BERANDA » KEHAMILAN » Lingkar kepala dan lingkar perut janin sesuai usia kehamilan

Lingkar kepala dan lingkar perut janin sesuai usia kehamilan

| LuviZhea Chandra

Saat ibu hamil melakukan kunjungan ke Dokter Kandungan untuk melakukan pemeriksaan USG, pasti Anda beserta pasangan akan sangat senang sekali ketika bisa melihat janin yang berada dalam rahim untuk pertama kalinya. Dokter pun akan mencetak hasil USG tersebut dan memberikannya kepada Anda.

Pemeriksaan USG ini memang sangat disarankan, karena dari sana akan banyak informasi yang bisa kita dapatkan tentang kondisi kehamilan saat ini.

Dengan USG, kita bisa mengetahui usia kehamilan (GA/Gestational Age)dengan lebih akurat, kita bisa mengetahui detak jantung janin, jenis kelamin janin, termasuk kelainan anatomi (kecacatan) maupun letak (posisi) janin.

Dari pemeriksaan USG tersebut kita juga bisa mengetahui ukuran lingkar kepala (HC/Head Circumferesial ), ukuran lingkar perut (AC/Abdominal Circumferencial), ukuran panjang antara bokong dan ujung kepala janin (CRL/Crown Rump Length), ukuran tulang pelipis kiri dan kanan (BPD/Biparietal Diameter), ukuran panjang tulang paha (FL/Femur Length), yang bisa digunakan sebagai acuan untuk menilai apakah perkembangan janin Anda baik-baik saja atau tidak? atau apakah perkembanganya tersebut sudah sesuai usia kehamilan atau tidak?

Pengukuran-pengukuran tersebut penting, karena dapat dijadikan sebagai acuan untuk hasil pengukuran lainnya, misalnya:

  • Untuk mengetahui usia kehamilan biasanya diambil berdasarkan pada panjang tungkai lengan ataupun diameter kepala. Bila salah satu menunjukkan besaran yang tidak normal, Dokter langsung bisa mendeteksinya sebagai kelainan, terutama GA (Gestational Age) di bagian kepala.
  • Rasio BPD (Biparietal Diameter) dapat digunakan untuk mengetahui pengukuran dalam, kelainan kepala atau anggota gerak bawah, dan untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan janin.
  • Head Circumferesial (HC) atau ukuran lingkar kepala, yang dapat digunakan untuk mengetahui usia kehamilan terutama pada trimester kedua dan ketiga, juga dapat dijadikan sebagai alat pendeteksi adanya kelainan otak bawaan.
  • Dan bila BPD (Biparietal Diameter) dikombinasikan dengan AC (Abdominal Circumference) atau lingkar perut janin, bisa menghasilkan perhitungan taksiran berat janin.

Berikut tabel ukuran normal BPD, FL, HC dan AC berdasarkan usia kehamilan

Usia Kehamilan (minggu) Ukuran tulang pelipis kiri dan kanan / BPD (mm) Ukuran panjang tulang paha / FL (mm) Ukuran lingkar kepala / HC (mm) Ukuran lingkar perut /AC (mm)
12 21 8 70 56
13 25 11 84 69
14 28 15 98 81
15 32 18 111 93
16 35 21 124 105
17 39 24 137 117
18 42 27 150 129
19 46 30 162 141
20 49 33 175 152
21 52 36 187 164
22 55 39 198 175
23 58 42 210 186
24 61 44 221 197
25 64 47 232 208
26 67 49 242 219
27 69 52 252 229
28 72 54 262 240
29 74 56 271 250
30 77 59 280 260
31 79 61 288 270
32 82 63 296 280
33 84 65 304 290
34 86 67 311 299
35 88 68 318 309
36 90 70 324 318
37 92 72 330 327
38 94 73 335 336
39 95 75 340 345
40 97 76 344 354
41 98 78 348 362
42 100 79 351 371

Pengukuran ini dapat dilakukan pada usia kehamilan di atas 12 minggu.

Untuk panjang dan berat badan normal janin berdasarkan usia kehamilan, bisa dibaca pada artikel berikut: Penaganan janin dengan berat badan kurang.

Menilai kelainan janin di lihat dari ukuran lingkar kepala dan lingkar perut

Saat dilakukan deteksi lewat USG, namun ditemukan ukuran lingkar kepala janin yang tidak semestinya (tidak sesuai dengan usia yang seharusnya) atau tidak proporsional antara lingkar kepala dengan lingkar perut. Maka hal tersebut mengindikasikan adanya masalah (kelainan) yang mungkin perlu diwaspadai, seperti:

Hidrosefalus

Ukuran lingkar kepala janin yang lebih besar mengindikasikan janin mengalami Hidrosefalus sebelum lahir akibat penimbunan cairan otak Serebrospinal yang berlebihan di dalam otak, sehingga kepala janin nampak lebih besar dari ukuran normal.

Kondisi ini lebih sering terjadi akibat dari infeksi Toksoplasma yang menyebabkan radang pada jaringan otak janin, kelainan genetik, cacat bawaan di mana tulang belakang tidak menutup dan faktor lainnya.

