BERANDA » KEHAMILAN » Mengenali Kehamilan kosong “Blighted Ovum”

Mengenali Kehamilan kosong “Blighted Ovum”

| LuviZhea Chandra

Kehamilan kosongKehamilan kosong atau dikenal dengan istilah “Blighted Ovum (BO)” merupakan kehamilan tanpa embrio atau fetus (Anembrionik).

Dahulu, Blighted Ovum (BO) atau kehamilan kosong ini selalu dikaitkan dengan hal-hal mistik atau mitos yang beredar di masyarakat. Ada yang mengatakan janin dalam kandungan tersebut hilang di bawa oleh mahkluk halus, karena memang terkesan janin menghilang begitu saja, padahal ibu mengalami semua tanda dan perubahan tubuh layaknya kehamilan normal, serta ketika dites hasilnya juga menunjukan bahwa ibu memang benar-benar positif sedang hamil.

Namun sebenarnya Blighted Ovum atau kehamilan kosong ini merupakan suatu bentuk keguguran diawal masa kehamilan, bukan karena hal mistik seperti yang dipercaya masyarakat terdahulu. Karena 50% keguguran pada trimester awal kehamilan adalah Blighted Ovum (BO).

Pada kehamilan kosong memang terjadi pembuahan (konsepsi) antara sel telur dan sperma hingga terjadi pembelahan seperti kehamilan normal pada umumnya, namun hasil konsepsi tersebut tidak berkembang menjadi embrio.

Walau demikian kantung kehamilan (Gestational Sac), ketuban dan plasenta tetap terbentuk. Plasenta yang berkembang akan membentuk Hormon Human Chrionic Gonadtrophin (HCG), yaitu hormon yang akan menunjukkan bahwa ibu memang benar-benar positif sedang hamil apabila dites kehamilan.

Selain itu, hasil konsepsi yang masih tertanam di dalam rahim untuk sementara waktu akan memberikan sinyal ke otak, bahwa terdapat konsepsi di dalam rahim (walaupun sebenarnya konsepsi tersebut tidak berkembang sebagaimana mestinya), sehingga hormon-hormon kehamilan tetap akan dihasilkan. Dengan demikian ibu juga akan mengalami gejala seperti kehamilan normal pada umumnya, seperti: terlambat haid, mual muntah, pusing-pusing, sembelit, ngidam, dan tanda-tanda awal kehamilan normal lainnya. Namun, ketika plasenta berhenti berkembang dan tingkat hormon kehamilan menurun, maka gejala tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Dan selanjutnya, kantung uterus akan berhenti membesar dan embrio yang tidak lagi berkembang akan gugur dan dikeluarkan dari dalam kandungan. Proses keguguran ini bisa berlangsung berminggu-minggu, dimulai dengan hadirnya flek (bercak darah) kecoklatan, gumpalan seperti daging atau hingga perdarahan dalam jumlah banyak disertai kram pada perut. Tidak jarang keguguran terjadi secara spontan.

Penyebab utama kehamilan kosong atau Blighted Ovum (BO)

Penyebab dari Blighted Ovum sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun di duga karena adanya kelainan kromosom pada fetus yang sedang berkembang. Kelain kromoson bisa dikarenakan oleh faktor genetik atau bisa juga karena kualitas sel telur dan sperma yang kurang bagus. Selain itu, pembelahan sel yang tidak sempurna juga dapat mengakibatkan Blighted Ovum (BO).

Jadi, ketika tubuh ibu menyadari adanya kelainan pada embrio atau fetus apapun penyebabnya yang menyebabkan embrio atau fetus tersebut tidak bisa berkembang (cacat), maka tubuh akan secara alamiah menghentikan kehamilan. Sehingga embrio atau fetus yang tidak berkembang akan segera di keluarkan dari dalam tubuh (kandungan). Inilah yang menyebabkan terjadi Blighted Ovum (BO).

Cara diagnosis kehamilan kosong atau Blighted Ovum (BO)

Untuk memastikan kehamilan kosong perlu dilakukan pemeriksaan dengan USG. Pada kehamilan normal, denyut jantung janin sudah dapat terdengar pada usia kehamilan 8 minggu. Sedangkan, embrio seharusnya sudah terlihat pada kantung janin sejak usia kehamilan sekitar 6 minggu. Tepatnya, perkembangan janin sudah dapat terlihat melalui pemeriksaan USG Transvaginal ketika usia kehamilan 5-6 minggu, sedangkan pada pemeriksaan USG Abdomen perkembangan janin sudah dapat terlihat pada usia kehamilan 6-7 minggu.

Apabila saat usia kehamilan 8 minggu dilakukan pemeriksaan USG abdomen, namun di dalam kantung janin tidak terdapat tanda-tanda adanya embrio, begitu juga ketika dilakukan pemeriksaan Doppler tidak adanya detak jantung janin yang terdeteksi, maka ada kemungkinan ibu telah mengalami Blighted Ovum (BO) atau kehamilan kosong.

Namun demikian, apabila hasil tersebut tidak disertai adanya perdarahan pervaginal, biasanya Dokter akan memberikan pilihan untuk menunggu sekitar 10 hari untuk mengulang pemeriksaan USG kembali agar tidak terjadi adanya salah diagnosa pada dugaan kehamilan kosong tersebut.

