BERANDA » PARENTING » Cara mengobati Suleten “Impetigo” pada bayi

Cara mengobati Suleten “Impetigo” pada bayi

| LuviZhea Chandra

SuletenSebagai orangtua tentu kita akan merasa panik ketika menemukan bayi kita yang baru berumur beberapa hari terdapat bintik bintik merah atau bisa juga berupa bentolan berisi cairan kuning jernih seperti lepuhan pada kulitnya. Bintik-bintik ini terkadang muncul pada bagian tubuh tertentu atau bisa juga menyebar hampir seluruh tubuh sama halnya seperti Herpes atau Cacar. Ternyata orang jawa sering menyebutnya dengan Suleten.

Baca juga: Mencegah alergi dari sejak dini.

Apa itu Suleten dan apa penyebabnya?

Menerut mitos orangtua dahulu, Suleten ini disebabkan oleh kotoran bayi atau bisa juga berupa bekas popok maupun pakaian anak yang dibuang kurang hati-hati, hingga bercampur dengan sampah dan kemudian dibakar. Karena kotoran bayi tersebut ikut terbakar, maka ini akan berimbas pada kulit bayi yaitu menjadi seperti melepuh dan juga bisa berbentuk kudis maupun kurap. Namun itu adalah mitos yang belum bisa dibuktikan dan dijelaskan secara logika.

Secara medis, Suleten ini dikenal dengan istilah “Impetigo” yaitu infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus (Staph) dan Streptococcus (Strep). Dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: Kebersihan (higiene dan sanitasi) kurang, Musim panas dengan banyak debu dan Keadaan dimana anak kurang gizi dan anemia.

Impetigo yang disebabkan oleh kedua bakteri Staphylococcus (Staph) dan Streptococcus (Strep) disebut dengan “Impetigo Kontangiosa krustosa”. Gejala yang ditimbulkan awalnya muncul bintil merah pada permukaan kulit seperti bekas gigitan serangga, yang akhirnya lecet hingga menjadi kerompeng dengan karateristik kerak bewarna kecoklatan atau lebih seperti kudis dan kurap. Impetigo jenis ini paling umum dan banyak ditemukan disekitar kita.

Ada lagi jenis Impetigo yang hanya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus (Staph) yang disebut dengan “Impetigo Bulosa atau Neonatorum”. Bakteri ini menghasilkan racun yang mengurangi kekakuan sel-sel (Adhesi) hingga menyebabkan pemisahan antara lapisan atas kulit (Epidermis) dan lapisan bawah (Dermis). Hal ini menyebabkan kondisi kulit yang nampak melepuh. Lepuhan dapat muncul di berbagai daerah kulit, terutama pantat kepala dan punggung. Lepuhan ini bersifat rapuh dan mengandung cairan berwarna kuning jernih hampir sama seperti gejala Herpes seperti yang Luvizhea.com sebutkan diatas. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak setiap bentol berisi cairan berarti infeksi Impetigo. Ada beberapa penyakit yang juga memiliki gejala bentol berisi cairan, termasuk Herpes Cold Sores, Cacar, Poison ivy, kulit alergi, Eksim, dan gigitan serangga sepeti tomcat.

Lalu apa bedanya Herpes atau Cacar dengan Impetigo atau Suleten ini? Jawabnya adalah secara garis besar dilihat dari penyebabnya. Herpes maupun cacar lebih disebabkan oleh Virus sedangkan Impetigo atau Suleten disebabkan oleh Bakteri atau Kuman.

Baca juga: Ternyata solar dapat mengobati Herpes.

Apakah Suleten ini bisa menular dan berbahaya?

Impetigo atau suleten ini pada umumnya banyak dialami oleh bayi maupun anak-anak berusia sampai dengan 5 tahun dan jarang terjadi pada orang dewasa. Impetigo atau suleten ini bersifat menular dan penularannya biasanya terjadi melalui kontak lansung dengan kulit yang terinfeksi atau bisa juga melalui media lain seperti handuk maupun mainan yang digunakan anak secara bersama-sama.

