BERANDA » PARENTING » Bagaimana cara tepat menangani diare pada bayi?

Bagaimana cara tepat menangani diare pada bayi?

| LuviZhea Chandra

Diare pada anakSebelumnya sudah pernah kita bahas cara ampuh mengatasi diare ‘mencret’ secara alami pada orang dewasa. Dimana seperti yang telah kita ketahui, penyebab diare pada orang dewasa biasanya berbeda dengan anak-anak, pada anak-anak kebanyakan disebabkan oleh virus, sedangkan pada orang dewasa lebih disebabkan oleh bakteri dan faktor lain. Tetapi secara umum diare disebabkan oleh faktor makanan misal alergi dan keracunan, cuaca, infeksi rotavirus, infeksi bakteri, parasit, jamur, pemakaiaan antibiotik, dan lain sebagainya hingga bisa juga disebabkan oleh faktor psikologis yaitu stres maupun sakit maag pada orang dewasa. Untuk penanganannyapun lebih mudah untuk diare pada orang dewasa dibandingkan dengan diare pada bayi atau balita, karena bayi lebih riskan terhadap obat-obatan anti diare dan belum dapat mengungkapkan apa yang dia rasakan, sehingga memerlukan perhatian yang lebih bagi si ibu.

Bayi yang baru lahir misalnya, sering membuang kotoran bahkan hampir terjadi setiap setelah makan dan kotoran bayi biasanya sangat lembut terutama jika bayi masih mendapat ASI eksklusif. Selain itu, kotoran bayi Anda dapat berubah tergantung apa yang telah dimakan oleh ibunya. Seiring waktu setelah bayi Anda mulai makan makanan padat, Anda akan menemukan bahwa feses bayi mulai memadat pula, tetapi biasanya berubah tergantung juga dari pola makannya. Dan belum tentu perubahan feses tersebut merupakan gejala dari diare. Jadi terkadang semua itu membuat kita binggung untuk membedakan, apakah bayi kita sedang menderita diare atau bukan? Jadi intinya, jika bayi buang air besar berubah dalam janngka waktu yang agak lama, Anda tidak perlu khawatir. Tetapi jika bayi Anda fesesnya tiba-tiba berubah dengan frekuensi waktu yang semakin dekat, maka Anda patut curiga.

Penyebab diare pada balita

Berikut Luvizhea.com berikan beberapa cara agar Anda lebih bisa mengenali jenis penyebab diare pada balita jika dilihat dari gejalanya:

1. Diare pada bayi karena infeksi bakteri

Bakteri seperti salmonella, shigella, staphylococcus, campylobacter atau E. Coli juga dapat menyebabkan diare pada bayi Anda. Jika bayi Anda mengalami infeksi bakteri ia mungkin akan mengalami diare berat disertai dengan kram darah dalam tinja dan demam. Pada keadaan ini bayi Anda bisa juga disertai muntah, mungkin bisa juga tidak muntah. Beberapa infeksi bakteri seperti E. coli dapat ditemukan pada daging matang dan sumber makanan lainnya.

2. Diare pada bayi dari infeksi virus

Beberapa virus seperti rotovirus, adenovirus, calicivirus, astrovirus dan influenza dapat menyebabkan diare serta muntah serta nyeri perut, demam, menggigil, dan sakit lainnya.

Perlu dicermati juga, jika diare hanya berupa air saja dan ampasnya sedikit, itu menunjukkan ke arah infeksi virus, sehingga tidak perlu antibiotik seperti yang diberikan pada penderita diare yang disebabkan oleh bakteri bakteri.

3. Diare pada bayi karena infeksi telinga

Dalam beberapa kasus, infeksi telinga yang mungkin di sebabkan karena bakteri atau virus dapat menjadi penyebab diare pada bayi. Jika hal ini terjadi, Anda juga dapat melihat bahwa bayi Anda rewel dan akan menarik-narik telinganya. Si kecil juga mungkin memiliki nafsu makan yang buruk dan biasanya disertai muntah. Bayi Anda kemungkinan juga akan merasa sangat kedinginan.

4. Diare pada bayi karena parasit

Infeksi parasit juga dapat menyebabkan diare. Giardiasis misalnya, disebabkan oleh parasit mikroskopis yang hidup dalam usus. Gejalanya sering buang angin, kembung, diare dan tinja berminyak. Jenis infeksi ini mudah menyebar dalam situasi di kelompok perawatan seperti penitipan bayi dan lokasi bermain.

Selain itu seperti penyakit disentri juga disebabkan parasit yaitu amuba dengan ciri-ciri fesesnya bau sekali, ada lendir, darah, anaknya merasa sakit sekali saat mau BAB.

5. Diare pada bayi karena minum jus buah

Terlalu banyak minum jus terutama jus buah yang mengandung kadar sorbitol dan tinggi fruktosa atau memiliki rasa manis yang berlebih, dapat mengganggu perut bayi dan menyebabkan bayi sakit perut. Beberapa dokter merekomendasikan Anda untuk tidak memberikan jus buah kepada bayi sebelum usianya 6 bulan. Setelah enam bulan keatas mungkin bisa di berikan dengan porsi yang tidak terlalu banyak.

6. Diare pada bayi karena alergi makanan

Dalam sistem kekebalan tubuh bayi yang merespon protein makanan, biasanya tidak berbahaya. Gejalanya mungkin termasuk diare, kembung, sakit perut dan darah dalam tinja. Dalam kasus yang lebih parah, alergi makanan juga dapat menyebabkan gatal, ruam, pembengkakan dan kesulitan bernapas.