Mikrosefalus

Apabila ukuran lingkar kepala janin lebih kecil daripada ukuran normal maka kemungkinan janin mengalami Mikrosefalus atau kelainan otak yang terjadi akibat kegagalan pertumbuhan otak pada kecepatan yang normal.

Mikrosefalus bisa juga diakibatkan oleh virus Zika yang pernah Luvizhea.com pada artikel: Mengenali gejala dan komplikasi dari virus Zika. Selain virus Zika, virus lain yang dipercaya dapat menyebabkan janin mengalami Mikrosefalus adalah Rubella, Cytomelovirus, Varicella, Pneumococcus.

Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa janin juga rentan mengalami Mikrosefalus akibat keracunan darah oleh toksin yang terserap janin, sehingga mengganggu keseimbangan DNA dalam tubuh janin selama masa pertumbuhannya di dalam rahim.

Pertumbuhan janin terhambat

Pada umumnya lingkar kepala janin lebih besar di banding lingkar perutnya, terutama ketika usia kehamilan trimester pertama dan kedua. Setelah masuk usia kehamilan trimester ketiga, ukuran lingkar perut janin akan lebih besar dari ukuran lingkar kepalanya. Semua itu dikatakan normal bila masing-masing ukuran tersebut sesuai dengan usia kehamilannya (lihat tabel diatas).

Namun pada beberapa kasus, ada ditemukan juga janin yang ukuran kepalanya dinyatakan normal tapi lingkar perut janin lebih kecil (bila dilihat dari usia kehamilan yang seharusnya). Hal tersebut umumnya diakibatkan karena janin kurang gizi atau bisa juga disebut Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT).

PJT dibagi menjadi 2 (dua), yaitu PJT Simetris dan PJT Asimetris:

  1. PJT Simetris yaitu apabila perbandingan diameter kepala dan lingkar perut janin sebanding meskipun keduanya lebih kecil bila dibandingkan ukuran normal pada usia kehamilan tersebut.
  2. PJT Asimetris yaitu apabila ditemukan ukuran diameter kepala yang tidak sesuai (lebih besar) daripada lingkar perut. PJT asimetris ini lebih berbahaya karena memiliki risiko untuk terjadinya komplikasi dalam persalinan, maupun setelah persalinan.

Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

  • Faktor nutrisi yang disebabkan pola makan ibu hamil yang buruk dan tidak seimbang. Selain itu, keinginan ibu hamil yang ingin tetap tampil menarik selama masa kehamilan, membuat banyak ibu hamil membatasi makanannya (berdiet) selama hamil. Hal tersebut juga dilakukan agar setelah melahirkan kelak tubuhnya bisa cepat kembali proporsional seperti sedia kala.
  • Trimester pertama berperan penting dalam pertumbuhan janin. Bila dalam masa ini ibu mengalami sakit, mengalami Morning Sickness atau Hiperemesis Gravidarum, maka dalam perkembangannya janin dapat memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari usia kehamilannya, meskipun hal ini belum tentu membawa dampak buruk bagi janin itu sendiri.
  • Kelainan plasenta sehingga menyebabkan plasenta tidak dapat menyediakan nutrisi yang baik bagi janin seperti kematian sel pada plasenta atau kelainan letak plasenta seperti Plasenta Previa.
  • Komplikasi penyakit kronik yang dialami ibu selama masa kehamilan seperti sakit jantung, Hipertensi, diabetes, pembekuan darah, anemia, gangguan saluran pernafasan, ginjal, dan berbagai macam penyakit infeksi lainnya yang dapat menyebabkan hambatan pada pertumbuhan janin.
  • Ibu yang memiliki kebiasaan merokok, menggunakan narkotika dan mengkonsumsi alkohol serta mengkonsumsi zat yang bersifat Teratogen seperti obat anti kejang.

Memang seorang ibu dengan PJT biasanya tidak merasakan gejala apapun selama kehamilannya, tetapi bila kondisi berlanjut tanpa diketahui sejak dini, akan membahayakan perkembangan janin, baik selama dalam kandungan maupun setelah persalinan. Gangguan perkembangan saraf, gangguan perkembangan motorik dan mental hingga kematian janin dapat menyertai PJT yang tidak ditangani dengan baik.

Ada beberapa hal yang juga perlu ibu ketahui, ukuran tubuh janin yang lebih kecil, umumnya juga tidak melulu akibat kelainan atau perkembangan janin yang terhambat. Faktor genetik dan ukuran tubuh ibu yang kecil juga akan menyebabkan janin berukuran kecil, bukan hanya di dalam kandungan bahkan hingga dewasa akan memiliki ukuran tubuh yang kecil. Faktor genetik ukuran tubuh ibu lebih menentukan ukuran tubuh janin yang dikandung daripada faktor genetik ayah. Faktor genetik dan ukuran ibu akan membuat janin tampak mengalami PJT namun sebenarnya hal ini adalah normal.

Selain itu, ibu hamil yang tinggal di daerah pegunungan dimana tekanan oksigen rendah juga memiliki bayi dengan ukuran kecil tanpa ada kelainan apapun juga.

