), mulut kering, pandangan buram, dan mual. (2) Scopolamine bekerja sebagai antagonis reseptor asetilkolin muskarinik, dan dulu banyak dipakai secara medis untuk anti mabuk perjalanan, mual muntah, anti kram perut, dan obat asma. Obat ini digunakan dalam dosis kecil (satuan miligram). Bila digunakan dalam dosis yang cukup besar, maka dapat menyebabkan efek delirium, semacam bingung, disorientasi, kehilangan memori, dan halusinasi. (3) Glikopirolat (Robinul, Robinul Forte) sebagai obat antikolinergik dapat menurunkan produksi air liur dan keringat. Efek samping mungkin termasuk diare, mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, perubahan denyut jantung, sakit kepala, kehilangan rasa dan mengantuk.

Namun demikian, sangat penting untuk ibu mendiskusikan lebih lanjut tentang penggunaan terapi obat ini dengan Dokter yang menangani anak Anda, agar meminimalisir risiko atau efek samping yang mungkin ditimbulkannya.

Tindakan bedah

Pembedahan mungkin diperlukan bila terjadi keterbatasan otot yang berat, yang menyebabkan gangguan gerakan, mengurangi spastisitas (otot yang mengalami kontraksi secara terus-menerus yang menyebabkan kekakuan, nyeri, dan kesulitan untuk digerakkan), serta memperbaiki abnormalitas (kelainan) pada tulang.

Anak-anak dengan kontraktur berat atau cacat mungkin perlu melakukan Bedah Ortopedi, yaitu operasi pada tulang atau sendi, bahkan pinggul atau kaki agar kembali pada posisi yang benar.

Prosedur bedah juga dapat dilakukan untuk memperpanjang otot dan tendon (struktur dalam tubuh yang menghubungkan otot ke tulang) yang terlalu pendek akibat kontraktur (pemendekan permanen) yang parah. Koreksi ini dapat mengurangi rasa sakit dan meningkatkan mobilitas.

Dalam beberapa kasus yang parah, bila pengobatan lain tidak membantu, Dokter Bedah juga dapat melakutan tindakan dengan memotong saraf yang melayani otot-otot kejang. Prosedur ini disebut Selektif Dorsal Rhizotomy (SDR), yang berfungsi melemaskan otot yang disebabkan oleh komunikasi yang abnormal antara otak, sumsum tulang belakang, saraf dan otot sehingga mengurangi rasa sakit. Namun tindakan ini dapat menyebabkan mati rasa.

Baca juga: Cara agar memiliki anak yang cerdas sejak kecil.

Bagikan ini ke:
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh LuviZhea.