Baca juga: Mencegah alergi dari sejak dini.

Protein susu juga termasuk alergen makanan yang paling umum ditemukan pada bayi. Selain itu, Intoleransi laktosa juga dapat menyebabkan gejala seperti diare, kram perut, kembung dan gas perut. Gejala ini terjadi biasanya mulai dari setengah jam sampai dua jam setelah mengkonsumsi produk susu formula.

Baca juga: Cara memilih susu formula yang terbaik untuk bayi.

7. Diare pada bayi karena keracunan

Jika bayi Anda mengalami diare dan muntah-muntah dan Anda pikir dia mungkin telah menelan beberapa macam barang bukan makanan seperti obat, segera hubungi rumah sakit atau dokter secepatnya.

Cara paling mudah adalah dengan mencuci tangan, anak harus diajarkan untuk mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan, sedangkan pada bayi sering dilap tangannya. Jaga kebersihan makanan minuman serta peralatan makan bayi, berikan ASI eksklusif minimal 6 bulan karena ASI mengandung immunoglobulin untuk daya tahan tubuh bayi. Selain itu Imunisasi campak juga penting, karena imunisasi ini masuk dalam imunisasi dasar yang wajib diberikan pada bayi, seperti yang kita ketahui campak bisa menyebabkan diare dengan bersarang di mukosa. Jadi Intinya selalu menjaga kebersihan badan maupun lingkungan sekitar.

Bagaimana cara mengobati balita yang mengalami diare?

Cara mengatasi diare pada balita yang paling tepat adalah sering-sering memberinya cairan agar anak tidak mengalami dehidrasi, misal dengan tetap memberikan bayi Anda ASI dan cairan lainnya. Bila perlu berikan oralit, tetapi jangan memberikan minum oralit untuk dosis dewasa, karena selain osmolaritasnya tinggi, kandungan natrium yang terkandung juga tinggi, hal ini yang biasanya juga pemicu diare pada anak. Selain itu, hindari minuman seperti air gula dan jus buah murni, karena minuman tersebut mengandung gula bisa membuat keadaan diare lebih buruk.

Jika anak sudah makan makanan padat, berikan makanan yang merupakan kombinasi serat dan lemak seperti pisang, kentang, saus apel atau sereal beras. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi lemak dan serat secara bersamaan akan membuat feses menjadi lebih padat. Selain itu, usahakan bayi Anda untuk menghindari makanan apapun yang dapat memperburuk diare seperti makanan berminyak, makanan yang tinggi serat, Susu formula dan keju, atau Panganan semacam kue.

Tidak hanya makanan pada bayi saja yang perlu diperhatikan, Ibu yang menyusui juga perlu untuk mengatur pola makannya, tidak lagi mengonsumsi makanan atau obat-obatan yang dicurigai sebagai pemicu diare pada si kecil.

Yogurt yang mengandung acidophilus memiliki manfaat plus karena bakteri baik ini membantu lancarnya pencernaan serta membunuh bakteri jahat dalam tubuh. Tetapi jangan memberikan yogurt ini, jika belum pernah diberikan sebelumnya, bisa jadi, pencernaannya sensitif terhadap yogurt.

Bila diare sudah berlangsung 24 jam apalagi disertai muntah ketika makan dan minum, segera bawa bayi Anda ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk menghindari dehidrasi. Diare berbahaya jika menyebabkan dehidrasi. Kekurangan cairan dan elektrolit menimbulkan gangguan irama jantung dan bisa menurunkan kesadaran sampai menyebabkan meninggal dunia, jika dehidrasi tidak segera diatasi. Berikut tanda-tanda dehidrasi pada bayi :

  • Tidak buang air kecil dalam waktu 6 jam dan urin berwarna keruh.
  • Rewel
  • Mulut kering
  • Saat menangis tidak mengeluarkan air mata
  • Lemas lesu dan sering mengantuk diluar kebiasaan
  • ubun-ubun cekung atau Sunken soft spot
  • Kulit tidak elastis dimana kulit tidak langsung kembali setelah ditekan atau dicubit.

Selain karena adanya tanda-tanda dehidrasi pada anak diatas, bayi Anda juga harus segera dibawa ke dokter jika:

  • Diare terjadi lebih dari 4 hari walaupun bayi tidak menunjukkan gejala dehidrasi atau gejala berbahaya lainnya.
  • Panas demam lebih dari 38,8 derajat celcius
  • Nyeri perut yang di ungkapkan anak bila si kecil sudah bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya.
  • Darah atau nanah dalam feses, atau feses berwarna hitam, putih atau merah

Pada bayi dengan diare berat yang mengalami dehidrasi, harus mendapatkan cairan infus (intravena/IV). Kebanyakan dokter tidak menganjurkan pemberian obat anti diare pada bayi di bawah usia 1 tahun. Namun, dokter bisa saja meresepkan obat yang boleh diberikan hanya absorben seperti norit, golongan smectite yang berfungsi menyerap racun, antibiotik atau obat anti parasit bila diare terebut diketahui disebabkan oleh infeksi bakteri, atau parasit. Antibiotik inipun biasanya diberikan hanya pada kasus yang terbukti adanya infeksi bakteri misalnya penyakit kolera yang disebabkan Vibrio cholera.

Bagikan ini ke:
Silahkan klik
untuk selalu terhubung dengan kami via Facebook, sehingga apabila ada pertanyaan dari Anda disini, akan dijawab langsung oleh LuviZhea.