Suleten ini merupakan penyakit dalam kategori ringan, walaupun sebenarnya bakteri Streptococus juga dapat menyebabkan komplikasi Glomerulonefritis (peradangan ginjal), tetapi ini jarang terjadi, sehingga Ibu tidak perlu khawatir. Hanya saja penyakit ini akan semakin menjadi apabila kebersihan kurang terjaga, daya tahan tubuh rendah, adanya kelainan kulit lain, dan munculnya sumber penularan di sekitar lingkungan.

Bagaimana mengobati Suleten pada bayi secara efektif?

SuletenPerlu Ibu ketahui, Memang Impetigo Bulosa dapat menyerang Neonatus (bayi) berusia 10-14 hari. Karena penyebabnya adalah bekteri, dan bakteri bakteri bisa diatasi dengan Antibiotik, Linkomisin, Ampicillin, Amoksilin, Fenoksimetil Penisilin, Kloksasiklin atau Dikloksasilin. Namun bayi tersebut belum perlu untuk meminumkan Antibiotik atau obat dalam bentuk oral dalam mengatasi suleten ini, mengingat usianya yang masih sangat muda dibawah 1 (satu) bulan.

Ibu cukup memandikan bayi dengan air bersih yang telah dicampur dengan antiseptik dan melakukan pembersihan dengan lembut, ini sebenarnya sudah bisa diandalkan dalam melindungi dan menyembuhkan bayi dari Suleten yang dialaminya. Apabila ada yang mengatakan bahwa bayi yang mengalami Suleten tidak boleh mandi, itu tidak benar. Justu dengan menjaga kebersihan seperti mandi akan mempercepat proses penyembuhan karena bakteri akan terusir dan tidak dapat berkembang biak.

Ibu juga bisa memanfaatkan obat tradisional seperti kunyit yang dahulu banyak digunakan orangtua dalam mengobati gejala Suleten yang dialami oleh anaknya. Kunyit mengandung antiseptik (antibakteri), antijamur, antialergi alami yang tentunya aman digunakan dan bermanfaat dalam mengatasi Suleten ini. Caranya satu ruas kunyit bisa Ibu parut dan kemudian oleskan pada kulit yang mengalami suleten tersebut.

Atau Ibu juga bisa menggunakan serutan kayu secang (sepang) dan kayu bidara laut (doro putih) yang dicampurkan dengan air, kemudian digunakan untuk memandikan bayi yang terkena Suleten. Kayu secang kaya akan manfaat dan mengandung Brazilin, Alkaloid, Falvonoid, Saponin, Tanin, Fenil Propana dan Terpenoid, asam galat, Delta-a phellandrene, Oscimene, Resin dan Resorin. Sehingga kayu secang memiliki khasiat menghentikan pendarahan, pembersih darah, penawar racun, dan obat antiseptik alami . Karena tanaman ini mengandung senyawa anti bakteri dan bersifat anti koagulasi atau anti penggumpalan, maka kayu secang ini juga dapat digunakan sebagai obat diare, batuk dan dapat menyembuhkan luka. Sedangkan kayu biadara laut mengandung  Strychnine, Brucine, Tetrahydrostrychnine, Brucidine, Tetrahydrobrucine, Pseudostrychnine, Culubrine, Vomicine, Strychinicine, Loganin, Chlorogenic acid, Mannosan, Tanin,  Galactan. Sehingga membuat kayu ini bersifat mendinginkan atau menyegarkan,  anti radang, diafortik, analgesik serta memiliki rasa pahit. Untuk khasiatnya, sudah lama dipercaya sebagai pembangkit nafsu makan, mengatasi rematik (nyeri persendian), sakit perut, bisul (obat luar), kurap (obat luar), radang kulit bernanah (obat luar), melancarkan peredaran darah serta membersihkan darah.

Jadi, Impetigo bukanlah penyakit yang sulit diobati dan juga biasanya tidak menimbulkan bekas luka. Karena lecet yang ditimbulkan tidaklah dalam. Luka akibat bentol berisi cairan dan membuat kulit merah tersebut akan hilang dengan sendirinya dalam waktu dua minggu.

Baca juga: Bisakah TOH Tanda Lahir di hilangkan secara alami?

Bagikan ini ke:
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh LuviZhea.