Selain dengan USG, perhatikan juga adanya flek (bercak darah) keluar selama masa kehamilan. Perdarahan pervaginal merupakan bagian dari tanda-tanda ibu mengalami Blighted Ovum (BO), karena tubuh berusaha mengeluarkan konsepsi yang tidak normal seperti yang telah Luvizhea.com jelaskan diatas.

Baca juga: Sering USG Saat hamil, amankah bagi janin?

Penanganan tepat pada kehamilan kosong atau Blighted Ovum (BO)

Bligted Ovum (BO)Pada dasarnya kehamilan kosong atau Blighted Ovum (BO) tidak berdampak pada keselamatan dan kesuburan ibu. Bahaya yang harus diwaspadai adalah terjadinya pendarahan hebat pada ibu hamil. Untuk itu, setelah ibu hamil positif didiagnosis mengalami Blighted Ovum, maka Dokter akan segera menindaklanjuti dengan tindakan Dilatase dan Kuretase. Yaitu prosedur penanganan dengan cara melebarkan leher rahim, kemudian mengeluarkan embrio dan jaringan plasenta yang tidak berkembang dari dalam rahim.

Untuk pelaksanaan Kuretase pada kehamilan kosong tetap harus dilakukan persiapan, seperti melakukan puasa dan cek darah. Namun, apabila telah terjadi pendarahan, maka tindakah Dilatase dan Kuretase harus segera dilakukan. Dikhawatirkan bila perdarahan yang terjadi tergolong berat, maka dapat mengancam jiwa ibu karena kemungkinan kehabisan darah.

Setelah proses keluarnya kantung janin melalui keguguran spontan atau melalui pelaksanaan prosedur Dilatase dan Kuretase, biasanya seorang wanita akan mendapatkan haid kembali 4-6 minggu kemudian. Artinya, siklus masa kesuburan wanita tersebut bisa kembali normal.

Selain prosedur yang telah dijelaskan Luvizhea.com diatas, pemberian obat-obatan juga dapat digunakan sebagai pilihan untuk membersihkan rahim pasca terjadinya Blighted Ovum (BO). Untuk itu silahkan berkonsultasi pada Dokter yang menangani ibu untuk memilih prosedur yang ibu inginkan. Sebenarnya kedua cara ini memiliki efek samping yang sama yaitu menimbulkan kram perut. Namun Dilatase dan Kuretase dianggap memiliki kelebihan karena dapat mencegah terjadinya infeksi dan juga dapat dilakukan pemeriksaan kromosom.

Ibu juga harus menyadari, bahwa keguguran pada kasus Blighted Ovum adalah proses alami yang tidak bisa dicegah ketika tubuh mendeteksi ketidaknormalan pada proses kehamilan. Untuk itu jangan menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini. Karena mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kita.

Cara mencegah terjadinya kehamilan kosong atau Blighted Ovum (BO)

Blighted Ovum (BO) merupakan kejadian acak sehingga sangat jarang terulang kembali. Wanita yang pernah mengalami Blighted Ovum tetap dapat memiliki kandungan yang sehat pada kehamilan berikutnya.

Blighted Ovum tidak berpegaruh terhadap rahim ibu atau terhadap masalah kesuburan. Seseorang yang pernah mengalami Blighted Ovum dapat kembali hamil normal. Namun apabila ibu mengalami blighted ovum berulang, baiknya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan yang intensif, karena dikhawatirkan adanya kelainan kromosom yang menetap pada diri ibu atau suami. Dokter mungkin menyarankan untuk dilakukan tes genetika atau juga dilakukannnya terapi selama 1-3 bulan sebelum mencoba hamil kembali, tergantung dari kondisi hasil pemeriksaan Dokter.

Apabila ibu baru saja mengalami keguguran dan ingin mempersiapkan kehamilan selanjutnya, penting bagi ibu mempersiapkan kehamilan sehat dengan menjalankan gaya hidup sehat baik untuk istri dan suami, melakukan pemeriksaan kromosom atau tes genetik untuk mendeteksi adanya kelainan yang berisiko terulangnya keguguran, serta melakukan pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care) secara rutin.

Agar terjadi pembuahan yang sempurna, ibu dan pasangan juga dapat mempersiapkan diri mulai dari 3 bulan sebelum perencanaan konsepsi. Hal ini karena sel telur dan sperma memperbaharui setiap 90 hari sekali. Perubahan yang ibu dan suami lakukan mulai hari ini akan mempengaruhi sel telur dan sperma yang akan digunakan 3 bulan dari sekarang. Jadi sebaiknya tunggu minimal selama 3 bulan setelah keguguran, sebelum ibu dan pasangan mencoba untuk hamil kembali.

Faktor lain yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kehamilan kosong adalah usia dari calon ibu. Pasalnya, kualitas sel telur wanita akan semakin buruk seiring dengan bertambahnya usia. Untuk itu lakukan perencanaan kehamilan pada masa produktif.

Kapan waktu yang tepat untuk hamil kembali setelah mengalami keguguran, kehamilan kosong atau Blighted Ovum (BO)?

Penelitian oleh “Scottish Study” pada 30.000 wanita menerangkan bahwa wanita yang mengalami kehamilan dalam jarak waktu enam bulan setelah keguguran mempunyai kesempatan memiliki kehamilan yang sangat sehat dan baik. Atau setidaknya menunggu 3 kali siklus menstruasi sebelum mencoba untuk hamil lagi.

Baca juga: Mengatasi kandungan lemah dan mencegah keguguran spontan

Bagikan ini ke:
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh @LuviZhea.