Untuk itu, sebaiknya dalam menyimpulkan apakah terjadi kelainan atau tidak, harus diskusikan dengan Dokter Spesialis Kandungan Anda yang melakukan pemeriksaan secara langsung. Maka dari itu aktiflah bertanya bila dirasa masih ada hal yang mengganjal ketika ibu melakukan pemeriksaan kehamilan ke Dokter.

Penanganan bila ditemukan kelainan pada janin berdasar ukuran lingkar kepala

Bila kelainan pada otak janin terdeteksi sejak dini, maka dapat dilakukan Eugenic Abortio, yaitu tindakan pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang memiliki cacat bawaan. Namun apabila baru terdeteksi pada trimester ketiga kehamilan, maka janin terpaksa harus dilahirkan.

Janin yang terdeteksi mengalami Mikrosefalus seringkali bisa bertahan hidup namun cenderung mengalami keterbelakangan mental, gangguan koordinasi otot dan kejang. Begitupun dengan janin yang terdeteksi mengalami Hidrosefalus, juga bisa bertahan hidup namun juga akan mengalami kelainan intelektual, fisik, serta saraf.

Baca juga: Mencegah dan mengatasi gejala auitis pada anak.

Namun bila janin hanya mengalami pertumbuhan yang terhambat (PJT) tanpa kelainan yang abnormal, maka yang perlu ibu lakukan adalah membatasi aktivitas fisik sembari melakukan perbaikan pola makan, perbaikan nutrisi, dan mencari solusi dari masalah berdasarkan penyebab mengapa perkembangan janin bisa terhambat.

Misalnya, bila perkembangan janin terhambat karena Anemia, maka perlu dicarikan solusi berdasarkan penyebab Anemia tersebut terjadi, seperti yang telah dibahas pada artikel: Mengatasi Anemia pada ibu hamil.

Selain itu, penting juga bagi semua wanita agar merencanakan kehamilan dengan baik sehingga sejak awal kehamilan janin dapat memperoleh nutrisi yang cukup untuk masa pembentukan dan pertumbuhannya.

Dan kami juga menyarankan, sebaiknya ibu menemui Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan secara teratur untuk tatalaksana lebih lanjut dalam mengatasi masalah seperti ini. Dan pastikan ibu mengikuti apa yang telah disarankan oleh Dokter.

Bagaimana bila ditemukan selisih (perbedaan) dari tiap pengukuran BPD, HC, AC dan FL

Sebenarnya angka-angka pengukuran dalam USG ditujukan bagi Dokter yang memeriksa, untuk kemudian dilakukan evaluasi menyeluruh, termasuk hasil pemeriksaan fisik dan penunjang lainnya. Hasil evaluasi terebut akan bisa menunjukkan kondisi ibu dan janin yang dikandung.

Apabila ada perbedaan ukuran BPD, HC, AC dan FL, itu sebenarnya wajar terjadi pada orang Asia, termasuk Indonesia, jadi tinggal patokan mana yang Anda pakai. Sebab secara fisik, orang Asia pada umumnya tidak sebesar orang Kaukasia (Eropa). Sehingga perbedaan beberapa minggu antara BPD, HC, AC dengan FL masih wajar, dan ini banyak dijumpai pada pemeriksaan pada ibu hamil lainnya.

Terkeculi perbedaan tersebut sangat mencolok, misalnya: BPD, HC, AC sesuai usia 34-35 minggu, tetapi FL sesuai usia 20-21 minggu, maka temuan ini memerlukan evaluasi kembali.

Selain itu, apabila perbedaan ini disebabkan oleh kesalahan perhitungan, maka akan membuat perhitungan lain menjadi tidak akurat. Misalnya saja berpengaruh pada hasil perhitungan berat badan janin. Hal ini disebabkan karena perhitungan berat badan janin salah satunya berdasarkan perbandingan antara lingkar kepala (HC), lingkar perut (AC) dan panjang femur (FL). Kesalahan mengukur pada ketiga bagian tersebut, bisa membuat seolah-olah berat janin terlihat lebih besar atau sebaliknya. Kesalahan tersebut terjadi karena kemungkinan tarikan garis yang seharusnya lurus menjadi miring melintang atau agak miring sedikit, sehingga mempengaruhi hasil pengukuran diameter lingkarannya. Seperti telur yang dipotong, akan berbeda hasilnya bila ditarik berdasarkan garis lonjong atau bulat.

Dan terakhir yang perlu dicatat, pengukuran yang dilakukan melalui USG, akurasi perhitungannya akan semakin menurun seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Dengan kata lain pengukuran yang dilakukan pada trimester akhir sering kali menunjukkan selisih dari ukuran sebenarnya. Hal tersebut disebabkan oleh ruang rahim yang semakin penuh. USG pada trisemester ketiga umumnya lebih kepada untuk melihat posisi janin sungsang atau tidak.

Baca juga: Sering USG saat hamil, amankah bagi janin?

Bagikan ini ke:
Loading...
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh LuviZhea.